Lelaki di Mobil Itu (Bagian 3 – Habis)

Episode ketiga cerpen webseries ini semakin seru lho. Sherly bisa menyelesaikan tugasnya dan tepat waktu ke pernikahan Elya. Lantas, siapa sebenarnya lelaki penunjuk arah itu? Baca ya sambil dengerin lagunya Adera 'Lebih Indah'.


Peluang jadi Local Host bersama Lokalpedia

NgenetYuk Fiksi! – Cerita cerpen webseries sebelumnya: Ditengan keterkejutan Sherly atas pernikahan Elya, Ia mengingat kembali kenangan buruk dengan cinta yang membua

tnya kini menutup diri.

***

Waktu berjalan begitu cepat. Bagaikan jam berputar kurang dari 24 jam. Hari ini hari kamis. Tiba waktunya Sherly harus bisa menyajikan presentasi terakhirnya untuk klien. Sherly sudah mempersiapkan semuanya semalaman suntuk. Ditemani kopi dan camilan ringan kesukaanya. Kali ini entah kenapa Sherly cukup tegang namun menahan diri untuk mengajak motor kesayangannya kebut-kebutan. Penuh kegalauan Sherly menyelesaikan pekerjaanya. Jika ini tidak benar-benar selesai maka habislah dia. Elya bisa memusuhinya selama mungkin.

“Pagi Mbak Sherly, tumben pagi Mba,” sapa ramah dari Sari seperti biasa.

“Hai Sari pagi. Iya nih, biar lebih well prepare,” jawab Sherly menutupi ketegangannya dengan senyuman.

Sherly segera mempersiapkan segala sesuatunya di ruang meeting. Kali ini ia memberikan tambahan permen di meja klien agar klien dapat lebih rileks mendengarkan presentasinya nanti. Pakaian yang ia kenakan hari ini pun agak lain, lebih sedikit formal dari biasanya dan ia sedikit mengenakan lipstik di bibir tipisnya.

Tak menunggu lama klien yang ditunggu-tunggu sudah datang. Kali ini Mbak Tiar menemai di dalam ruang meeting.

Dua jam berlalu. Mbak Tiar dan Sherly berjabat tangan dengan senyuman kepada para klien dan mereka mengantarnya ke lobby.

“Sher, good job! Kamu boleh pergi besok,” tiba-tiba Mbak Tiar memulai pembicaraan.

“Serius Mba? Thanks banget ya Mbak, Saya beresin laporannya dulu hari ini,” Sherly menjawab dengan penuh semangat.

“Jam 4 di meja saya ya Sher,” Mbak Tiar berkata sambil meninggalkan Sherly di lobby.

Sherly langsung menelepon Aldo memberitahu kalau besok sesuai rencana awal.

“Great Sherly! Gue bilang juga apa. Lu pasti sanggup kan. Oke besok gue jemput ke kosan lu ya,” Sahut Aldo.

***

Perjalanan menuju Subang tidak begitu macet. Tidak membutuhkan waktu lama mereka sudah sampai di daerah Subang. Namun yang jadi masalah mereka berdua tidak terlalu hapal jalan di kota itu. Dan letak acara akan diselenggarakan itu ada di Subang sebelah mana.

“Do, duh gue enggak paham nih baca petunjuk yang dikasih si Elya. Nanya aja kali ya?” Sherly mulai kebingungan membaca arah.

“Ya sudah cari yang bisa ditanya deh kalo gitu,” Aldo menepi sambil melihat-lihat siapa yang bisa ditanya.

“Bapak itu aja Do,” tunjuk Sherly.

“Ya sudah tunggu ya,” Aldo segera berhenti dan turun dari mobil mendekati bapak-bapak tukang parkir dekat situ.

“Pak, maaf numpang tanya kalau balai pernikahan ini dimana ya?” Aldo menunjukkan alamat yang diberikan Elya.

“Oh, palih ditu kang. Akang lempeng teras ke dipayun aya lampu merah tah mengkol ka kencanya kang,” bapak itu menjelaskan dengan Bahasa Sunda yang membuat Aldo tidak mengerti sedikitpun secara Aldo adalah orang Medan.

“Nuhun Pak,” hanya itu yang bisa diucapkan Aldo sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal itu dan Aldo segera kembali ke mobilnya.

“Gimana Do?” Tanya Sherly.

“Hmm, jadi gue enggak ngerti tu bapak ngomong apa dia nyerocos pake Bahasa Sunda Sher,” jawab Aldo dengan muka kebingungan.

“Hahahaha. Ya sudah lah maju deh nanti di depan kita nanya lagi.”

Akhirnya mereka melaju dengan berbekal google maps yang agak membingungkan saat itu. Ketika berhenti di lampu merah Sherly melihat mobil di depanya dengan plat nomor Jakarta. Aldo berhenti di samping mobil itu. Sherly membuka kaca.

“Kang, punten numpang tanya. Tau alamat ini kang?”

Lelaki dibelakang setirnya itu menoleh dan tersenyum, “oh balai pernikahan ya. Bareng aja. Ikutin mobil saya ya teh.”

Sherly dan Aldo tersenyum tenang, mereka akhirnya mengikuti mobil yang dikemudikan oleh lelaki tadi. Kurang lebih 20 menit mereka sampai di balai pernikahan dengan janur kuning yang tergantung nama Elya & Jo.

“Yeeiyy! Sampai!” Aldo dan Sherly bersorak. Aldo membunyikan klakson tanda terimakasih pada lelaki tadi. Dan dibalas klakson juga senyuman manis lelaki tadi. Sherly sedikit kegeeran tapi segera menghapus pikiranya itu karena teringat pernikahan Elya.

Mereka langsung merapikan diri dan Sherly sedikit berdandan demi hadir di pernikahan sahabatnya Elya. Mereka memasuki gedung dan saat itu tepat ketika mempelai pria sedang membacakan akad nikahnya untuk Elya. Sambil mencari tempat duduk yang kosong, mereka mencuri-curi waktu untuk mengabadikan momen berharga Elya itu.

“Kita tepat waktu Do,” bisik Sherly.

“Iya Sher syukurlah. Elya cantik ya Sher,” Aldo sedikit pangling.

Akad Elya berjalan dengan lancar. Dan ia pun telah sah menjadi seorang istri. Elya dibawa ke kamar ganti pengantin wanita. Aldo dan Sherly diam-diam menyelinap.

“Elllll!” Sherly tak sabar ingin memeluk Elya.

“Sherrrr! Aldooo! Kalian datang!” Elya memeluk kedua sahabatnya.

“Gue kira kalian belum sampai,” tambah Elya

“Kita liat kok waktu pengantin pria membacakan akad buat lu El, selamat yaa El,” nada Aldo terdengar sangat bahagia.

“Iya Do thank you ya thank you Sher,” Elya pun tidak bisa menyembunyikan kebahagiaanya.

“Teh, ayo ganti pakaianya dulu keburu tamu pada dateng loh,” perias pengantin Elya mengingatkan mereka yang terlena dalam kebahagiaan Elya.

“Bentar ya! kalian jangan kemana-mana,” Elya menuju ruang ganti.

Tiba-tiba ada lelaki menghampiri mereka berdua, “jadi kalian temanya Elya ya?”

Sherly terkejut mengenali wajah itu, lelaki di mobil tadi dengan senyuman mautnya.

“Wahh lu yang tadi nganterin kita kan? Kok bisa disini juga bukanya tadi enggak berhenti ya?” Aldo menyambar lelaki itu yang sedang menatap Sherly.

“Iya. Tadi gue parkir di dalam khusus keluarga,” jawab lelaki itu.

“Loh kalian udah ketemu ya?” Tanya Elya yang tiba-tiba muncul dan sudah berganti dengan gaun pengantin berwarna merah muda. Mengalihkan keheranan Sherly dan Aldo dengan jawaban lelaki tadi menyebut keluarga.

“Iya tadi kebetulan mereka kesasar pas sebelah mobil gue ka, jadi sekalian gue barengin saja tujuanya ternyata sama,” jawab lelaki itu.

“Ka?” Sahut Sherly dan Aldo berbarengan.

Lelaki itu menyodorkan tanganya ke arah Sherly yang sedari tadi tak bisa berhenti menatapnya.

“Oh iya, kenalin, gue Alex. Adik iparnya Kak Elya. Ini ya yang namanya Sherly. Lebih cantik dari fotonya ya.”

(Selesai)


Like it? Share with your friends!

hernanda

0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *