Ku Delete Kau dengan Bismillah (Bagian 2)

Dalam cerpen webseries edisi kali ini menceritakan kelanjutan hubungan Handoko dan Vebry. Apakah Handoko berani mengungkapkan cintanya? Yuk, dibaca sambil mendengarkan lagu Cinta Kita.


Peluang jadi Local Host bersama Lokalpedia

NgenetYuk FiksiCerpen webseries sebelumnya: Handoko mulai

berkenalan dengan Vebry, sosok muda, cantik dan memiliki jabatan tinggi di kantornya. Bagaimana kelanjutan hubungan mereka?

Selama dua hari, aku susah tidur memikirkan kejadian di kantor Bu Vebry. Dalam hatiku berkecamuk perasaan kegeeran, kok bisa sekelas Bu Vebry mau ngobrol santai denga

nku. Anak baru lulus kuliah, baru masuk dunia kerja dan masih kos.

“Ah sudahlah, mungkin kebetulan saja,” pikirku sambil meneruskan pekerjaan kantor di meja sampai aku terkejut dengan deringan ponselku dari nomor yang tidak aku kenal.

“Halo selamat siang, Handoko?” Tanya suara

di seberang telepon.

“Iya saya sendiri,” jawabku.

“Saya Vebry, sebentar lagi saya tiba di kantor kamu. Tadi saya juga sudah telepon dengan Pak Dira, mau tandatangan di kantor,” suara itu mengejutkanku.

“Oh my god!” pekikku dalam hati.

Setelah sesi tandatangan kerj

asama, Bu Vebry mampir ke meja kerjaku diantar Pak Dira.

“Nah ini karyawan baru, anaknya rajin,” ujar Pak Dira pemimpin perusahaanku sambil tersenyum. Pujian itu membuat pipiku memerah.

“Han, saya mau temani Bu Vebry dahulu makan siang nanti tolong berkas-berkas di meja saya tentang perjanjian kerjasama ini diurus selanjutnya ya. Jangan ada yang tercecer,” perintah Pak Dira.

“Siap pak,” ujarku.

kisahcintasejati

Waktu hampir menunjukkan pukul 5 sore, waktunya untukku bersiap pulang ke kos. Biasanya kalau ada beberapa pekerjaan yang nanggung, aku suka selesaikan di kantor karena malas rasanya membawa pekerjaan ke kos. Di kos waktuku untuk bersantai, menghubungi Abah di Bandung. Sepeninggal Ibu, abah sendiri di rumah. Dua kakakku sudah bekerja di luar kota. Tinggal si bungsu yang masih SMP di rumah menemani. Itu pun kalau dia enggak main.

“Eh, aku mau beli baju dulu ah di mal dekat kantor. Mumpung waktu masih banyak,” gumamku.

Dengan sepeda motor kreditan yang baru aku ambil, aku pun lincah menuju mal di dekat kantor. Setelah parkir langsung menuju tempat tempat penjual baju-baju kantor. Mumpung lagi diskon juga. Setelah selesai membeli, aku berjalan sambil melihat-lihat etalase barang-barang lainnya. Tak sengaja aku melihat Bu Vebry sedang berjalan terburu-buru ke tempat parkir. Aku memanggilnya.

“Bu Vebry,” panggilku. Bu Vebry kemudian menolah dan langsung berceloteh.

“Wah Han habis belanja?” Tanyanya.

“Beli baju saja Bu, biar terlihat lebih rapih saja mumpung ada diskon,” ujarku.

“Tadi saya sudah berpisah dengan bos kamu. Nah, kamu naik apa ke sini?” Tanyanya.

“Naik motor, kenapa?” jawabku kemudian balik bertanya.

“Kebetulan, mau antar saya ke EX? Deket sih tapi tahu sendiri macet, saya lupa hari ini ada janjian dengan salah satu klien, penting pula. Kalau naik motor kan bisa lebih cepat, daripada saya panggil gojek nunggu lagi,” pintanya.

bobobibi

Singkat cerita aku mengiyakan permintaan Bu Vebry sambil bertanya-tanya, kok mau sekelas Direktur minta diantar naik motor. Untungnya aku selalu bawa persediaan helm satu lagi, jadi enggak pernah khawatir kalau ada yang mendadak minta nebeng.

Sesampainya di EX, aku menurunkan Bu Vebry di samping, namun aku semakin terkejut ketika Bu Vebry mengajakku.

“Nanti setelah parkir, ikut ya nanti saya wasap tempatnya,” ujar Bu Vebry. Aku sebenarnya berkali-kali menolak namun Bu Vebry tetap kekeuh mengajak aku. Ya sudah, tidak ada pilihan lain. Mumpung besok libur. Setelah memarkir motor, aku langsung menyusul Bu Vebry ke tempat yang sudah ditentukan.

Miting dengan klien Bu Vebry berjalan lancar. Aku melihat sosok Bu Vebry begitu luwes menjelaskan apa saja yang bisa dilakukan perusahaannya. Kadang ia meminta aku untuk membantu berbicara, untungnya apa yang ditawarkan aku juga kuasai karena tidak berbeda jauh dengan apa yang perusahaanku dan Bu Vebry lakukan. Pertemuan hari itu disudahi dengan kata sepakat dan kepuasan klien mendengarkan penjelasanku. Setelah dua orang dari klien pergi, tinggal aku berdua dengan Bu Veby.

“Terima kasih ya sudah mau aku repotin. Eh, jangan bilang-bilang Pak Dira kamu bantuin aku ya Han enggak enak. Ini kan kalau di kontrak namanya hal yang tidak terduga,” ujar Bu Vebry sambil tersenyum. Aku Cuma tertegun menikmati kecantikannya.

istimewa

Kami pun kemudian ngobrol santai dan sepakat jika bertemu di luar menggunakan Bahasa gaul, namun jika urusan kantor menggunakan Bahasa profesional. Kami ngobrol ngarol ngidul sampai tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam dan sebagian mal sudah mulai mematikan lampunya.

Dari obrolan tersebut aku baru tahu, Bu Vebry sosok yang kesepian. Sejumlah lelaki mundur untuk dekat dengan dia karena melihat keluarganya yang wah. Ada pula yang hanya memanfaatkan saja sehingga seringkali disakiti. Ibunya masih tinggal di luar negeri, beberapa bulan sekali pulang. Kalau tidak sang ibu, ayahnya yang nyamperin. Sebenarnya Bu Vebry anak kedua dan bungsu. Ia memiliki satu kakak lelaki, hanya saja kakak lelakinya sudah menyatakan diri tidak mau untuk mengurus perusahaan sang ayah dan memilih merintis kariernya sendiri di Amerika Serikat. Bu Vebry dipersiapkan menjadi pemimpin perusahaan namun dia harus banyak belajar terlebih dahulu. Tak bisa kubayangkan, usia semuda itu sudah harus belajar banyak tentang mengelola perusahaan. Tapi di satu sisi Bu Vebry merupakan orang yang beruntung bisa belajar banyak.

“Ayo pulang, sopirku sudah menunggu,” pintanya.

“Eh sebentar, kayaknya enak ya naik motor lebih cepat. Ya sudah deh, aku ikut kamu saja naik motor. Mau kan anterin ke rumah, enggak jauh kok di Pondok Indah,” ujarnya.

insatunesia

Belum juga aku menjawab, dia sudah menghubungi sopirnya dan meminta dia pulang duluan. Tapi ya mau bagaimana lagi, perusahaan Bu Vebry merupakan salah satu pemasok uang terbesar di kantorku setiap tahun dari kerjasama yang kami lakukan, masa iya aku menolak.

Di perjalanan, Vebry asik bercerita tentang kehidupannya saat bersekolah di Australia. Di sana, ia tidak pernah naik motor, malah turun naik bis dari tempat tinggalnya menuju ke kampus. Setiap weekend atau liburan kampus, ia kerap berkumpul bersama teman-temannya, bergilir. Sekedar barberque atau minum teh hangat.

Cerpen webseries berikutnya: Handoko memberanikan diri untuk menerima tantangan Vebry meminangnya. Apa yang akan terjadi?


Like it? Share with your friends!

hernanda

0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *