Inilah Profesor yang Mengusulkan Harga Rokok Rp50 Ribu?

Di balik gaduh wacana kenaikan rokok 50 ribu per bungkus, ternyata sedikit orang yang tahu siapa sebenarnya yang mengusulkan kenaikan tersebut.


Peluang jadi Local Host bersama Lokalpedia
Harga rokok tengah dibicarakan masyarakat lantaran mencapai Rp50 ribu. (ilustrasi: i
stimewa)

NgenetYuk! Infosiana – Belum lagi harga rokok di tanah air benar benar dinaikan harganya menjadi Rp50 ribu per bungkus, publik sudah ramai membicarakan persoalan ini. Bahkan segelintir orang ada pula yang menyudutkan pemerintahan Jokowi karena mereka anggap kena

ikan tersebut akan membebani masyarakat.

Tetapi tahukan siapa sebenarnya orang yang mengusulkan kenaikan harga itu? Berdasarkan hasil penelusuran NgenetYuk! dari berbagai sumber, ternyata orang yang mengusulkan kenaikan harga rokok itu adalah Hasbullah Thabrany. Lewat h

asil studinya itu Hasbullah Thabrany yang menjabat sebagai Kepala Pusat Kajian Ekonomi dan Kebijakan Kesehatan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, mengungkap kemungkinan perokok akan berhenti merokok jika harganya dinaikkan dua kali lipat dari harga normal. Hasilnya 80 persen bukan

perokok setuju jika harga rokok dinaikkan.

Prof. dr. Hasbullah Thabrany,
MPH, Dr.PH, orang yang mengusulkan harga rokok naik berkali lipat. (istimewa)

Terkait hasil studi Hasbullah Thabrany tersebut, pemerintah melalui Kementerian Keuangan langsung meresponnya. Menteri Keuangan Sri Mulyani menegaskan di hadapan para awak media, bahwa sampai detik ini pemerintah belum mengeluarkan aturan baru terkait harga jual eceran maupun tarif cukai rokok. Tarif cukai rokok diketahui menjadi salah satu ornamen penting dalam penentuan harga rokok.

“Kemenkeu belum ada aturan terbaru mengenai harga jual eceran dan tarif cukai rokok sampai hari ini,” katanya saat Konferensi Pers Tax Amnesty di kantor Kemenkeu, Jakarta, Senin (22/8/2016).

Ia mengaku pemerintah sangat memahami studi dari Kepala Pusat Kajian Ekonomi dan Kebijakan Kesehatan Universitas Indonesia. Hasil studi ini menunjukkan sensitivitas atas kenaikan harga rokok terhadap konsumsi rokok.

Namun dijelaskan Sri Mulyani, Kemenkeu akan mengeluarkan kebijakan mengenai harga jual eceran dan tarif cukai rokok dengan memperhatikan Undang-undang (UU) Cukai, termasuk dalam rangka Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2017.

“Tapi sampai saat ini (kebijakan harga jual eceran dan tarif cukai rokok) masih dalam proses konsultasi dengan berbagai pihak. Untuk nantinya bisa diputuskan sebelum APBN 2017 dimulai,” ujar Sri Mulyani.

Menteri Keuangan Sri Mulyani membicarakan tentang cukai rokok. Cukai rokok menjadi ornamen penting dalam penentuan harga rokok. (istimewa)

Lantas siapa sebenarnya Prof. dr. Hasbullah Thabrany, MPH, Dr.PH? Berikut NgenetYuk! tampilkan profilnya dari berbagai sumber.

Prof. dr. Hasbullah Thabrany, MPH, Dr.PH, sosok yang pertama kali mengusulkan harga rokok hingga berlipat-lipat. (istimewa)

Beliau memfokuskan keahliannya pada Bidang asuransi kesehatan dan jaminan sosial. Sekembalinya dari menuntut ilmu kebijakan kesehatan, kekhususan ekonomi kesehatan, ia menyadari bahwa ilmu asuransi kesehatan sangat tidak difahami di Indonesia. Ia memulai menyebarkan ilmu asuransi kesehatan dengan menawarkan kuliah asuransi kesehatan dan kursus asuransi kesehatan dalam rangka pendidikan profesi menggunakan modul-modul pendidikan profesi dari American Health Insurance Plans. Setelah itu ia mendirikan organisasi PAMJAKI (Perhimpunan Ahli Manajemen Jaminan dan Asuransi Kesehatan Indonesia) tahun 1998 di mana ia menjadi Ketua Umum PAMJAKI sampai kini. 

Di tahun 2002 ia bergabung dalam Tim Sistem Jaminan Sosial Nasional yang dibentuk oleh Presiden Megawati untuk menyusun cetak biru sistem jaminan sosial di Indonesia yang kini telah diwujudkan dalam UU Sistem Jaminan Sosial Nasional. Sebelumnya ia diusulkan oleh Menko Kesra untuk menjadi Ketua Dewan Jaminan Sosial Nasional, semacam Majelis Wali Amanat untuk sistem jaminan sosial di Indoneisa, mewakili Depkes. Namun, ketika Depkes mengubah program Askeskin, yang lebih sejalan dan sesuai UU SJSN menjadi Jamkesmas yang lebih jauh dari UU SJSN, maka ia tidak lagi diusulkan Depkes. Ia menyatakan bahwa Jamkesmas tidak sesuai dengan UU SJSN, meskipun untuk rakyat memang tetap bermanfaat. Ia berpendirian bahwa seharusnya pejabat publik mentaati dan menjalankan UU yang telah ada, dan bukan mencari jalannya sendiri. Mimpinya adalah mewujudkan agar setiap orang di Indonesia memiliki asuransi kesehatan dan pensiun.

Jack Bhull, begitu ia dipanggil oleh teman-temannya di FKUI, menamatkan pendidikan dokter tahun 1980. Setahun kemudian ia melanjutkan pendidikan di University of California di Berkeley, Amerika Serikat. Gelar Master of Public Health dan Doctor of Public Health diraihnya dari universitas terkemuka di dunia tersebut. Ketika belajar di Berkeley, ia juga mengambil pendidikan profesi dari Health Insurance Association of America dan berkerja pada Rand Corporation di Santa Monica, California, suatu lembaga penelitian bergengsi di dunia. Disertasinya berjudul Health Insurance and the Demand for Medical Care in Indonesia. Menyelesaikan pendidikannya ia mengikuti banyak kursus singkat dalam bidang social insurance dan social security di beberapa Negara seperti di Jerman, Filipina, dan Muangtai, yang diyakininya sebagai sistem yang paling cocok untuk Indonesia yang memungkinkannya terwujud keadilan sosial, equity egaliter. Ia telah meninjau dan mempelajari sistem asuransi kesehatan nasional di Amerika, Kanada, Belanda, Jerman, Jepang, Korea, Taiwan, Filipina, dan Muangtai. Ia memperjuangkan keadilan ini dengan prinsip “setiap orang harus mendapatkan pelayanan medis, ketika sakit, sesuai dengan kebutuhan medisnya terlepas dari status sosial-ekonomi, ras, atau aliran politik”

Ia telah menulis banyak artikel di dalam jurnal ilmiah maupun surat kabar atau majalah nasional tentang pelayanan kesehatan dan asuransi kesehatan. Ia telah menulis buku atau chapter dalam buku “Rahasia Sukses Balajar (1993)”, “Introduksi Asuransi Kesehatan (1996)”, “Rasional dan perhitungan pembayaran kapitasi (1996”, “Asuransi Kesehatan: Pilihan Kebijakan Nasional (1998)”Konsep dan Cara Pembayaran

Kapitasi (1999)”, “Asuransi Kesehatan Indonesia (2000)”, “Health Insurance System in Indonesia (2004)”, “Pendanaan Kesehatan dan Alternatif Mobilisasi Dana di Indonesia (2005)”, “Social Health Insurance: Case Study in Indonesia (2005)”, dan kini sedang menyelesaikan buku “Asuransi Kesehatan Nasional”. Puluhan karya ilmiah telah diterbitkannya di dalam jurnal nasional dan internasional.

Jadi itulah sekilah tentang profil siapa orang yang pertama kali mengusulkan harga rokok hingga Rp50 ribu.


Like it? Share with your friends!

alamsyah

0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *