Jangan Paksa Aku Berhijab, Umi (Bagian 3 – Selesai)

Di episode terakhir cerpen webseries ini, Aisyah mendapatkan cobaan. Bagaimanakah akhir dari kisahnya? Yuk, simak sambil mendengar lagu NOAH "Sajadah Panjang".


Peluang jadi Local Host bersama Lokalpedia

NgenetYuk! Fiksi – Cerita sebelumnya Aisyah merasa tertekan karena Umi dianggap memaksakan kehendaknya untuk mengenakan busana muslimah. Lantas, apa yang membuat Aisyah

kemudian menyesal?

Sudah masuk libur lebaran, aku merasa lebih bebas dengan waktu. Bisa pergi kemanapun bersama teman-teman. Sama seperti waktu itu, aku jalan bersama geng aku. Padahal siang hari sebelum pergi, Umi memintaku untuk berbuka puasa di rumah.

“Mau refreshing Mi,” ujarku sambil ngeloyor pergi.

Padahal, menurut Umi, ia sudah menyiapkan kado spesial karena besok aku ulang tahun. Aku Cuma berpikir, kado dari Umi enggak jauh dari buku jadi biasa sajalah. Lebih baik pergi sama teman-temanku.

Saat berkumpul dengan gengku, memang ada perasaan enggak enak karena meninggalkan Umi di rumah sendirian. Sekitar jam 4 sore, Umi sempat WhatsApp aku, menanyakan posisi dimana.

“Dimana buka puasa? Pulang jangan kemaleman ya. Umi kasih surprise lho ada di lemari,” tulis Umi dan aku tidak balas. Pikirku nanti sajalah.

hijabmustanir.com

Bedug maghrib berkumandang, tandanya waktu berbuka. Aku dan gengku menikmati hari itu dengan tawa dan canda. Hari itu soalnya terakhir kumpul-kumpul karena beberapa teman se-gengku akan pulang kampong. Sekitar jam 8 malam, hapeku berdering. Telepon dari Yuli, anaknya pak RT di rumah. Tumben, malam seperti ini dia telepon, ada apa ya, pikirku.

“Aisyah, ini di rumah lagi ada masalah nih. Aisyah diminta pulang dulu, segera ya,” ujar Yuli dengan nada tertahan.

“Ada apa ya Yul, aku paling sampai rumah satu jaman lagi, lumayan agak jauh lokasi sekarang. Masih buka bersama,” ujarku.

“Ya aku sih dipesenin itu saja, supaya Aisyah cepat pulang gitu,” ujar Yuli lagi.

Aku mengiyakan permintaan Yuli dan berpamitan ke teman-temanku. Yang terlintas dalam pikiranku, paling Umi lagi kerepotan dengan pesanan katering atau ya masalah di dapurlah.

hibabers.abatasa.co.id

Motor yang kubawa masuk ke kawasan rumah segera ku matikan begitu dekat ujung gang. Sedikit kaget aku melihat ada bendera kuning terikat. Dadaku langsung berdegup, “siapa yang meninggal,” bathinku. Sementara aku melihat dari kejauhan beberapa motor sudah terparkir. Sayup-sayup terdengar suara banyak orang mengaji Yasin. Aku masih belum berpikir yang bukan-bukan.

Setelah aku parkir motor aku melihat Yuli menghampiriku. Wajahnya sembab dan langsung memelukku.

“Aisyah, maaf aku tidak kasih tahu kamu tadi di telepon supaya kamu enggak panik. Umi Sha, Umi,” ujarnya merintih.

Aku hanya tertegun, apalagi saat masuk ke teras rumah, sejumlah wajah orang yang aku kenal sedang duduk dengan mata sembab. Mereka mulai menyalamiku, mengucapkan duka.

“Turut berduka cita ya Aisyah,” ujar salah seorang ibu.

Aku masih tidak percaya dengan pemandangan di depanku. Masuk ke ruang tengah, teronggok jenazah yang sudah ditutup kain batik. Di sampingnya ada foto yang aku kenal. Ya, itulah Umi. Umi meninggal! Ini adalah kenyataan. Dengan langkah kecil gontai, aku menghampiri jenazah. Aku kemudian bersimpuh dan mulai menarik napas panjang. Namun sulit sebab seringkali tertahan oleh isak. Airmataku kemudian meleleh, deras membasahi pipi. Di belakang aku merasakan dekapan Tante Susi yang juga belum lama datang bersama sepupuku.

“Ya Alloh, inikah kenyataan yang aku harus hadapi? Inikah yang harus aku lalui dalam kehidupanku?”

hijabsyahida.com

Menurut Yuli, Umi meninggal saat hendak menyeberang jalan di dekat rumah. Sebuah motor dengan kecepatan tinggi menyenggol Umi hingga terpental. Kepala Umi terbentur trotoar hingga mengalami luka dalam. Rupanya selepas maghrib, Umi pergi ke tempat kios pulsa mau beli pulsa.

“Pulsanya habis, ketemu sama aku di kios depan. Katanya mau nelepon kamu Sha karena pesan terakhir Umi tidak dibalas. Takut kamu juga enggak ada pulsa Umi pengin nelpon, eh ternyata pulsa Umi juga habis. Itu cerita Umi sama aku,” ujar Yuli.

“Sehabis kejadian, motornya kabur aku langsung minta tolong sama beberapa tetangga bawa Umi ke rumah sakit. Tapi ternyata Umi sudah wafat di lokasi,” lanjut Yuli sambil terisak.

“Aku nyesal kenapa enggak barengan nyeberang jalan sama Umi,” ujar Yuli lagi.

“Ya, aku juga nyesel kenapa enggak balas pesan Umi, sehingga membuat Umi khawatir dan akhirnya terjadi kecelakaan,” pekikku dalam hati.

**

YouTube

Usai pemakaman aku disalami banyak orang, dari mulai tetangga, kerabat, hingga rekan Umi yang aku bahkan belum kenal. Aku sadar, Umi memang orang baik. Sosok perempuan yang hangat dan memiliki banyak teman. Bahkan ada salah satu kawan Umi yang tidak aku kenal menyampaikan pesan yang sangat menyentuh hati.

“Aisyah, Umi kamu itu orang baik, saya dan Umi sudah seperti saudara. Pernah kami bicara, kalau ada satu diantara kita yang meninggal duluan, jangan memutus silaturrahmi. Apapun yang kamu butuhkan, selama ibu bisa bantu, jangan sungkan untuk menyampaikan ya,” ujar seorang ibu sambil memberikan nama dan nomor telepon dan aku sambut dengan anggukan.

Sesampainya di rumah, Tante Susi dan sepupuku membantu membereskan rumah. Sementara aku masih termenung di dalam kamar, sendiri. Selama sepekan ke depan, Tante Susi dan Aida berjanji akan menemaniku di rumah sambil menunggu keputusan keluarga lainnya, aku akan tinggal dimana. Aku kemudian teringat pesan terakhir Umi dan aku baca kembali WhatsApp. Kemudian aku membuka lemari. Di dalam lemari ada bungkus kado berbentuk kotak berwarna biru dengan sebuah amplop surat ditempel di atasnya. Aku membuka amplop tersebut dan mulai membaca tulisan tangan Umi. Belum memulai, airmataku sudah membajiri pipi.

Aisyah sayang,

Ini ada hadiah buat ulang tahun kamu. Umi pilihkan warna kesukaan kamu. Umi minta referensi dari Aida lho karena biar pas sesuai selera. Enggak apa-apa kalau kamu enggak mau pakai cepat-cepat, Umi enggak maksa. Dan Umi enggak pernah memaksa kamu Aisyah untuk menggunakan busana muslimah. Yang penting Umi siapkan dahulu, jika sewaktu-waktu kamu sudah mau memakainya. Impian Umi, sebelum dipanggil Alloh, Umi pengin melihat kamu pakai busana muslimah meski hanya sekali saja. Namun jika impian itu tidak terwujud, Umi hanya bisa memastikan kalau kamu sudah siap, baju dan hijabnya sudah Umi siapkan. Semoga Aisyah suka ya.

Umi

Tangisku langsung meledak, Aida yang kebetulan mau masuk ke kamarku langsung memeluk dengan erat.

**

dream.co.id

“Umi, Alhamdulillah bajunya pas, hijabnya juga bagus kok. Aisyah suka banget. Makasih ya Umi. Aisyah menggunakan ini bukan paksaan, ini karena hidayah. Meski hidayah itu datangnya menyakitkan tapi Aisyah berusaha ikhlas Umi. Insya Alloh Aisyah akan menjadi muslimah seperti tuntunan agama.”

Aku kemudian meninggalkan makam Umi. (Selesai)


Like it? Share with your friends!

hernanda

0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *