Lelaki di Mobil Itu (Bagian 1)

Hai Sobat NgenetYuk!. Kami hadir lagi dengan sebuah cerpen webseries tentang tiga orang sahabat dengan kehidupannya masing-masing. Yuk, dibaca episode pertamanya sambil dengerin lagu Kunto Aji, 'Terlalu Lama Sendiri'.


Peluang jadi Local Host bersama Lokalpedia

NgenetYuk! Fiksi – “Kriiinnggggg……!!” Lengan Sherly berusaha menggapai jam weker yang masih ia cari keberadaannya. Berisik sekali rasanya, ingin ia pecahkan sa

ja. 

“OMG!! Gue telat bangun! pagi ini ada presentasi pula sama klien pertama gue!” Sherly bergegas menuju kamar mandi dan segera bersiap. Beberapa menit kemudian, sambil berlari menuju garasi Sherly berusaha mengambil kunci motornya yang terselip di dalam tasnya. Ia segera menyalakan motor matic kesayangannya dan melaju menuju kantor.

Jarak yang tidak terlalu jauh sedikit menolong Sherly untuk segera sampai di kantornya. Hari ini adalah hari pertamanya presentasi di depan klien tanpa didampingi atasannya. Maklum, Sherly belum lama bekerja di perusahaan advertising ini. Dan ia masih dalam masa percobaan sehingga belum pernah melakukan presentasi sendiri dengan kliennya.

“Pagi cantik. Klien gue udah dateng belum? Telat bangun nih,” sapa Sherly sambil merapikan rambutnya akibat menabrak angin kencang sepanjang jalan tadi.

“Bersyukurlah belum datang tuh Mba Sherly, ruangannya sudah disiapkan ya mba, good luck!” jawab Sari resepsionis kantor barunya itu dengan ramah.

“Thanks a lot ya!” Sherly segera menyiapkan segala keperluan presentasinya.

Dua Jam berlalu. Sherly mengantar kliennya sampai ke lobby kantor. Dengan senyum manis Sherly kembali memasuki ruangan diiringi suara tepuk tangan dari teman-temannya. Begitu pula Mba Tiar atasan Sherly, menjabat tangan Sherly dengan bangga karena Sherly melakukan presentasi pertamanya dengan sempurna sehingga klien merasa sangat puas dengan konsep yang disajikan Sherly.

“Congrats dear! Kamu enggak bikin saya kecewa. Sekarang tinggal running ya. Saya udah siapkan tim yang bagus buat kamu. Jangan lupa buat storyboardnya dulu oke.” 

Sherly pun mengangguk penuh semangat mendengar ucapan Mba Tiar.

***

Kebiasaan mereka memang tidak bisa hilang. Saking sudah saling cocok satu sama lain persahabatan yang dimulai ketika mereka ospek itu pun terus berlanjut. Setiap jam makan siang mereka selalu berkumpul di kantin kampus. Dan kali ini Elya terlambat datang. 

“Guys, sory, tadi macet banget nih tumbenan,” ujar Elya sambil meneguk minuman milik Aldo.

“Eh, minuman gue!” Aldo merebut kembali minuman itu dari tangan Elya.

“Dikit Do. Haus banget ini gue hehe. Eh, si Sherly mana? Belum datang ya? Thanks God ada yang lebih telat dari gue hahaha,” ujar Elya.

“Enak aja lu. Gue sudah datang duluan,” Sherly menyambar dari kejauhan sambil menghampiri dan membawa sepiring siomay.

“Yah, kok cuma sepiring Sher? Enggak sekalian gitu,” rayu Elya.

“Sana pesen ah dateng-dateng rusuh deh kebiasaan” Sherly langsung melahap siomaynya.

“So, gimana dengan rencana kita kemarin?” tanya Aldo memulai pembicaraan.

“Hmm, gue sih setuju saja. Toh gue cinta banget kok sama Bandung. Lagian enggak jauh juga kan kalo gue mau mudik ke Subang,” jawab Elya penuh semangat.

“Yup! Gue juga,” jawab Sherly singkat karena masih menikmati siomaynya.

“Oke. Kalau gitu sambil cari-cari kontrakanyalah ya yang bisa buat bertiga. Siapa yang duluan dapat info langsung berkabar ya biar bisa kita liat bareng-bareng,” tegas Aldo.

“Yang penting, buruan kalian beresin juga skripsinya. Biar kita bisa cari kerja bareng-bareng juga kan. Gue bulan depan udah sidang nih,” Sherly menambahkan.

“Iya, habis lu sidang bantuin gue ya sayang,” lagi-lagi Elya merayu Sherly. Sherly yang sudah hafal karakter Elya ini hanya melirik tajam diiringi tawa Aldo. 

***

Tiba-tiba terdengar lagu Dessert milik Dawin mengagetkan lamunan Sherly.

“Ya Hallo,” Sherly mengangkat ponselnya.

“Sher! Lama deh angkatnya lagi apa sih lu? Sibuk banget ya? Telepon gue dicuekin gitu,” terdengar suara cempreng Elya di sebrang sana.

“Apaan sih El ngagetin tau enggak lu. Baru gue keingetan elu dan Aldo. Eh, tumbenan jam segini telepon gue kenapa? Masih jam kerja ini,” Oceh Sherly.

“Gue punya berita bagus buat lu Sher. Tapi jangan kaget ya!” 

“Apa? Kenapa? Sampai telepon segala. Biasanya juga chat gue dulu,” ujar Sherly.

“Minggu ini gue married Sher finally! Ahaha, lu datang kan Sherly sayang. Dateng ya wajib tanpa tawar gue udah siapin seragam buat lu sama Aldo,” ujar Elya.

Belum habis rasa kaget Sherly karena suara telepon yang membuyarkan lamunannya ketika mengingat kebersamaan persahabatan mereka, tiba-tiba Elya memberikan kabar yang juga mengagetkan Sherly.

“Halo? Sher? Halo!! Lu pingsan apa tidur Sher? Halloooo?!”

“Ii..ya.. El.. Selamat yaaa sayang! Kok tiba-tiba sih mepet banget lagi. Kapan lu lamarannya? Married sama siapa? Tiba-tiba lu bilang mau married aje,” Sherly segera menjawab Elya yang menyadarinya sedang terkaget.

“Hehe, suprise kan. Aldo belum sempat gue kabarin. Lu yang kabarin ya. Emang dadakan sih. Sama anak Bandung juga Sher. Pokoknya kali ini gue married Sher!” Suara Elya begitu sumringah terdengar membuat Sherly pun mengurungkan niatnya untuk mengintrogasi Elya lebih jauh tentang kabar bahagia yang dadakan ini.

“Oke. Oke. Lu kirimin deh undangannya nanti gue kasih tau Aldo.”

“Thanks yaa sayang. See you soon,” Elya menutup teleponnya meninggalkan Sherly yang masih merasa kebingungan. Beberapa menit kemudian Sherly menerima kiriman undangan by whatsapp dari Elya. 

Baru saja Sherly teringat akan perbincangan mereka di kantin dulu. Ketika mereka semua berjanji untuk tinggal bersama dan sukses bersama di Bandung setelah lulus kuliah. Namun kenyataanya mereka harus berpisah karena Sherly mendapatkan kerja di Jakarta dan kedua temannya masih menyelesaikan skripsi mereka. 

“Sher, mau lembur? Besok lagi saja masih ada waktu kok. Oke. Saya duluan ya,” Mba Tiar berpamitan lebih dulu. Sherly mengangguk dan tersenyum tanpa kata.

Sambil membereskan barangnya Sherly berpikir, “Elya sering ganti-ganti pacar dan kadang enggak jelas pacarnya kapan gantinya. Terakhir bukanya sama anak Jakarta ya. Sekarang tiba-tiba mau married aja. Enggak salah ya tuh anak.” 

Selesai membereskan barang-barangnya Sherly langsung mengirim whatsapp pada Aldo untuk mengajak Aldo bertemu di restoran dekat kantornya. Yup, Aldo pun seperti Sherly yang mendapatkan pekerjaan di Jakarta setelah kelulusannya. Hanya Elya yang tetap berada di Bandung seperti janji mereka dulu. (Bersambung)

*** 


Like it? Share with your friends!

hernanda

0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *