Tangisan Jessica dan Tangisan Terdakwa Lain Saat Bacakan Pledoi

Jessica Kumala Wongso menangis saat bacakan Pledoi di hadapan majelis hakim. Tangisan Jessica juga pernah bersimbah di pelupuk mata terdakwa lain saat mereka membacakan nota pembelaan.


Peluang jadi Local Host bersama Lokalpedia
Jesica Kumala Wongso membacakan sendiri di hadapan majelis hakim Pengadilan Negeri J
akarta Pusat. Sejak bagian awal pembelaannya dibacakan, Jessica sudah langsung menangis. Dia pun bersumpah dirinya bukan pembunuh Wayan Mirna Salihin. (sumber : istimewa)

NgenetYuk! Infosiana – Rabu (12/10), terdakwa pembunuh Wayan Mirna Salihin, Jesica Kumala Wongso m

embacakan sendiri predoi (nota pembelaan) di hadapan majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

Sejak bagian awal pembelaannya dibacakan, Jessica sudah langsung menangis. Dia pun bersumpah dirinya bukan pembunuh Wayan Mirna Salihin.

“Saya bersumpah saya bukan pembunuh!” teg

as Jessica dalam suara terisak seperti dikutip Detik

Ruang sidang penuh sesak oleh pengunjung yang penasaran dengan pembelaan Jessica. Berbeda dari biasanya, suasana sidang kali ini berlangsung begitu hening. Padahal biasanya ada saja celetukan dari pengunjung atas apa yang terjadi di persidan

gan. Majelis hakim juga kerap menegur pengunjung karena membuat gaduh. Namun, tangisan Jessica membuat ruang sidang menjadi sunyi.

Menangis saat membacakan pledoi rupanya bukan dilakukan Jessica saja, karena dari penulusuran NgenetYuk! cukup banyak terdakwa lain dalam kasus kasus besar juga me

nangis ketika mereka membacakan nota pembelaannya. Siapa sajakah mereka? Berikut ulasan khusus NgenetYuk!

Margriet (Terdakwa dalam kasus pembunuhan Engeline)

Margriet (Terdakwa dalam kasus pembunuhan Engeline)
Margriet C Megawe, terdakwa dalam kasus pembunuhan Engeline C Megawe, tak bisa menahan tangisannya ketika membacakan sendiri pledoinya. Dalam beberapa lembar kertas itu, Margriet membacakan pledoinya dan mengaku tidak membunuh Engeline. (sumber : istimewa)

Tak berbeda dengan Jessica Kumala Wongso, Margriet C Megawe, terdakwa dalam kasus pembunuhan Engeline C Megawe, juga tak bisa menahan tangisannya ketika membacakan sendiri pledoinya.

Dalam beberapa lembar kertas itu, Margriet membacakan pledoinya dan mengaku tidak membunuh Engeline. 

Dia berdiri mengenakan baju putih dengan blazer berwarna merah muda dan celana ‎panjang hitam.

Dengan memakai kaca mata dia terisak membacakan pledoinya tersebut. Dan isi pledoinya pun sama persis dengan Jessica. Ia mengaku tidak membunuh Engeline yang merupakan anaknya sendiri.

“Saya tidak membunuh anak saya sendiri, dan proses sidang ini membuat saya cukup lelah menghadapinya,” ucapnya, Senin (15/2/2016).

M. Samhudi (Guru SD cubit muridnya)

M. Samhudi (Guru SD cubit muridnya)
Samhudi, guru yang didakwa menganiaya (mencubit) siswanya mengaku, dizalimi dalam kasus ini. Ada tujuan membunuh kariernya sebagai guru yang sudah digeluti selama 24 tahun. (sumber : istimewa)

M Samhudi (46) guru yang didakwa menganiaya (mencubit) siswanya menangis saat membacakan pledoi (pembelaan) di Pengadilan Negeri (PN) Sidoarjo kemarin. Guru SMP Raden Rahmat, Balongbendo, ini tidak kuasa saat diberi kesempatan tersebut. Di depan tiga majelis hakim, Samhudi meminta agar dibebaskan dari tuntutan jaksa penuntut umum (JPU). Dia membantah telah melakukan kekerasan terhadap siswanya, SS, pada 3 Februari 2016. 

“Sebagai seorang guru apakah mungkin melakukan kekerasan kepada anak didiknya yang setiap hari bertemu dalam proses belajar-mengajar?” ujar Samhudi. Dia menjelaskan saat itu hanya ingin anak-anak didiknya melaksanakan salat duha yang menjadi kewajiban siswa setiap pagi. Tidak ada niat sedikit pun mencederai siswanya saat itu.

Karena itulah, Samhudi mengaku dizalimi dalam kasus ini. Ada tujuan membunuh kariernya sebagai guru yang sudah digeluti selama 24 tahun. Dalam pembelaannya, penasihat hukum terdakwa, Priyo Utomo dan Saheri, mengungkapkan sejumlah poin pembelaan kepada majelis hakim. Mereka menilai tuntutan yang disampaikan jaksa kabur. 

Ratu Atut Chosiyah (Terdakwa kasus suap sengketa pilkada Lebak, Banten)

Ratu Atut Chosiyah (Terdakwa kasus suap sengketa pilkada Lebak, Banten)
Ratu Atut Chosiyah menyatakan, tidak ada sangkut-pautnya dengan kasus ini. Dia mengaku, keterlibatannya dalam kasus dugaan suap pengurusan sengketa Pilkada Kabupaten Lebak 2013 di Mahkamah Konstitusi (MK) hanya suatu kebetulan saja. (sumber : istimewa)

Gubernur Banten yang di non aktifkan, Ratu Atut Chosiyah membacakan nota pembelaan atau pledoi atas tuntutan jaksa penuntut umum (JPU). Dalam pembelaannya, Atut mengaku kaget mendapat ‘hadiah’ berupa tuntutan pidana 10 tahun penjara dan pencabutan hak politik dari jaksa.

Sembari menangis, Atut menyatakan tuntutan itu tidak adil. Wanita berkerudung tersebut merasa tuntutan itu tak sesuai dengan keterangan saksi dan fakta persidangan.

“Saya merasa diperlakukan tidak adil, karena tuntutan jaksa penuntut umum tidak sesuai dengan saksi dan fakta persidangan,” kata Atut di Pengadilan Negeri Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Jakarta, Kamis (21/8/2014).

Atut menyatakan, tidak ada sangkut-pautnya dengan kasus ini. Dia mengaku, keterlibatannya dalam kasus dugaan suap pengurusan sengketa Pilkada Kabupaten Lebak 2013 di Mahkamah Konstitusi (MK) hanya suatu kebetulan saja.

“Saya tidak berniat terlibat dalam urusan yang sejak awal saya sudah meminta supaya tidak dilakukan,” ujar Atut.

Jaksa, menurut Atut, telah keliru dalam menafsir sejumlah hal. Khususnya, terkait pertemuannya dengan mantan Ketua MK M Akil Mochtar di Singapura, menghadiri pertemuan yang digagas mantan Calon Bupati Lebak dan Calon Wakil Bupati Lebak Amir Hamzah-Kasmin, dan menemui advokat Susi Tur Andayani.

“Saya hanya berada di tempat dan waktu yang salah,” tutur Atut.

Ahmad Fathanah (Terdakwa Kasus suap impor daging sapi)

Ahmad Fathanah (Terdakwa Kasus suap impor daging sapi)
Dalam pledoinya, Fathanah curhat bahwa apa yang menimpanya diluar kemampuannya sebagai manusia biasa. Karenanya dia meminta pertolongan dari Allah SWT. Dia menyatakan bahwa dirinya akan bersabar dalam menghadapi tuntutan 17,5 tahun penjara yang dibacakan Jaksa KPK sebelumnya. (sumber : istimewa)

Terdakwa dugaan suap dan pencucian uang pengurusan kuota impor daging sapi, Ahmad Fathanah membacakan nota pembelaan alias pledoi dalam sidang lanjutannya di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Jakarta, Senin malam (28/10/2013).

Pledoi pribadinya di berikan judul “Hukuman yang Dipaksakan”. Pledoi itu berjumlah sekitar 18 halaman. Pantauan Rakyat Merdeka Online, Fathanah terlihat berdiri membacakan bait demi bait pledoinya.

Mengawali pledoinya, Fathanah curhat bahwa apa yang menimpanya saat ini diluar kemampuannya sebagai manusia biasa. Karenanya dia meminta pertolongan dari Allah SWT. Dia menyatakan bahwa dirinya akan bersabar dalam menghadapi tuntutan 17,5 tahun penjara yang dibacakan Jaksa KPK sebelumnya.

“Saya akan bersabar karena kesabaran menentukan kemenangan. Karena sabar membawa sesorang mendapatkan kemenangan,” kata Fathanah.

Nada suaranya mendadak gemetar. Fathanah tak mampu menahan tangis. Sambil terisak dia melanjutkan, bahwa peristiwa yang menimpanya sangat menyakitkan. Perkara yang menjeratnya saat ini diakuinya juga merupakan ujian iman dari Tuhan.

“Ayat 186 al-Imran di Alquran berbunyi kamu akan sungguh-sunguh diuji dan dari orang-orang yang menyekutukan Allah,” terang dia.

“Demikian saya ungkapkan semua ini rencana Allah bahkan saat ini saya dipenjara atas kehendak-NYA. Dalam pledoi ini saya ingin mendapatkan keadilan. Semoga nantinya dapat menjadi pertimbangan hukum,” sambung Fathanah masih dengan nada terisak.

Angelina Sondakh (Terdakwa kasus suap dalam pengadaan anggaran untuk Kemenpora dan Kemendiknas)

Angelina Sondakh (Terdakwa kasus suap dalam pengadaan anggaran untuk Kemenpora dan Kemendiknas)
Angelina Sondakh, meneteskan air mata saat membacakan pledoi atau pembelaan. Ia mempertanyakan, kenapa dituntut 12 tahun penjara dalam kasus yang sudah dibantahnya ikut serta terlibat. (sumber : istimewa)

Terdakwa kasus suap dalam pengadaan anggaran untuk Kemenpora dan Kemendiknas, Angelina Sondakh, meneteskan air mata saat membacakan pledoi atau pembelaan. Angie panggilan akrab Angelina Sondakh, mempertanyakan, kenapa dia dituntut 12 tahun penjara dalam kasus yang sudah dibantahnya ikut serta terlibat.

“Tuntutan itu seperti ledakan petir di siang bolong. Orang yang tidak sepenuhnya bersalah atau tidak bersalah harus menanggung beban yang tidak seharusnya ia peroleh,” kata Angie sambil menangis tersedu-sedu, di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta Selatan, Rabu (3/1/2013).   Angie juga berkeberatan dituntut membayar uang pengganti senilai Rp32 miliar sesuai dengan uang yang diterimanya dari perusahaan milik Muhammad Nazaruddin, Permai Group. Menurutnya, tidak ada bukti yang secara jelas menunjukkan bahwa ia menerima uang tersebut.   

“Saya tidak pernah menerima apa yang dituduhkan. Semua rekening yag telah diperiksa jumlahnya jauh dari dituduhkan. Apa yang harus saya kembalikan. Saya harap majelis hakim jeli melihat tuduhan pada saya. Bagaimana saya peroleh uang, kapan dan dari siapa. Semua yang dituduhkan pada saya tidak ada buktinya,” papar Angie.

Mandra (terdakwa kasus dugaan korupsi kontrak pengadaan acara siap siar di TVRI)

Mandra (terdakwa kasus dugaan korupsi kontrak pengadaan acara siap siar di TVRI)
Jaksa menuntut Mandra satu tahun dan enam bulan penjara karena didakwa merugikan keuangan negara hingga Rp 12,039 miliar karena dalam penjualan film dengan Lembaga Penyiaran Publik Televisi Republik Indonesia (LPP TVRI). (sumber : istimewa)

Direktur PT Viandra Production yang juga artis, Mandra Naih menangis saat membacakan pledoi atau pembelaan pada majelis hakim di ruang sidang tipikor. Mandra mengaku dirinya sesak di bui selama 9 bulan.

“Saya sudah merasakan sesaknya di penjara 9 bulan dan saya berdoa semoga saya tidak merasakan penjara. Perih dan sedih,” ucap Mandra lirih sambil menangis di hadapan majelis hakim di ruang sidang tipikor, Jakarta, Kamis (10/12/2015).

Dia juga bersyukur kepada para pendukungnya tetap mendukungnya dalam keadaan apapun. “Namun saya bersyukur masih banyak orang-orang yang mendukung saya, terima kasih,” tambahnya.

Kemudian, ia juga menegaskan, walaupun dirinya dipenjara masih tetap sabar.

“Yang heran dengan saya. Melihat saya di penjara padahal kata mereka saya dikerjain dan ditipu tapi ya beginilah nasib saya, saya harus ikhlas. Walaupun saya tidak melakukan korupsi,” tandasnya.

Diketahui, Jaksa menuntut Mandra satu tahun dan enam bulan penjara karena didakwa merugikan keuangan negara hingga Rp 12,039 miliar karena dalam penjualan film dengan Lembaga Penyiaran Publik Televisi Republik Indonesia (LPP TVRI).


Like it? Share with your friends!

alamsyah

0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *