Ku Delete Kau dengan Bismillah (Bagian 1)

Dalam cerpen webseries ini, dikisahkan tentang Handoko yang sedang mengadu nasib di Jakarta. Perkenalannya dengan Vebry membuat kisah yang menarik. Yuk dibaca sambil mendengarkan lagu Ku Pinang Kau degan Bismillah.


Peluang jadi Local Host bersama Lokalpedia

NgenetYuk! Fiksi – Panas terik siang itu di pusat kota Jakarta tak ku indahkan. Aku cuek menerobos trotoar di samping gedung-gedung pencakar langit sambil merasakan hembusan asap knalpot dari berbagai kendaraan. Gara-gara mobil kantor ngadat, jadi aku berjalan kaki, untungnya mogok pas dekat dengan lokasi. Sementara sopir kantor menunggu tukang bengkel langganan kantor datang. Pagi tadi, aku mendapatkan tugas mengantarkan surat perjanjian kerjasama kantor. Sebenarnya tugasnya pak Yadi, orang legal di kantor, namun beliau sedang sibuk juga. Toh katanya, hanya mengantarkan saja draft perjanjian tersebut karena orangnya minta enggak boleh dikirim via email. Berhubung aku juga karyawan baru belum sebulan pula, ya, apa boleh buat. Aku laksanakan tugas itu tanpa mengeluh.

“Selamat siang, mau ke PT ini,” ujarku pada resepsionis di sebuah gedung bertingkat di pusat kota Jakarta.

Dengan ramah resepsionis itu menunjukkan lantai kantor yang dimaksud sambil meminta KTP atau tanda pengenal untuk ditukarkan dengan kartu tamu gedung. Setelah menukar, aku menuju lantai 11, seperti yang dimaksud resepsionis.

Sampai di lantai 11 aku mencari nama perusahaan yang tertera di amplop cokelat yang aku pegang. Tidak terlalu sulit mencarinya karena kavling di gedung tersebut cukup jelas. Lalu aku masuk dan diterima resepsionis kantor.

solokebaya

“Oh, iya ada titip pesan dari Bu Vebry tentang surat perjanjian dari perusahaan Bapak, sebentar saya pastikan Bu Vebry ada di tempat,” ujar resepsionis sambil menghubungi orang yang dimaksud. Setelah beberapa saat, ia mengantarkan aku ke ruangan seorang yang dikenal dengan Bu Vebry.

Aku sedikit tertegun, yang dimaksud Bu Vebry itu ternyata masih muda. Putih cantik dengan lesung pipit menawan. Tubuhnya pun ramping dan sangat terawat serta rambutnya hitam terurai panjang. Aku langsung memperkenalkan diri.

“Selamat siang Bu Vebry, nama saya Handoko panggil saja saya Han. Saya diutus Pak Dira untuk mengantarkan surat perjanjian ini dalam bentuk draft,” ujarku sambil mengulurkan tangan.

“Halo siang juga pak, nama saya Vebry Nurmalasari, panggil saja Vebry, saya Direktur Marketing di sini. Ayo silahkan duduk,” ujarnya sambil menjabat tanganku. Terasa halus sekali. Ah tapi aku harus bersikap profesional.

“Iya tadi Pak Dira telepon saya enggak bisa datang diwakilkan sama Bapak. Tadinya saya pikir kurir yang datang. Ternyata Pak Dira enggak mau Kurir yang datang, harus staff. Ini kenapa kami selalu respek dengan perusahaan tempat Bapak bekerja karena untuk dokumen penting seperti ini, memang etikanya dibawa oleh staff,” ujar Bu Vebry sambil tersenyum.

istimewa

Aku kemudian menyerahkan amplop cokelat yang kemudian langsung dibuka Bu Vebry. Dia meminta waktu sebentar untuk membacanya. Tangannya sigap memberikan beberapa catatan dan memberikan paraf.

“Oke hanya satu halaman saja yang saya kasih catatan yang lainnya sudah oke. Nanti surat kerjasama fix-nya akan kami buat dan dikirim ke kantor Bapak. Draft ini saya kopi dahulu biar sama-sama pegang ya,” ujarnya sambil meminta sekretarisnya untuk meng-copy surat tersebut.

“Bapak sudah berapa lama kerja di kantor pak Dira?” ujar Bu Vebry, sepertinya ingin memecah kesunyian di ruangan itu.

“Saya masih baru, belum satu bulan ikut di kantor Pak Dira. Dan saya belum bapak-bapak jadi malu kalau dipanggil bapak,” ujarku sambil mencoba tersenyum.

“Ah, saya juga belum ibu-ibu kok, enggak enak kalau dipanggil ibu juga. Kayaknya usia kita enggak beda juga,” balas Bu Vebry tak kalah tertawa.

ciricara

“Wah, saya enggak enak kalau enggak panggil bu, nanti disangka kurang ajar. Soalnya Pak Dira sudah mewanti-wanti perusahaan Ibu sudah lama bekerjasama dengan kami jadi saya diminta untuk berperilaku sopan,” ujarku mencoba menjelaskan.

“Ah kamu bisa saja. Nih, saya panggil biasa saja ya. Santai saja lho, saya juga baru lulus kuliah belum lama di perusahaan Papa,” ujarnya sambil menawarkan beberapa penganan yang ada di ruang tamunya.

“Wah, ternyata memang benar usianya enggak jauh berbeda denganku. Aku juga baru lulus,” gumamku.

“Eh, saya juga baru lulus Bu…,” belum selesai ucapanku, Bu Vebry langsung memotong.

“Tuh kan, mau panggil Bu lagi? Panggil saja nama saya enggak apa-apa. Saya lihat kamu juga orang baik. Oh iya, saya belum enam bulan di Jakarta, sebelumnya papa kuliahin saya di Australia ambil manajemen bisnis. Pas datang, eh tahu-tahu disuruh bantuin,” ujarnya.

Aku merasa aneh, kok tiba-tiba orang yang punya kedudukan tinggi di sebuah perusahaan, masih muda dan cantik seperti Bu Vebry, semudah itu langsung akrab.

istimewa

“Kenapa aneh ya saya ngobrol seperti ini? Saya bingung soalnya di kantor ini usianya lebih tua semua dari saya, yah, beberapa pekerjaan memang menyita waktu saya sehingga jadi jarang kumpul bersama teman-teman saya. Laguipula teman-teman saya sudah banyak menghilang, maklum saya sejak SMP sudah disekolahin papa di luar,” ujarnya.

Tak berapa lama kemudian, sekretaris Bu Vebry datang membawa salinan surat perjanjian kerjasama.

“Oke nanti kita lanjut ya, dua harian selesai kontrak fix-nya nanti saya kabarkan. Boleh minta nomor telepon kamu,” tanya Bu Vebry.

“Oh silahkan,” aku kemudian menyebut angka-angka yang kemudian dimasukkan ke dalam buku telepon ponsel Bu Vebry.

Selanjutnya: Vebry dan Handoko semakin dekat. Lantas apa yang terjadi dengan hubungan mereka?


Like it? Share with your friends!

hernanda

0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *