Pulpen Asmara si Karung Goni (Bagian 2)

Dalam cerpen webseries edisi kedua ini, Helena mengajak jalan Rivaz menemani membeli buku. Ini menjadi dilema, karena Rivaz sudah janjian dengan empat sahabatnya. Yuk, dibaca sambil dengerin suara merdu Ariana Grande nyanyikan 'Dangerous Woman'.


Peluang jadi Local Host bersama Lokalpedia

NgenetYuk! Fiksi – Cerita cerpen webseries sebelumnya: Rivaz memenangkan taruhan bersama empat temannya satu geng untuk mendapatkan nomor telepon Helena, siswi cantik pindahan dari Bandung.

***

Keesokan harinya di ruang kelas, wajah keempat temanku tampak masam. Yah, hanya Sanusi saja yang menolah saat aku panggil. Itu pun dia hanya tersenyum kecil kemudian kembali membaca komik yang dibawanya. Mataku kemudian tertuju pada Helena yang sedang berbicara dengan beberapa teman lainnya. Pandangannya kemudian mengarah padaku dan kemudian tersenyum. Tak lama kemudian ia menyapaku.

“Hai Rivaz,” sapanya sambil melambaikan tangannya.

Aku pun kemudian menjawab singkat sambil membalas lambaian tangannya.

“Hai Helena.”

Guru Matematika kemudian masuk dan pelajaran pertama dimulai. Hingga kemudian jam istirahat siang, seperti biasa aku menuju kantin. Namun, seolah tidak ingin bareng, keempat temanku sudah jalan duluan menuju kantin. Saat aku hampiri pun mereka berempat hanya terdiam. Satu mangkuk bakso sudah tersedia di meja kantin.

Tuh, hasil kemenangan loe,” ujar Ridho sinis.

Aku merasa tidak enak dengan keempat teman segeng aku itu yang sudah dua tahun terakhir bersama. Namun, tidak fair rasanya kalau kemenanganku itu disambut dengan kesinisan mereka. Toh, sayembara tersebut kan atas kemauan mereka. Aku tidak selera untuk menyantap bakso yang masih mengepul di hadapanku. 

Kok, jadi begini sih guys? Kan, bukan kemauan gue juga bikin sayembara dapetin nomornya si Helena,” ujarku memecah diam mereka yang masing-masing asik dengan gadget dan komik.

Lha emang kenapa? Loe enggak suka bakso? Kalau enggak suka ya sudah sini gue embat. Jangan protes ya. Rewel banget sih, dasar karung goni,” ujar Ridho sambil mengambil mangkuk bakso dan kemudian mulai menyeruput kuahnya. Saat itu, pengin rasanya aku tonjok muka si Ridho, tapi ya, masa sih cuma gara-gara cewek saja bisa berantem. “Ah sudahlah,” gumamku.

Rupanya sepasang mata cantik berjarak kurang lebih lima meter di depanku tengah memperhatikan kejadian yang aku alami barusan. Mata Helena seperti serius memperhatikan kejadian itu. 

Saat pulang sekolah, aku berlari menghampiri empat orang temanku. Baru berdiri disamping Rahmat dan hendak menyapa, telepon genggamku berbunyi. “Ah, dari Helena,” gumamku saat melihat layar ponsel jadulku itu.

“Iya halo,” sapaku.

“Halo, Rivaz nanti sore bisa ketemu enggak. Aku ada perlu nih, mau cari buku. Di dekat rumahku sih ada toko buku di mal. Mau ya?” Harapnya.

Aku sempat bingung, sebab nanti sore aku sudah terlanjur janjian sama empat sohibku itu. Janjian sejak sepekan lalu mau main futsal bareng. Mumpung hari Jumat dan besok Sabtu libur. Di tempat futsal milik salah satu pemain bola nasional itu, memang jadwalnya sangat padat sangking ramainya. Kita pun baru dapat jadwal ya, jumat nanti sore. Mau tanding lawan teman lain kelas. Namun, aku sepertinya tak kuasa menolak ajakan Helena. Kapanlagi coba, bisa nemenin gadis secantik Helena yang saban hari di sekolah ada saja yang mau kenalan dengannya.

Hmmm, oke sebentar nanti aku hubungi kamu lagi ya,” jawabku dan kemudian berbasa basi mengakhiri pembicaraan dengan Helena.

Guys, nanti sore jadi?” tanyaku kepada teman-temanku.

“Jadilah, emang kenapa? Loe enggak bisa ikut?” Tebak Ridho.

“Aku tiba-tiba diminta bantuin nyokap nih ke pasar. Kalau aku enggak bisa gimana?” Tanyaku.

Mereka berempat terdiam. Rahmat kemudian menyela.

“Terserah loe saja deh,” ujarnya ketus.

***

Di mal aku dan Helena kemudian langsung mendatangi toko buku favoritnya. Ternyata Helena itu suka banget kisah-kisah fiksi. Setelah membayar dua novel, kemudian Helena mengajak aku untuk makan malam.

“Biar aku yang traktir ya, kan kamu sudah mau nemenin aku,” ujar Helena.

Sebenarnya sih aku pengin makan di fast food kawasan mal, namun sepertinya aku enggak terlalu biasa. Karena itu aku mengusulkan untuk makan di tempat lain.

“Kalau di roti bakar tempat favoritku mau enggak. Enggak jauh kok dari sini. Ada nasi gorengnya juga lho,” bujukku.

Helena terdiam namun ia rupanya tertarik dengan ajakanku.

“Tapi enggak jauh kan? Jangan sampai malam-malam ya,” ujarnya sambil melirik jam tangan yang sudah menunjukkan hampir waktu maghrib. Ia kemudian menghubungi sopirnya dan menjemput kami di depan lobi mall.

Eh tapi, aku izin sebentar, mau salat maghrib dulu di musala mal ya,” ujarku yang disambut anggukan Helena.

***

Sambil menikmati roti isi kornet, Helena mulai bercerita tentang keluarganya. Ternyata ia masih keturunan bule Eropa, tepatnya Jerman. Kakeknya orang Jerman yang dahulu ‘nyasar’ di Bandung kemudian menikah dengan nenek Helena dan akhirnya menetap di Bandung. Ayah Helena salah seorang pengusaha sukses yang tengah membangun usahanya di daerah Jakarta pinggiran, tepatnya sih di Bekasi. Menariknya, ibu Helena sudah meninggal empat tahun lalu karena kanker payudara. Ia anak bungsu dari dua bersaudara. Kakaknya lelaki sedang menempuh pendidikan lanjut di Jerman.

Kok, kamu mau dekat dengan aku?” tanyaku polos.

Helena tersenyum dan menjawab pertanyaan polosku itu.

“Aku suka cowok yang enggak banyak tingkah dan aku lihat kamu enggak banyak tingkah, beda dengan teman-teman kamu itu. Tapi, mereka lucu juga sih,” ujarnya. Aku pun tersenyum mendengar jawaban itu. Aku enggak mau banyak tingkah karena memang aku merasa bukan siapa-siapa dan apa-apa.

“Satu lagi, gaya kamu itu memang beda. Kalau teman-teman lain langsung meminta nomorku, kamu malah kasih nomor kamu dan aku memang suka warna ungu. Pulpen kamu warnanya ungu pula,” ujarnya sambil tersenyum.

Menurutnya, warna ungu itu punya filosofi yang sangat indah. Warna yang tidak terlalu gelap, tapi juga tidak terlalu terang. Helena kemudian membuka tasnya dan mengeluarkan pulpen cover ungu milikku.

“Ini aku kembalikan,” ujarnya sambil memberikan pulpen.

“Ah, sudahlah buat kamu saja. Nanti aku cari lagi,” ujarku sambil menyeruput es jeruk kesukaanku.

Kami kemudian terlibat percakapan kembali sampai akhirnya Helena mengajakku untuk pulang. Sambil berdiri kemudian dari jauh aku mendegar suara yang tidak asing lagi.

Woy, ternyata loe bohong ya. Enggak ikutan main futsal eh malah nongkrong di sini,” ujar Ridho.

“Cukup tahu aja, dua tahun pertemanan kita sampai disini,” lanjutnya.

“I-i-iya, e-e-elo kok jadi be-be,” Sanusi mulai bicara.

Belekan! Udah kita pergi saja. Begini nih kalau teman sudah silau sama perempuan,” imbuh Rahmat.

Mereka pergi meninggalkan aku dan Helena yang terdiam.(bersambung)


Like it? Share with your friends!

hernanda

0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *