Lelaki di Mobil Itu (Bagian 2)

Mendengar sahabatnya menikah muda, Sherly jadi teringat akan mantan yang telah mengkhianatinya dan mengubur mimpinya menikah muda. Yuk, dibaca cerpen webseris episode kedua ini sambil dengerin lagunya Nidji, 'Arti Sahabat'.


Peluang jadi Local Host bersama Lokalpedia

NgenetYuk Fiksi! – Cerita cerpen webseries sebelumnya: Sherly terkejut mengetahui Elya, sahabatnya menikah. Padahal, Elya dikenal suka gonta ganti pacar. Kenapa sahabatnya itu langsug memutuskan menikah?

Sherly memarkirkan motornya dan melepas helm merahnya. Dia melihat sekeliling belum terlihat mobil Aldo.

“Untuk berapa orang mbak?” Sapa pelayan di restoran itu.

“Dua mas,” jawab Sherly singkat.

“Baik mari saya antar mbak,” pelayan tersebut memiliki tempat duduk khusus dua orang di teras restoran. Dengan pemandangan cantik dan suara air terjun kecil yang sengaja dibuat oleh restoran itu. Sherly merasa diberikan tempat duduk yang special oleh si pelayan.

“Silahkan mbak, mau pesan sekarang atau menunggu pacarnya dulu mbak?” Tanya Pelayan tadi.

Sherly menahan tawa. Benar dugaanya, pelayan tadi sepertinya sengaja memilihkan tempat duduk disini karena berpikir Sherly akan bertemu pacarnya. “Bukan nunggu pacar mas, cuma temen kok. Saya belum punya pacar. Saya pesan duluan aja ya.”

“Oh maaf mbak, saya pikir menunggu pacarnya, mbaknya cantik sih, masa belum punya pacar. Ini menunya silahkan tulis pesananya ya Mba,” pelayan itu tersenyum ramah. Dan Sherly menyadari pelayan ini cukup tampan ternyata. Tetapi kata-kata pelayan yang tidak mengira ia belum punya pacar sedikit menyinggung hati kecil Sherly.

Setelah memesan makananya Sherly mencoba menghubugi Aldo. Sudah lebih setengah jam dari waktu mereka janjian Aldo belum datang juga. Mengirim pesan pun tidak.

“Kemana sih ini anak. Jangan sampai deh gue keliatan aneh makan disini sendirian dengan suasana romantis gini gara-gara pelayan tadi sih mikir gue mau pacaran. Huh,” Sherly mengoceh sendiri.

“Haii Sher, sorry sorry tadi sempat di tahan bos gue. Tau lah bos gue rese kan. Udah pesen ya? Duh, lapar banget nih,” Aldo yang tiba-tiba datang langsung menjelaskan keterlambatanya sambil melambaikan tangan ke pelayan untuk meminta menu.

“Sher, hallo Sher!” Aldo menyadari Sherly hanya menatapnya dingin, mengangkat alisnya dan tertunduk lagi mengaduk-aduk minumanya yang terlihat sedari tadi tidak ia minum.

“Sher lu kenapa? Katanya ada berita Elya ko jadi lu yang keliatan linglung. Elya kenapa emangnya Sher?” tanya Aldo heran.

“Nih, weekend ini di Subang. Akad Jumat, resepsi sabtu,” Sherly menyodorkan undangan Elya dari ponselnya.

“What? Elya married?? Kenapa dia enggak kabarin gue langsung?! Ehh, lakinya siapa? Yang anak jakarta itu? Serius?” Aldo memberikan pertanyaan bertubi-tubi.

“Bukan, anak Bandung katanya. Berangkat pakai mobil lu aja ya. Biar gampang kesana sininya. Tar gue siapin makanan buat lu nyetir,” Sherly menjawab dengan datar.

“Oke masalah itu gampang. Yang bikin gue heran lagi. Lu kenapa Sher? Kok lesu gitu sih? Sahabatnya seneng juga lu malah begitu?”

“Apaan sih gue ga kenapa-kenapa ko,” Sherly menyanggah

“Enggak kenapa-kenapa gimana? Lu terlalu menyepelekan sahabat lu ini deh. Kita temenan buka baru kemarin sore kali Sher. Kenapa sih lu?” Aldo mendesak Sherly untuk bicara.

“Ya gak kenapa-kenapa Do. Gue cuma kepikiran Elya aja ko,” Sherly masih tetap menutupi apa yang dipikirkannya.

“Oke, jangan sampai gue yang nebak nih apa yang lu pikirin. Rasa-rasanya gue tau apa yang lu pikirin Sher,” Aldo berusaha memancing Sherly dengan tatapan tajamnya dan nada detektif favoritnya Holmes.

Tiba-tiba pelayan tadi menghampiri membawa pesanan mereka berdua.

“Ini pesanannya mbak. Temannya sudah datang ya,” senyum pelayan itu memang sangat ramah sehingga membuat Sherly sedikit salah tingkah kali ini.

“I-i-ya,” Sherly berusaha tenang menjawab pelayan itu. Aldo yang memperhatikan tingkah Sherly seperti merasa menang karena Aldo yakin apa yang dipikirkannya tidak meleset tentang Sherly.

Setelah pelayan tadi meninggalkan mereka berdua dengan hidangannya, Aldo langsung bertanya tanpa basa-basi lagi,

“Fix!” sambil sedikit menggebrak meja membuat Sherly tersadar dari salah tingkahnya.

“Fix, lu lagi kepikirin mantan lu kan. Hmm.. Udah enggak salah lagi. Udah pasti ini kalau bau-baunya begini nih.”

“Apaan sih Do. Mantan yang mana sok tau lu!” Sherly lagi-lagi berusaha menutupi.

“Emang mantan lu yang bikin lu patah hati sampai masuk rumah sakit tengah malam dan berefek pada kejombloan lu selama ini ada berapa Sher?”

Sherly tidak menjawab pertanyaan Aldo, dia hanya semakin memanjangkan bibirnya dan mengaduk-ngaduk makanannya. Sherly memang sedang memikirkan kesendiriannya. Entah kenapa pernikahan Elya membuat Sherly tersadar bahwa ia tidak bisa selamanya sendiri. Ada batasan usia yang harus dia kontrol untuk dapat berlenggang sendirian dalam hidupnya. Ia harus segera menyelesaikan luka hatinya yang terlalu lama ia tanam. Ia harus belajar untuk merelakan dan mengikhlaskan yang sudah dilakukan mantannya terhadapnya sehingga luka hatinya begitu dalam setiap kali teringat kejadian itu.

“Jadi, sekarang udah mau move on Sher?” Aldo menurunkan nadanya. Melihat Sherly yang diselimuti rasa lukanya lagi.

“Gue cuma baru sadar aja, kelamaan gue melihara rasa sakitnya Do. Sampai lupa kalau gue tetap harus cari pasangan nantinya. Elya married. Gue? Sakit hati aja masih berbekas gini,” Sherly menjawab lirih.

“Hahahaha. Finally Sherly. Gue sama Elya udah lama mengkhawatirkan elu. Sejak Ronald ketauan ngeduain elu detik-detik menjelang hari pertunangan kalian. Dan impian lu untuk nikah muda kandas disitu. Lu udah mulai enggak peduli sama cowok-cowok yang ada di sekitar lu. Bahkan di kantor lu yang lama ada yang naksir lu, lu enggak sadarkan?” Aldo benar-benar berusaha untuk menyadarkan Sherly kali ini.

Sherly tidak bisa menahan air matanya untuk jatuh, dengan berusaha tegar Sherly menjawab dengan suara sangat rendah, “Iya Do. Lu tau kan gue pengin banget nikah muda. Gue sama Ronald pun bukan pacaran yang cuma sehari dua hari kan Do. Apalagi kita berdua udah dekat dengan keluarga masing-masing. Gue enggak pernah nyangka kalau dia bisa setega itu sama gue. Gue salah apa Do, gue kurang apa sampai dia nyakitin gue kaya gini,” tetesan airmata Sherly makin deras.

“Sher, kita enggak pernah tau masa depan seperti apa. Buktinya, Elya mana pernah kita kira dia bakal nikah duluan. Secara kita berdua juga tahu kalau dia hobi banget ganti-ganti pacar. Dari dulu mana sih yang dia pacaran sampai setaun. Lu hitung sendiri deh berapa banyak mantannya yang diputusin. Tahu-tahu sekarang ada juga yang bisa ngajak dia serius. Iya kan? So, sekarang tinggal balik ke diri lu. Lu harus mau membuka diri. Jangan terus terkungkung dengan masa lalu.”

Sherly hanya terdiam masih berusaha untuk mengendalikan emosinya dan air matanya.

“Udah ah. Wong kita mau bicarain berita bahagia si Elya malah sedih begini sih. Buruan abisin makananya, terus kita pulang. Oke,” Aldo segera mengangkhiri pembicaraan.

***

Dengan wajah lesu dan mata menghitam di bawah matanya akibat begadang Sherly memasuki kantornya dan langsung menuju meja kerjanya.

“Sher, ke ruangan saya ya,” Suara Mba Tiar dari balik kaca ruangannya membuat Sherly harus segera memperbaiki moodnya.

“Iya Mba,” Sherly segera merapikan rambutnya dan membawa agenda menuju ruang Mba Tiar.

Satu jam kemudian Sherly keluar dari ruangan Mba Tiar dengan wajah sedikit tegang. Deadline pekerjaanya maju menjadi Jumat ini. Waktu yang ia miliki semakin mepet hanya dua hari. Dan lagi sebenarnya Sherly dan Aldo akan berangkat jumat pagi karena mereka ingin hadir di akad pernikahan sahabatnya itu.

“Hallo, Do, Duh gue bingung banget nih deadline gue maju bentrok sama rencana kita ke Subang hari jumat,” ucap Sherly yang langsung menghubungi Aldo.

“Lu nyerocos aja kaya petasan Sher kebiasan deh. Ya sudah lu beresin kerjaan lu sebelum Jumat jadi Jumat kita tetap bisa jalan. Gimana? Demi Sher demi, enggak mungkin banget kan kita enggak hadir di akadnya Elya. Come on Sher! You can do it dear,” Aldo meyakinkan Sherly yang dilanda keraguan dan kepanikan.

“Oke. Gue telpon Elya dulu deh. Bye,” Sherly langsung menutup teleponnya dan menghubungi Elya.

“Ya Sher kenapa? Gue lagi rapat keluarga ini,” Elya sedikit berbisik mengangkat telepon dari Sherly.

“Sher, deadline gue maju hari Jumat pas banget sama akad lu. Kalo gue datang resepsinya saja, lu enggak marahkan El? Gue enggak mungkin nego sama bos gue nih. Projek pertama gue El,” tanpa basa-basi Sherly langsung menjelaskan pada Elya.

Elya segera pamit keluar ruangan untuk menjawab kalimat Sherly, dan dengan sedikit berteriak Elya menjawab.

“Sherly! Gue married cuma sekali seumur hidup terus lu tega enggak datang di akad pernikahan gue gitu? Enggak mau liat momen terbaik dalam hidup gue ketika gue di halalkan oleh calon suami gue gitu? Lu kan tau ini cita-cita gue banget married di umur 24. Dan ketika ini terjadi lu ga mau jadi bagian dari itu gitu? Sherly!”

Sherly yang sambil membayangkan gaya centilnya Elya ketika menceramahi dirinya itu hanya gigit jari mendengarkan Elya.

“Sherrr lu denger gue ga?” Bentak Elya.

“Iya El iya gue dengerin lu dengan baik makanya gue diem memastikan lu udah selesai atau masih panjang haha.”

“Ih lu nyebelin. Udah ah pokonya lu sama Aldo harus wajib dateng di akad dan resepsi pernikahan gue titik. Gue lanjut rapat dulu ya. See you guys,” Elya mengakhiri percakapan mereka.

Sherly hanya menghela nafas, berpikir sejenak strategi yang harus ia lakukan untuk menyelesaikan semua pekerjaanya sebelum Jumat. Artinya ia hanya punya 1 hari 1 malam dari hari ini hari Selasa. Kamis pagi Sherly harus sudah presentasi terakhir untuk finishing pekerjaanya.

“Oke. Gue pasti bisa,” gumam Sherly.

Sherly segera mengumpulkan timnya dan meeting untuk strategi pekerjaanya itu. (bersambung)


Like it? Share with your friends!

hernanda

0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *