Pulpen Asmara si Karung Goni (Bagian 3 – Selesai)

Di episode ini, cerpen webseries akan menceritakan kejutan hubungan RIvaz dan Helena. Yuk, dibaca sambil mendengarkan lagu Selena Gomez, 'Same Old Love'.


Peluang jadi Local Host bersama Lokalpedia

NgenetYuk! Fiksi – Cerita cerpen webseries episode sebelumnya: Rivaz harus membohongi empat temannya agar bisa jalan bersama si cantik Helena, tapi akhirnya ke

tahuan. Bagaimana nasib geng Rivaz kemudian?

***

Di kelas, keempat temanku benar-benar sudah tidak mau bicara lagi. Jangankan bicara, bahkan melirik atau melempar senyum ke arah Rivaz saja tidak mau. Ridho yang biasanya suka menggoda Rivaz karena duduk di sebelahnya pun terdiam. Wajahnya sangat tidak bersahabat sekali denganku.

“Maaf ya Dho, gue ngaku salah,” ujarku saat duduk di sebelah Ridho.

Ridho terdiam, ia masih sibuk dengan beberapa catatan yang tengah disalin. Memang hari itu pelajaran pertama sejarah, ada tugas dan sepertinya Ridho tengah buru-buru mengerjakannya. Tak terdengar suara balasan Ridho, Rivaz kemudian menyimpan tasnya di bawah. Guru sejarah datang dan kemudian pelajaran dimulai.

Jam istirahat siang, aku mencoba menghampiri keempat temannya di kantin. Di hadapannya sudah ada semangkuk bakso yang masih mengepul.

“Tuh, kita tetap tepati janji meski elo sudah membohongi kita,” ujar Rahmat ketus.

Ah, rasanya aku sudah tidak lagi berselera mengaduk bakso di depannya untuk dimasukkan ke mulut.

“Gue minta maaf ya. Jumat kemarin bingung soalnya mau nolak Helena. Enggak akan kejadian lagi deh,” ujarku dengan nada memelas.

“Dasar karung goni. Ini pelajaran buat elo juga. Loe kenal kita duluan kan daripada Helena. Ini bukan karena elo menang taruhan, tapi komitmen kita sebagai teman loe simpan dimana? Kita udah janjian jauh-jauh hari, Cuma gara-gara Helena ngajak pergi loe bohong,” ujar Ridho meluapkan emosinya.

Aku hanya terdiam, tak mampu lagi berbicara. Sementara itu, seperti biasanya Helena yang melihatku menghampiri.

“Halo Rivaz,” ujar Helena.

Aku hanya terdiam, ada kata-kata yang ragu untuk diucapkan namun akhirnya aku pun tak kuasa membendungnya.

“Halo Helena, sepertinya sejak kejadian kemarin Jumat, aku sudah membohongi teman-temanku. Jadi agar tidak terjadi lagi hal yang sama, mungkin ada baiknya kita sudah mulai menjaga jarak ya. Lagipula aku siapa sih, bukan apa-apa dan siapa-siapa,” ujarku.

Helena tersentak, begitu pula dengan keempat teman Rivaz. Tidak ada yang menyangka, aku berani mengeluarkan kata-kata itu.

“Lho, aku kan enggak tahu kalau kamu bohongi teman-teman kamu. Lagipula kenapa jadi kamu kok seperti menyalahkan aku ya? Kamu tuh lelaki seperti enggak punya pendirian. Pantesan saja kamu suka di-bully sama teman-teman kamu. Dibilang karung goni, ternyata memang kamu pantas diperlakukan seperti itu,” bentak Helena yang kemudian ngeloyor pergi.

Aku juga kaget mendengar jawaban Helena yang ketus seperti itu, begitupula dengan empat sohibku.

Maka, aku dan teman-teman jadikan hari itu, hari tercengang.

***

“Vaz, maafin gue dan teman-teman loe ya,” ujar Rahmat membuka pembicaraan saat pulang sekolah.

Baru kali itu Rahmat memangguil namaku dengan nama aslinya bukan Karni lagi.

“Iya, kejadian tadi menyadarkan kita sih, kalau kita itu enggak boleh memperlakukan loe seperti ini. Loe tuh orang baik, enggak pantas di-bully atau dikata-katain yang jelek oleh kita,” imbuh Rahmat yang diaminin dua temannya.

“Gue juga sadar, loe selama ini butuh suasana yang berbeda. Kita berempat sudah sering ngecengin cewek di sekolah, sementara hidup loe lempeng saja Vaz. Loe itu paling mau disuruh-suruh sama kita. Gue yakin loe juga suka sama Helena dan tidak ingin melewatkan kesempatan dekat dengan cewek secantik Helena. Meskipun kita kadang bingung, kok ada ya cewek secantik Helena mau deket sama elo yang kayak karung goni,” terang Rahmat panjang lebar dan sudah lupa kalau ia sudah tidak mau ngata-ngatainku lagi.

“I-i-iya. Lo, me-me-mendingan langsung mi-mi-minta maaf deh sama He-he,” ujar Sanusi dengan gayanya.

“Helowwww…. Susah banget ngomong Helena,” potong Ridho sambil tertawa.

Aku tersenyum sambil aku rangkul bahu mereka satu per satu. Dan kami pun pulang dengan tertawa, bercanda seperti biasa.

***

“Hai Helena, aku minta maaf ya atas kejadian kemarin. Aku enggak punya maksud apa-apa mengucapkan kata-kata itu di kantin. Sekali lagi aku minta maaf,” tulisku di secarik kertas yang sudah ada di meja Helena. Pagi itu, memang aku berangkat lebih awal, supaya bisa menulis permohonan maaf dan menyimpannya di meja Helena.

Helana yang sudah datang membaca secarik kertas tersebut. Sengaja kertas itu aku tindih dengan pulpen ungu, supaya kalau Helena enggak mau bicara lagi sama aku, kan bisa nulis dibalik kertas itu. Ya, memang aku melihat Helena sedang menulis sesuatu. Kemudian ia menghampiriku. Menyimpan kertas dan dihimpit pulpen. Setengah deg-degan aku membacanya.

“Oke, no problem. Be your self,” tulisan itu aku artikan Helena menerima permohonan maafku.

Aku masih melihat Helena kembali ke tempat duduknya dan kemudian memandangku sambil tersenyum. Sementara aku juga melihat dari ujung mataku, Ridho, Rahmat, Sanusi, Indra dan Rahmat melakukan tos. Eh, tapi kenapa tiba-tiba kepalaku pusing ya, apa karena tadi pagi belum sarapan. Aku limbung dan kemudian terjatuh dari kursi.

“Brakkkk!”

Aku memegang kepalaku dan terdengar riuh suara tertawa seisi kelas. Rupanya aku tertidur di dalam kelas. Dan, di hadapanku kini berdiri sosok murid baru bernama Helena yang baru saja diperkenalkan Pak Sandi.

“Kamu kenapa,” ujar suara Helena yang lembut itu sambil mengulurkan tangannya.

“Dasar karung goni, Karni,” teriak Ridho sambil tertawa terpingkal-pingkal.

Aku menerima uluran tangan Helena dan kemudian berdiri lalu duduk kembali ke kursiku. Pak Sandi pun sepertinya tidak bisa menahan tertawa.

“Ayo kamu Rivaz, cuci muka dulu di wastafel belakang,” ujar Pak Sandi.

“Jadi tadi sudah kenalan ya anak-anakku dengan Helena. Buat Helena betah ya. Helena, silahkan berkawan sebanyak-banyaknya di kelas ini,” ujar Pak Sandi dan kemudian pamit.

“Nama saya Helena, kamu siapa?”

Aku hanya bisa tertegun, rupanya aku bermimpi. Namun bisa jadi aku orang yang beruntung, karena mungkin di kelas akulah orang yang pertama kali bisa menyentuh tangan Helena. Dan semoga, mimpiku itu menjadi kenyataan.

(Selesai)


Like it? Share with your friends!

hernanda

0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *