Pulpen Asmara si Karung Goni (Bagian 1)

Cerpen webseries ini akan mengisahkan tentang geng anak SMA dimana Rivaz, si tambun masuk dalam anggotanya. Nah, ada anak baru namanya Helena di kelas. Yuk, dibaca bagian satunya sambil dengarkan suara Adele, 'When We Were Young'.


Peluang jadi Local Host bersama Lokalpedia

NgenetYuk! Fiksi – “Wah, anak pindahan itu cantik banget,” bisik Ridho ke aku.

Memang sih kalau dilihat sosok gadis yang sedang memperkenalkan diri di dep

an kelas cantik, bahkan sangat cantik menurutku. Mirip siapa ya? Oh, mirip Selena Gomez, wajah Barbie, rambut panjang lewat bahu sedikit, mata indah dan senyumnya. Hmmm….

Tapi, ya lagi-lagi aku hanya bisa menelan ludah saja. Gadis secantik dia, mana mau dekat sama aku, badan gembrot tidak ideal, juara kelas juga enggak, enggak punya kendaraan ke sekolah, ah jauh dari bayangan remaja ideal lah.

“Perkenalkan, ini siswi pindahan dari SMA dari Bandung. Di tahun ajaran baru ini, dia masuk kelas ini. Semoga kalian senang dapat teman baru. Silahkan perkenalkan diri,” ujar Pak Sandi, wali kelasku.

Dengan santai dan suara yang merdu, gadis cantik itu memperkenalkan diri.

“Hai teman-teman, nama saya Helena

Aku hanya terdiam, hampir tidak berkedip aku melihat Helena dari ujung rambut sampai sepatu.

***

Waktu istirahat tiba, seperti biasa aku dan satu gengku, Ridho, Rahmat, Indra dan Sanusi kumpul di kantin. Bakso Pak Udin salah satu kegemaran kita semua. Sebab, selain harganya bersahabat, Pak Udin sering kasih bonus ke kita satu buah baso kecil karena suka kasihan katanya, kalau pesan tiga mangkok tapi untuk makan berlima. Ha ha ha…

“Biasa pak,” ujar Ridho kepada pak Udin.

Dengan sigap, Pak Udin langsung menuangkang bakso, sayuran dan mi ke mangkuk bergambar ayam jago yang legendaris itu.

Sambil bergantian menyuap kuah bakso, di sebelah pojok kantin ada wajah baru. Ya itu, anak baru pindahan dari Bandung itu, si Helena. Duduk manis dikeliling beberapa teman-teman perempuan. Ada juga sih satu dua bocah nekad yang ngajak kenalan di kantin. Helena pun melayani dengan tersenyum. Rupanya, ia ingin punya teman sebanyak-banyaknya di hari pertama.

“Woy ngelamun saja,” teriak Sanusi.

Aku memang tengah melamun menyaksikan keindahan ciptaan Tuhan. Eh, tanpa sengaja pula pandangan mataku beradu dengan pandangannya. Ia hanya tersenyum, menunduk dan kemudian tersenyum lagi.

“Wah, gila lo, pakai jampe-jampe apa? Itu sampai anak baru ngelirik elo,” ujar Ridho.

“Gini saja deh, gue tahu kalau kita semua pengin kenalan sama tuh anak baru. Kita taruhan, siapa yang berhasil mendapatkan nomor handphonenya, baso dijamin deh enggak usah bayar, yang kalah patungan. Setuju?” tawar Indra sambil mengigit bakso yang paling besar.

“Setuju…,” jawab kami serentak.

***

“Hai, kamu Helena ya? Kenalkan aku Indra,” ujar Indra yang ngakunya sekeren Aliando itu memulai pembicaraan di kantin.

“Hai juga, aku Helena. Nice to meet you,” ujar Helena dengan Bahasa Inggris yang fasih.

“Oh iya, aku pengin tanya nomor handphone kamu boleh enggak?” tanya Indra dengan percaya diri.

Helena hanya tersenyum

“Woy, gile loe ya Ndra, udah main minta nomor telepon saja,” ujar Rini, sang ketua kelas yang cerewetnya minta ampun.

Giliran Ridho beraksi.

“Prak…” sebuah ponsel jadul terjatuh menyebabkan baterai dan casingnya berhamburan di depan Helena yang baru saja berdiri dari tempat duduk di kantin.

“Yah padahal lagi nunggu telepon nih,” ujar Ridho sambil memungut ponselnya.

“Eh, halo Helena. Aku Ridho, teman sekelas nih. Mau minta tolong, aku mau telepon teman, boleh pinjam hapenya, please,” ujar Ridho sambil memelas.

“Ah, elo ini modus pasti nih. Tapi kalau beneran kenapa loe enggak pinjem hapenya si Dewi aja tuh. Loe kan dulu ngecengin dia,” ujar Shinta dengan nada curiga.

“Sini deh, pakai hape gue saja kalau benar-benar perlu,” ujar Shinta lagi.

Misi Ridho gagal total.

Nah, sekarang giliran Sanusi beraksi.

“Hmmm, ha-ha-ha-lo, sa-sa-sa-ya, sa-sa-sa,” ujar Sanusi tiba-tiba terbata-bata.

“Sayur! Heh, ini apa-apaan sih. Udah minggir sana.

Kelakuan loe udah ketebak. Kagak ada nomor telepon,” ujar Shinta.

Helena hanya tersenyum dan kemudian beranjak meninggalkan kantin. Rahmat yang melihat ketiga temannya gagal total menjalankan misinya, tak ingin kehilangan akal. Buru-buru ia berlari ke perpustakaan dan mengambil formulir.

“Hai Helena,” ujarnya tergopoh-gopoh. Maklum, perpustakaan di lantai dua, dan Rahman harus kembali menyusul Helena di lantai 1.

“Ada apa ya?” Tanya Helena lembut. Ia kemudian mengambil tisu di kantong bajunya dan menyerahkan ke Rahmat yang terlihat berkeringat.

Rahmat tentu saja kegeeran menerima tisu tersebut dan tersenyum sambil melirik empat temannya yang berada tidak jauh dari tempatnya berdiri. Setelah menyeka keringatnya, Rahmat kemudian menyodorkan kertas formulir pendaftaran.

“Ini formulir pendaftaran perpustakaan. Penting lho, apalagi kalau pelajaran sejarah, wah perlu tuh bolak balik perpustakaan. Ini lumayan supaya kamu bisa hemat tenaga,” ujar Rahmat mencoba bernada super hero kesukaannya, Superman.

“Oh terima kasih, tapi saya sudah isi pertama kali datang ke sekolah ini, waktu keliling sekolah ini pas ke perpustakaan langsung saja saya isi,” ujar Helena sambil tersenyum.

Sudah pasti, Rahmat ingin Helena mengisi salah satu list form, yakni nomor telepon. Namun, lagi-lagi gagal total!

Kini gilaran, aku.

“Eh Karni, buruan, sekarang giliran elo,” ujar Ridho.

Namaku sebenarnya bukan Karni, tapi Rivaz, keren kan? Tapi teman-teman biasa manggil Karni kependekan dari karung goni. Maklum, badanku kalau kata teman-temanku mirip karung goni.

Sesampainya di kelas, aku perlahan menghampiri tempat duduk Helena. Aku juga bingung, bagaimana caranya minta nomor telepon Helena. Aku hanya punya secarik kertas yang disobek dari salah satu bukuku, lalu pulpen cover ungu. Dengan sedikit gemetar, aku menghampiri Helena.

“Hai Helena, ini nomor telepon aku, ditulis di kertas ini ya. Kalau kamu ada perlu atau ingin banyak mengetahui tentang sekolah ini atau mungkin mau tanya pelajaran dan lain-lainlah, bisa kontak aku ke nomor ini,” ujarku sambil kutulis nomor ponselku dengan pulpen ungu.

“Ih warnanya bagus. Itu warna kesukaanku lho,” ujar Helena sambil mengamati pulpen usangku itu.

Dan, semua gengku kaget melihat reaksi Helena.

“Oke aku simpan ya nomornya. Lucu pulpennya, beli dimana?” Tanya Helena.

“Eh, anu aku beli di deket rumah di toko fotokopi. Ini tinggal satu-satunya yang seperti ini,” ujarku.

“Yah sayang ya, padahal aku suka lho,” ujar Helena lagi.

“Ya sudah kamu pegang saja dulu. Nanti aku cari lagi,” ujarku refleks. Aku sendiri enggak percaya dengan ucapanku.

“Oh terima kasih ya. Oke, nanti kalau aku perlu, aku pasti telepon kamu… eh siapa?” tanya Helena.

“Aku Rivaz,” ujarku mantap.

“Tapi teman-temanku biasa memanggil aku Karni. Kata mereka sih singkatan dari karung goni,” ujarku sambil tersenyum.

“Ih jahat, masa nama bagus jadi seperti itu sih. Aku akan panggil kamu Rivaz,” ujar Helena.

Hatiku lega, teman-temanku pada tepok jidat semua. Namun misi belum selesai, kan nomor telepon Helena belum aku pegang.

***

Bel pulang sekolah berbunyi, semua siswa berhamburan keluar kelas. Aku bersama empat temanku seperti biasa, jalan bareng karena rumah kami tidak jauh dari sekolah dan masih tergolong sejalur. Mereka masih saja membahas peristiwa di dalam kelas usai jam istirahat siang.

“Ini pasti ada yang salah,” ujar Ridho.

“Iya, pasti loe pakai jampe-jampe. Atau jangan-jangan pulpen loe itu memang ada ajiannya,” ujar Rahmat menimpali.

“Eits, tapi skor kita semua sama nih. Kita belum ada yang dapat nomor teleponnya,” potong Ridho.

Tak lama kemudian, sebuah ponsel berbunyi. Ternyata milik aku yang berbunyi.

“Ya halo,” ujarku dibalik telepon genggam merek lawas.

“Hai, aku Helena. Ini nomorku ya, tolong di-save. Nanti kalau ada perlu supaya gampang juga. Salam ya buat teman-teman kamu, lucu mereka. Bye,” ujar suara medu di balik telepon.

Kaget semua, termasuk aku. Aku menang! Terbayang selama sebulan, uang jajan awet karena sudah pasti teman-temanku yang bayar bakso. (Bersambung)


Like it? Share with your friends!

hernanda

0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *