Tradisi Pasca Nyepi, Benarkah Ada Festival Ciuman Massal?


Peluang jadi Local Host bersama Lokalpedia

Ngenetyuk.com, Infosiana – Omed-omedan atau tradisi ciuman massal pasca hari raya nyepi (17/3/2018). Festival Omed-omedan sendiri merupakan warisan budaya di Bali yang masih dilestarikan hingga sekarang.

Festival ciuman massal ala anak muda Bali. Tradisi ciuman massal ini dilakukan oleh para pemuda dan pemudi di Banjar Kaja, Sesetan, Denpasar.

Tradisi Pasca Nyepi, Benarkah Ada Festival Ciuman Massal?
Tradisi Pasca Nyepi, Benarkah Ada Festival Ciuman Massal?

Selain itu, Omed Omedan merupakan tradisi yang dilaksanakan setiap tahun untuk melestarikan warisan leluhur. Omed-omedan dalam bahasa Indonesia memiliki arti tarik-menarik.

Pada mulanya, tradisi ini berlangsung pada saat hari raya Nyepi dan dilakukan di Puri Oka. Puri Oka sendiri merupakan sebuah kerajaan kecil pada zaman penjajahan Belanda.

Menurut cerita, raja Puri Oka, Ida Bhatara Kompiang, sedang sakit keras dan tidak kunjung sembuh sekali pun sudah berobat ke berbagai tabib. Pada saat itu, penduduk desa Sesetan dihimbau untuk tidak melakukan keributan di depan Puri. Namun, sehari setelah hari raya Nyepi, masyarakat kerajaan setempat menggelar permainan Omed-omedan dan suasana sempat riuh karena antusias para pemuda dan pemudi sehingga memicu kemarahan Raja Puri Oka.

Tradisi Pasca Nyepi, Benarkah Ada Festival Ciuman Massal?
Tradisi Pasca Nyepi, Benarkah Ada Festival Ciuman Massal?

Ketika Raja Puri Oka keluar untuk memarahi warga, beliau mendadak tidak lagi merasakan sakit dan sembuh secara seketika. Raja merasa mendapatkan mukjizat setelah melihat adegan rangkul-merangkul para pemuda dan pemudi yang membaur. Raja kemudian memberikan titah untuk menggelar ritual Omed-omedan setahun sekali pada hari Ngembak Geni (sehari setelah Hari Raya Nyepi).

Pemerintah Belanda pada saat itu sempat melarang digelarnya ritual tersebut sehingga terpaksa dihentikan. Namun, saat Omed-omedan tidak digelar, terdapat dua ekor babi besar yang berkelahi hingga berdarah di tempat dilaksanakan Omed-omedan. Karena dianggap sebagai pertanda buruk, akhirnya setelah meminta petunjuk leluhur, tradisi ini kembali digelar.


Like it? Share with your friends!

Adriana

0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *