Ku Delete Kau dengan Bismillah (Bagian 3 – Habis)

Handoko memberanikan diri untuk meminang Vebry. Apa yang akan terjadi? Apakah Handoko mulus menjalin hubungan dengan Vebry? Yuk, dibaca Cerpen Webseries ini sambil dengerin lagu Kenangan Terindah


Peluang jadi Local Host bersama Lokalpedia

NgenetYuk FiksiCerpen Webseries lalu: Vebry rupanya menaru

h hati terhadap Handoko namun belum berani mengungkapkan. Lantas bagaimana Vebry mengungkapkan isi hatinya?

Setelah momen tersebut, Vebry makin sering menghubungi aku. Komunikasi kita berjalan lancar karena aku juga menjaga supaya perusahaan Bu Vebry tetap mau bekerjasama dengan kantorku.

Yah, itung-itung service buat klien lah. Kami suka menghabiskan waktu weekend bersama, entah itu sekedar makan malam atau refreshing ke tempat wisata di daerah Jakarta dan sekitarnya.

Tiga bulan berlalu, saat kami sedang makan malam…

“Han, ternyata asik ya kita bisa seperti ini. Aku ti

dak lagi merasa kesepian. Kamu sudah punya pacar?” Tanya Bu Vebry.

Glekkk… nasi goring yang sedang kusuap seakan tak mampu masuk ke tenggorokan.

“Belum Veb. Belum ada yang mau nih, maklum masih merintis,” ujarku sambil tertawa.

“Ya sudah, kamu jadi pacar aku saja. Tapi aku enggak

mau lama-lama, kalau sudah siap langsung kamu lamar aku ya,” ujarnya santai sekali. Memang karena tinggal lama di luar negeri, Vebry masih terpengaruh adat sana, langsung to the point.

ciricara

Aku diam seribu basa, enggak mampu lagi untuk berbicara. Sosok yang sangat tinggi kelas sosialnya di mataku berbicara seperti itu.

“Han, kelak, pinang aku dengan Bismillah ya karena pasti akan banyak hal yang akan menghalangi,” pinta Vebry. Sayup-sayup terdengar suara Rossa dan Pasha menyanyikan lagu ‘Pinang Aku dengan Bismillah’ di restoran itu.

***

“Papa tidak setuju! Mau dikemanakan muka papa sama Om Ihsan! Kamu tahu kan, Papa sudah merintis bisnis dengan Om Ihsan jauh sebelum kamu lahir. Om Ihsan dan papa sudah berjanji, jika punya anak akan dijodohkan. Ini demi menyambung bisnis Papa dan Om Ihsan juga. Lagian apa yang kurang dari Wisnu? Perempuan lain mengidolakan Wisnu, eh kamu malah mau kawin sama pegawai,” suara papa Vebry di lantai dua terdengar sampai tempat aku duduk di meja makan lantai satu.

Aku hanya terdiam dan tidak bisa berkata apa-apa. Aku sadar dengan statusku yang hanya karyawan biasa di perusahaan rekanan keluarga Bu Vebry. Dari awal hubungan ini juga aku sadar, pasti akan berat bagi keluarga Vebry menerima aku.

bisikan

Semua bermula saat aku sudah menyatakan kesiapanku meminang Vebry. Tentunya aku harus berbicara dahulu dengan orangtua Vebry sebelum aku mendatangkan orangtuaku. Namun yang terjadi, Papa Vebry sangat marah karena dia merasa sudah melakukan perjanjian dengan sahabatnya untuk menjodohkan anak-anak.

“Ingat, kalau memang kamu memaksa, Papa akan putus kontrak kerjasama dengan Pak Dira. Papa akan cari mitra lainnya agar ini tidak masuk urusan pribadi. Atau papa akan minta Pak Dira pecat pacar kamu itu,” ujar Papa Vebry lagi.

Dengan terisak, Vebry ke lantai satu ke ruang makan. Aku hanya duduk lemas, keputusanku untuk meminang Vebry rupanya berakhir dengan kepiluan. Aku semakin sadar dan ingin sekali berkaca, siapa aku. Tapi bukankah cinta diciptakan Tuhan tidak mengenal status sosial? Ah sudahlah, aku fokus untuk menyelesaikan masalahku.

kabarimbo

“Maafkan papa ya. Mungkin maksud papa enggak seperti itu,” ujar Vebry sambil menyeka air matanya.

Aku terdiam tak bisa berkata apa-apa. Aku juga takut menggenggam tangan Vebry, namun justru Vebry sendiri yang menggenggam tanganku dan memelukku.

“Aku pamit,” ujarku lemah. Namun aku masih berusaha untuk tetap tegar di depan Vebry.

Di kos, aku berpikir matang-matang tentang rencana lain dalam kehidupanku. Kebetulan beberapa waktu lalu seorang kawan menawarkanku untuk bekerja di Yogyakarta di perusahaan milik rekannya. Nominal gajinya tidak sebesar di Jakarta, tapi dengan uang segitu, aku merasa sudah cukup untuk kehidupan sehari-hari.

“Halo Fred, ini aku Handoko. Tawaranmu tempo hari masih berlaku?”

***

imgbuddy

Lega rasanya aku sudah mundur dari perusahaanku di Jakarta. Meninggalkan kenangan indah selama hampir satu tahun. Padahal gajiku baru saja dinaikan karena prestasi kerjaku. Tapi tak apalah, aku melakukan ini demi kebaikan semua, demi kebaikan Pak Dira, kebaikan teman-teman kantor dan kebaikan Vebry juga.

Sebelum berangkat ke Yogyakarta, aku sudah mempersiapkan diri. Hanya sekali aku menerima telepon dari Vebry dan memohon maaf kalau aku memilih jalanku sendiri demi kebaikan semua. Satu per satu aku delete komunikasi dengan Vebry agar tidak mengganggu aktivitas dan meninggalkan kenangan. Dari mulai nomor telepon aku hapus, sekaligus aku mengganti dengan nomor telepon yang baru. Aku delete juga akun sosial media yang terkait dengan Vebry. Semua aku hapus demi meniti kehidupan yang baru dengan Bismillah. Sama seperti saat aku ingin meminang Vebry dengan Bismillah, aku delete semua cerita tentang dia dengan Bismillah pula.

Salah satu yang aku lakukan untuk memperkuat putusanku adalah melakukan salat istikarah. Aku tahu, Tuhan pasti akan memberikan yang terbaik buat aku.

“Selamat pagi, saya mau mengantarkan draft kontrak kerjasama ini ke bagian sales marketing,” ujarku kepada resepsionis.

Kemudian aku diantar ke sebuah ruangan yang tidak terlalu besar namun rapih. Seorang perempuan cantik berambut sebahu dengan kulit putih dan mata yang indah menyapaku.

“Oh ini orangnya Pak Fauzan ya, perkenalkan saya Indah, Manajer Sales dan Marketing di sini. Kamu masih muda juga ya, biar akrab jangan panggil saya Ibu ya, panggil nama juga enggak apa-apa,” ujarnya.


Like it? Share with your friends!

hernanda

0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *