Jangan Paksa Aku Berhijab, Umi (Bagian 2)

Dalam episode cerpen webseries kali ini, Aisyah makin tidak terkendali saat kembali diminta Umi untuk berhijab. Yuk, dibaca sambil dengarkan lagu lawas dari Opick, 'Tombo Ati'.


Peluang jadi Local Host bersama Lokalpedia

NgenetYuk! Fiksi – Dalam cerita cerpen webseries sebelumnya diceritakan tentang usaha Umi untuk mebujuk Aisyah mengenakan hijab namun selalu dibantah. Apa alasan sebenarnya Aisyah belum mau menggunakan busana muslimah?

**

Umi menghampiriku saat sedang nonton televisi di ruang tengah. Aku sedikit cuek dengan kehadiran umi, sebab masih kunikmati acara televisi di siang hari itu. Maklum hari Minggu, jadi aku agak bebas dengan waktu. Istinyahnya ‘me time’.

“Aisyah buat buka nanti mau dimasakin apa?” ujar suara lembut itu.

Aku masih terdiam. Namun ada suara kecil di hati yang berbicara, “ayo jawab, itu Umi lho.”

“Pizza nasi boleh deh Mi,” ujarku.

“Oke, kalau itu sih gampang. Eh, tumben kamu enggak pergi. Biasanya kalau hari Minggu seperti ini gelagapan punya jadwal sama teman-teman kamu,” ujar Umi sedikit menyindir.

Aku hanya menarik napas. Pengin kujawab sih sebenarnya kalau teman-temanku sedang ada acara keluarga semua, tapi akum alas menjawab panjang lebar.

“Lagi ada urusan masing-masing,” ujarku sekenanya.

“Oh iya, Aisyah. Kamu tahu enggak kenapa dulu Umi dan abi kasih nama kamu Aisyah?” Tiba-tiba pertanyaan Umi membuatku tertarik untuk menatap matanya.

“Enggak tahu,” jawabnya singkat.

“Dulu Umi pengin menamakan kamu itu Dewi Kartika karena Umi senang dengan nama Dewi yang artinya perempuan cantik. Abi juga awalnya setuju, nah, sehari sebelum kamu lahir, abi mengubah nama kamu itu menjadi Aisyah. Kata almarhum abi, dia habis datang ke pengajian nah mendengarkan ceramah ustaz tentang sosok Aisyah, istri nabi yang sangat mulia,” ujar Umi panjang lebar.

“Abi ingin kamu memiliki semangat seperti Aisyah yang membantu nabi memperjuangkan agama ini,” lanjut Umi.

Aku hanya mengangguk. Cerita itu baru aku tahu sekarang.

“Sebelum meninggal, Abi sempat ngobrol sama Umi. Dia titip pesan, tolong jaga kamu Aisyah. Bimbing kamu supaya mengikuti syariat agama. Abi selama ini diam tidak keras sama kamu karena Abi tidak ingin kamu merasa tertekan dan terpaksa untuk mengikuti syariat agama. Ya, salah satunya berhijab dan menggunakan busana muslimah,” ujar Umi lagi.

“Ah, itu lagi yang dibahas,” gumamku dalam hati.

**

dailynotion.com

Aku membuka lemari dan kulihat tumpukan baju-baju ala gadis remaja, penuh warna warni. Ada yang lengan pendek, model cardigan, ada yang body fit, celana rok selutut, legging dan beberapa lainnya. Aku memang cukup memperhatikan trend berbusana ala gadis remaja. Usiaku yang baru menginjak 16 tahun membuatku selalu mencari referensi busana-busana trend remaja seusia itu. Baik dari majalah, media online, televise dan sejumlah iklan yang bertebaran di dunia maya. Dahulu abi enggak pernah melarang aku untuk berbusana, katanya yang penting sopan tidak terlalu mencolok dan memperlihatkan lekuk tubuh.

Memang sih, abi dahulu sempat menyindir gaya berbusanaku yang makin hari dianggapnya makin terbuka. Apalagi aku sudah mulai berani membelinya dari mengumpulkan uang jajanku dan sudah tidak minta lagi ke abi dan Umi untuk membelikan pakaian. Toh, aku tinggal cari toko online, pesan, bayar dan barang dikirim, sebegitu mudahnya saat ini.

“Aisyah ayo buka puasa dulu, sudah bedug maghrib tuh. Jangan lupa nanti ke masjid ya, ada undangan remaja masjid untuk pengajian remaja,” suara Umi membuyarkan lamunanku.

**

Siang itu terasa panas sekali, haus yang mendera menambah sinar matahari terasa begitu menyengat. Puasa hari ini memang terasa sangat berat dengan cuaca yang begitu panas. Jam tanganku menunjukkan pukul 2 siang dan aku sedang dalam perjalanan pulang ke rumah menggunakan angkutan umum. Ponselku berbunyi singkat, menunjukkan ada pesan masuk. Ternyata ada WhatsApp dari Umi.

“Aisyah, Umi masih di luar, ada keperluan yang belum selesai. Kalau kamu sampai duluan, kunci ada di tempat biasa ya,” tulis Umi.

“Iya,” aku menjawab singkat.

Memang, semenjak kepergian abi, Umi mencari uang dapur dengan cara menjadi sales lepas buku dan permainan edukasi anak. Tinggal bawa barang contoh beberapa barang dan katalog, ketemu calon pembeli, langsung buat order kemudian barang dikirim. Memang tidak seberapa sih, tapi menurut Umi lumayan untuk kebutuhan dapur. Harta warisa dari abi, menurut Umi disimpan sebagai bekal untuk kehidupan aku nanti.

“Abi meninggalkan asset beberapa dan sesuai pesan ke Umi, jika Umi membutuhkan bisa dijual tapi sebagian untuk kamu Aisyah. Untuk bekal kamu tapi Umi sudah janji akan berusaha untuk tidak menjual dan mengambil tabungan yang dikumpulkan abi jika memang tidak terpaksa. Untuk kehidupan sehari-hari, umi jualan buku dan mainan edukasi anak sama Umi bikin katering kecil-kecilan,” ujar Umi suatu hari.

“Oh iya, lupa, untuk buka puasa nanti Umi nanti bawakan sate padang saja ya, sepertinya enggak sempat masak di rumah,” kembali WhatsApp-ku berbunyi dan membuyarkan lamunanku.

**

astuces-hijab.com

Sambil menyantap hidangan berbuka, Umi sudah mulai membuka kembali pembicaraan yang aku tidak terlalu suka.

“Eh, Umi tadi sempat mampir ke sebuah butik baju muslimah ternama, lihat beberapa model baju muslimah dengan hijabnya yang bagus-bagus, kalau Aisyah lihat pasti suka deh,” ujar Umi sambil menunjukkan beberapa foto di ponselnya.

Aku memaksakan senyuman. Inilah momen yang paling tidak aku suka karena pembahasannya masih sama, meski caranya kini berbeda.

“Umi kan tahu, Aisyah belum mau dan belum siap menggunakan busana muslimah. Aisyah masih muda Umi, masih pengin bebas masih harus menimba banyak pengalaman. Aisyah enggak mau nanti gerak Aisyah terhalang busana muslimah karena pasti harus selalu jaga imej,” ujarku.

huffpostmaghreb.com

“Aisyah, memakan busana muslimah enggak harus membatasi aktivitas selama itu positif. Lihat sepupu kamu, teman-teman kamu yang menggunakan hijab, lihat anak-anaknya teman-teman Umi yang seusia kamu menggunakan busana muslimah, mereka tetap bisa gaul namun sopan. Bebas namun bisa menjaga perilaku sesuai adat dan ajaran agama,” ujar Umi panjang lebar.

“Ini, Umi pakai busana muslimah juga masih bisa bergerak bebas kok. Semua itu tergantung niat. Kita hidup ada tuntunan agama. Umi tidak memaksa, tapi Alloh sudah meminta kita untuk menutup aurat. Kamu tahu kan, beberapa hadist nabi juga menunjukkan kita untuk menutup aurat,” ujar Umi dengan nada serius.

Aku hanya diam, sebab jika sudah bawa-bawa agama dalam pembicaraan seperti ini, apapun yang keluar dari mulutku tidaklah ada artinya. Aku tahu dan memahami apa yang dikatakan Umi karena aku pernah belajar dan membaca tentang kewajiban menutup aurat. Tapi bagiku ini bukan hanya masalah aturan agama tapi sudah masuk ke area hidayah dan kesiapan seorang manusia. Entah benar atau tidak yang aku pikirkan.

Bagiku, bukan hanya kepala saja yang harus dihijab, tapi hati juga demikian. Jadi percuma saja menggunakan busana muslimah, pakai hijab tapi perilaku jauh dari ajaran agama. Yang ada malu-maluin saja. Lihat di televisi, di koran, banyak perilaku wanita-wanita berbusana muslimah yang jauh dari perintah agama, menjadi tersangka korupsi, ketahuan buat video mesum di taman, ciuman dengan pasangan yang bukan muhrim dan lain sebagainya.

“Umi, Aisyah akan pakai kalau siap. Titik. Sekarang belum siap buat apa dipaksa. Daripada nanti malu-maluin. Umi tahu kan, saat ini busana muslimah enggak menjamin seseorang bisa berperilaku seperti tuntunan agama?” ujarku berdalih.

“Umi tahu Aisyah, justru itu Umi berharap kita semua yang memiliki pemikiran seperti itu bisa membuat pikiran orang lain terbuka. Kita jadi agen kepada dunia, bahwa kita menutup aurat adalah perintah Tuhan dan berperilaku sesuai tuntunan agama. Ya, kita yang mengerti dan memahami, siapa lagi?” ujar Umi mulai berdebat.

Apa yang dibilang Umi ada benarnya juga dan masuk di akal. Namun sepertinya setan masih merasuk ke dalam relung hatiku. Sampai akhirnya aku pun pergi meninggalkan meja makan begitu saja. (Bersambung)


Like it? Share with your friends!

hernanda

0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *