Jangan Paksa Aku Berhijab, Umi (Bagian 1)

Berhijab bagi muslimah adalah sebuah kewajiban. Namun bagaimana jika belum diberikan hidayah? Cerpen Webseries episode pertama ini akan mengurai kisahnya. Yuk, dibaca sambil dengarkan lagu Ungu 'Para Pencari-MU'.


Peluang jadi Local Host bersama Lokalpedia

NgenetYuk! Fiksi – Rasanya malas kalau pulang sekolah. Bukan malas menyentuh rumah, tapi malas mendengarkan ocehan dan ceramah dari Umi. Apalagi kalau tidak memintaku s

egera mengenakan hijab.

“Assalamualaikum,” ucapku sambil membuka pintu.

“Walaikumsalam warrohmatullohi wabarakatuh,” ujar suara lembut dari dalam rumah menjawab salam dengan lengkap.

Umi kemudian menghampiriku yang masih berada di ruang tamu.

“Alhamdulillah, kamu sudah

pulang nak. Sudah cepat sana ganti baju nanti bantu Umi di dapur ya. Ini Umi lagi persiapkan masakan spesial untuk buka puasa nanti. Sepupu kamu kan juga mau datang, sama tante Susi, mau buka puasa di rumah katanya,” ujar Umi.

Setelah mencium tangan Umi, aku kemudian buru-buru naik ke lantai dua. Kamarku memang di lantai dua. Setelah masuk, aku kemudian membanting tubuhku ke kasur. Mataku tertuju pada sebuah foto keluarga yang terpaku di dinding. Terlihat aku, Umi dan almarhum Abi.

Abi-ku baru dua bulan lalu wafat akibat sakit komplikasi yang dideritanya. Abi wafat setelah berjuang melawan hepatitis selama hampir satu tahun. Masih teringat dengan jelas, aku dekat sekali dengan Abi. Mungkin karena aku anak satu-satunya, perempuan pula. Abi tidak pernah memaksakan apapun kepadaku. Ah, aku rindu pada Abi.

“Aisyah! Sudah ganti baju?” teriak Umi dari lantai bawah.

Meski tingkat dua, tapi rumahku tidak terlalu besar. Di bawah hanya ada satu kamar dan di atas ada dua kamar. Ukurannya pun standar sekali, tidak terlalu besar.

“Iya Umi, sebentar Aisyah Salat dulu sekalian,” jawabku.

ecil2013.0rg

Di dapur, aku sedang membantu Umi mengiris bawang merah, bombai dan putih. Nah, tapi aku merasa mulai terganggu oleh kalimat-kalimat yang diucapkan Umi.

“Jadi, kapan kamu siap berhijab? Umi rencananya mau belikan kamu beberapa busana muslimah lho. Pakai hijabnya yang syar’i ya. Tenang saja, kamu masih bisa gaul kok dengan hijab syar’i,” ujar Umi.

“Jreng! Bener kan, itu lagi yang dibicarakan,” gumamku.

Aku cuma bisa terdiam. Sementara Umi sepertinya belum puas dengan omongannya yang tiada bosan disampaikan usai abi wafat, sehingga ia pun melanjutkan lagi.

“Aisyah, kamu tahu kan, menutup aurat itu diwajibkan agama. Apalagi kamu anak perempuan, anak perempuan satu-satunya Umi dan abi. Dari kecil kamu sudah Umi dan abi ajarkan agama. Tahu kan, kewajiban itu diperintahkan agama dalam surat…,” belum selesai Umi menjelaskan, aku langsung melempar bawang yang sedang aku pegang.

“Aisyah tahu Umi, tapi jangan paksa Aisyah untuk berhijab sekarang,” ujarku dengan nada sedikit tinggi dan kemudian ngeloyor pergi.

YouTube

Di kamar, dalam rebahan, aku menarik napas panjang. Apa yang Umi bilang itu semuanya benar. Aku tahu, sebagai seorang perempuan yang sudah berusia seperti aku ini, wajib untuk menutup aurat, mengenakan busana muslimah dan hijab tentunya. Aku tahu semua dan aku belajar itu. Tapi aku belum siap. Aku masih ingin bermain, masih ingin blusukan ke tempat-tempat keriaan malam. Aku tahu, selain menjalankan perintah agama, Umi juga takut dengan pergaulanku dan ingin agar aku membatasinya dengan berbusana muslimah.

“Aku ini masih muda, masih punya banyak harapan. Masih ingin melihat dunia ini lebih dalam lagi. Aku bisa jaga diri kok, Umi enggak perlu khawatir,” gumamku di depan cermin.

Kejadian di dapur aku yakin telah menyakiti hati Umi, namun entah kenapa, Umi sepertinya tidak ingin memperpanjangnya.

“Aisyah, udah di kamarnya, yuk bantuin Umi lagi,” teriak Umi dari lantai satu.

Dengan gontai, aku kemudian turun ke dapur. Aku mengambil beberapa bumbu dapur yang diminta Umi. Sebenarnya hari itu aku ada acara buka puasa bersama teman-temanku, tapi ya karena di rumah mau ada sepupuku, aku sepertinya membatalkan hadir di acara buka bareng. Aku mengambil ponsel dan mengirim beberapa pesan ke Anita, temanku.

***

Aida sepupuku, seusia denganku dan sudah hampir setahun berhijab, sejak kelas 2 SMA. Dahulu sebelum berhijab, aku dekat banget sama Aida. Kemana-mana selalu aku ajak dia, bahkan pernah kita dugem bareng, Namun semuanya berubah ketika Aida memutuskan untuk berhijab. Aida itu anak satu-satunya dari Tante Susi, adik Abiku. Ayah Aida kerja di luar negeri dan baru bisa pulang satu tahun sekali, biasanya jika Lebaran atau tahun baru, tergantung.

“Wah kamu cantik sekali, hijabnya gaul juga ya tapi tetap tertutup,” puji ibuku di meja makan ketika melihat Aida.

“Ah tante bisa saja. Meski berhijab, aku sering mengikuti trend lho tante, nah ini lagi trend nih, hijab ala Laudya Cinthya Bella,” ujar Aida.

Emang sih, dengan corak warna yang lebih muda, busana dan hijab Aida lebih mempercantik pemakainya dan tidak kelihatan kolot.

“Iya nih Sar, Aku malah suka disodorin model-model terkini busana muslimah buat ibu-ibu,” ujar Tante Susi sambil tertawa.

“Yah, nanti mau sih dicoba, biar Mas Arman makin pangling,” ujarnya lagi.

“Nah, kamu kapan pakai hijab Aisyah?” Tanya Tante Susi sambil melirik kepadaku. Sejurus kemudian, Umi memandang Tante Susi kemudian memandangku.

“Yah, nanti Tante, belum terima hidayah,” jawabku sekenanya.

“Enggak apa-apa Aisyah, nanti juga kamu memahami kok kenapa harus mengenakan hijab. Kalau mau tanya-tanya tentang trend hijab dan busana muslimah, call me ya,” ujar Aida memecah ketegangan suasana. Kemudian tak berapa lama, kumandang azan maghrib pun menggema. Waktunya berbuka puasa.

YouTube

Di sekolah, seperti biasa bersama gengku, Siska, Anita dan Lusi jam istirahat kami berkumpul. Diantara gengku itu, Lusi yang tidak berpuasa. Namun, demi menghormati teman-temannya ia pun tidak makan siang, toh, kantin sekolah juga tutup. Ia hanya terlihat mengemut permen kesukaannya.

“Jadi kan hari ini kita jalan?” Tanya Siska.

“Sekalian buka bareng saja, di deket Slipi, ada mal tuh. Siska dah janjian sama gebetannya juga di situ mau buka bareng,” timpal Anita.

“Oke deh, laksanakan,” ujarku sumringah.

Sesampainya di rumah, aku buru-buru masuk kamar. Waktu sudah menunjukkan pukul 2 siang.

“Aku harus segera dandan nih, nanti terlambat,” gumamku.

Segera aku masuk kamar mandi membersihkan diri dan kemudian berdandan dengan busana-busana kesukaanku. Yah, tidak terlalu terbuka sih, namun tetap kelihatan gaul dengan celana jins ketat dipadukan dengan kaos ketat dan planel lengan panjang.

“Cantik juga ya aku,” gumamku di depan cermin memuji diri sendiri sambil memoles lipstik tipis.

Saat turun ke lantai bawah, aku bertemu dengan Umi.

“Mau kemana? Anak Umi sudah dandan cantik. Jangan lupa lho, tadi remaja masjid ngundang kamu untuk ikut kegiatan Ramadan nanti sore jam 4, sambil ngabuburit nunggu bedug maghrib. Katanya mau ada diskusi tentang remaja dan agama. Pembicaranya ada ustazah gaul lho,” ujar Umi.

“Ah, malas Umi ikut begituan, boring. Lagipula Aisyah sudah ada janji nih sama teman-teman mau buka puasa bareng di deket Slipi,” ujarku sambil berlalu.

“Astaghfirulloh,” ujar Umi sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. (Bersambung)


Like it? Share with your friends!

hernanda

0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *