Satu Malam untuk Kembali (Bagian 1)

Cerpen webseries kali ini menceritakan tentang kisah seorang anak yang hidup bersama sang ayah. Dalam kesederhanaan, sang ayah selalu mengajarkan rasa syukur dan ikhlas. Yuk, dibaca episode pertama ini sambil dengerin lagu Seventeen "Ayah".


Peluang jadi Local Host bersama Lokalpedia

NgenetYuk! Fiksi – Terdengar suara adzan subuh berkumandang. Aku terbangun dari tidurku dan segera mengambil air wudu. Ayah sudah menungguku di ruang tamu untuk bersama

kami berangkat ke masjid. Hampir tiap pagi kami melaksanakan salat subuh di masjid dekat rumah. Bukan, ayah bukan imam ketika seluruh makmum salat berjamaah. Ayahku hanya seorang ayah biasa yang tidak pernah lupa mengajakku pergi ke masjid.

“Ayo, nak. Jangan lupa pecimu ya,” kata-kata yang

selalu Ayah ucapkan sebelum kami berangkat ke masjid.

“Iya ayah,” jawabku.

Sepulang kami dari masjid, aku langsung segera mandi dan bersiap untuk pergi sekolah. Ayah juga sudah memanaskan motornya untuk pergi bekerja dan mengantarkan aku ke sekolah. Kami tidak biasa sarapan di rumah, karena jarak yang harus kami tempuh cukup memakan waktu untuk dapat sampai di sekolah tepat waktu. Sesampai di sekolah aku langsung membeli roti di kantin Bu Isah untukku dan untuk Ayah. Maklum, kami bukan keluarga yang berlebih namun cukup dengan menghemat segala sesuatunya.

“Assalamualaikum Bu Isah, saya minta rotinya ya bu,” pintaku pada Ibu kantin yang sudah hafal roti kesukaanku dan Ayah. Biasanya ia sudah pisahkan khusus untuk kami.

“Waalaikumsalam. Ini Reza, cokelat dan keju seperti biasa ya,” sahut Bu Isah sambil tersenyum ramah.

Aku membalas senyumnya dan memberikan uangnya. Roti Bu Isah bukan roti bermerk terkenal, oleh karena itu Bu Isah jual murah hanya Rp1.500 saja. Tetapi selain karena roti itu yang kami mampu beli demi berhemat, aku dan ayah pun tetap suka karena rasanya tidak kalah dengan roti bermerk lainnya.

gambarkata.co

Kantor pos di sebelah sekolah adalah tempat ayah bekerja. Sehingga tidak membuang waktu banyak untukku mengantar roti ayah dan kembali ke sekolahku. Aku selalu jadi murid yang pertama datang di dalam kelasku. Sudah menjadi kebiasaanku membersihkan papan tulis dan menyiapkan spidol untuk guruku walau hari ini bukan jadwal piketku. Teman-teman pun sudah hafal pasti aku yang membersihkannya. Bahkan kelas kami sering menjadi juara jika ada lomba kebersihan antar kelas.

**

Sepulang sekolah aku menunggu ayah datang. Karena dari Pagi sampai siang ayah pasti berkeliling mengantarkan surat-surat yang datang. Sesampai di rumah aku segera membantu ayah menyiapkan makan siang kami karena ayah harus segera kembali bekerja. Selama ayah pergi bekerja, aku membersihkan rumah dan menyuci pakaian. Agar pekerjaan ayah lebih ringan ketika pulang bekerja sore hari.

Seselesainya aku membereskan rumah, aku tidak pernah lupa mengerjakan PR dan belajar. Karena itu aku selalu mendapat peringkat 1 di kelasku. Sesaat sebelum magrib biasanya ayah sudah sampai di rumah. Dan sambil menunggu ayah selesai mandi, aku menyiapkan sajadah dan peci milik ayah untuk kami pergi ke masjid. Ayah memang rajin mengajakku ke masjid. Katanya anak lelaki memang harus membiasakan diri untuk salat di masjid. Dan aku yang masih duduk di kelas 5 SD hanya mendengarkan dan menuruti kata ayah tanpa benar-benar tahu kenapa.

pursuit of happiness

Terkadang kami salat maghrib di rumah saja, jika ayah terlambat pulang karena banyaknya surat yang harus diantarkan hari itu. Ketika kami salat maghrib di rumah, ayah selalu menjadi imam untukku. Dan aku selalu bersiap ketika ayah membacakan ayat terakhir dari Al-Fatihah :

“….. صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ “

“Ammiiiiiinnnnn,” kata yang selalu semangat aku ucapkan dengan suara lantang.

Selepas salat maghrib biasanya kami mengaji bersama. Ayah membantuku untuk lebih mahir membaca Alquran. Mempelajari ilmu-ilmu agama dan mengajarkan aku akan nilai-nilai agama Islam untuk memperkuat imanku. Beliau sering menceritakan kisah-kisah nabi dan para sahabatnya sebagai contoh dan panutan hidup kami. Ayah juga sering mengingatkanku untuk selalu bersyukur dengan hidup yang kami jalani. Maka kami akan bahagia jika kami ikhlas menjalaninya. Dan benar, aku selalu merasa bahagia bisa ada di dekat ayah. Ayah segalanya untukku.

***

isigood.com

“Za..uhukk..uhukk..”

“Iya Ayah, ada apa? Ada yang mau Reza ambilkan?” aku langsung sigap menghampiri Ayah di kamarnya.

“Tidak Nak, uhukk.. ayah hanya ingin tau, kamu besok masih mengantar surat?” ayah terbata-bata karena terhalang batuknya untuk bicara.

“Iya ayah, besok kan belum hari liburku. Memangnya kenapa?” jawabku.

“Uhukk.. Ayah hanya khawati..i..ir.. Uhuukk.. kamu kan sudah mendekati ujian akhir Nak. Ayah..uhukk..ayah ingin kamu tetap mendapat nilai yang baik..uhukk.. Biar bisa dapet beasiswa untuk kuliah nanti.”

“Insya Allah ayah. Aku bisa membagi waktu belajar dan bekerja. Selama ayah terus doakan aku,” aku menjawab sambil memberi ayah segelas air hangat untuk meredakan batuknya.

“Pasti Nak. Uhukk.. Kamu belajar lagi..,” Ayah merebahkan kembali tubuhnya.

Aku keluar dari kamar dan melanjutkan belajar di ruang tengah. Minggu depan aku sudah mulai menghadapi UN untuk kelulusan SMA. Ayah ingin aku bisa mendapatkan beasiswa agar aku tetap bisa kuliah dan bekerja nantinya. Aku tahu aku harus berjuang, karena ayah pasti tidak punya biaya untuk membiayaiku di perguruan tinggi nanti. Sekarang saja, uang yang aku dapat dari menggantikan ayah berkeliling mengantarkan surat hanya cukup untuk makan dan obat-obatan ayah. Bahkan terkadang kurang.

“Astagfirullah, aku malah melamun,” aku segera ambil air wudu kemudian salat isya.

Sejak ayah sakit, setiap habis salat aku selalu teringat ibu. Apalagi jika malam tiba, andai ibu tidak pergi ke sawah mungkin dia tidak akan terperosok ke sungai saat menyebrangi jembatan kayu itu. Ibu adalah petani yang sangat tekun mengurusi sawah keluarga kami. Harta berharga kami karena dari sawah itu kami bisa makan. Pekerjaan ayah masih serabutan saat itu dan tidak pasti. Saat itu aku kelas 2 SD, Ayah yang pergi menjemputku di sekolah memutuskan untuk menunggu hujan reda.

YouTube

“Ayah, hujan ayah. Hujan, gimana ayah, hujan,” tanyaku dengan polos.

“Kita tunggu hujan reda ya, baru kita pulang. Jadi kita tidak akan merepotkan ibu karena baju kita basah Reza,” jawab ayah dengan senyum khasnya sambil berlutut menghadapku.

Aku mengangguk dan menunggu bersama ayah. Setengah jam kami berdiri dan hujan pun berhenti. Aku langsung kegirangan mengajak ayah pulang karena sudah kangen ibu di rumah.

Karena khawatir sawah kami kebanjiran, begitu hujan berhenti ibu segera pergi untuk melihat sawah. Saat itu kami tidak punya alat komunikasi apapun termasuk handphone. Jalanan menuju sawah sangat licin akibat hujan tadi, dan ibu harus melewati jembatan kayu yang sudah rapuh untuk bisa sampai ke sawah kami. Ibu hanya menggunakan sandal jepit karena kami tidak punya sepatu boot. Sandal itu tertinggal di jembatan saat ibu hanyut terbawa arus sungai dan ditemukan oleh beberapa petani lain yang juga ingin melihat sawahnya. Dari situlah salah satu petani yang menemukan sandal ibu kemudian berlari ke rumah untuk memberi tahu ayah. Aku dan ayah baru saja sampai di depan rumah, ayah memarkirkan motornya dan aku memanggil ibu.

“Ibu, ibu, aku dan ayah pulang, bu, ibu,” aku berteriak sambil mengetuk pintu yang dikunci.

Tiba-tiba aku mendengar suara Pak Karman, petani yang sawahnya bersebelahan dengan sawah kami.

“Pak Salim! Pak Salim! Bu Salim pak! Itu pak, Bu Salim hanyut Pak dan kami temukan sandal dan payungnya tergantung di jembatan pak, ayo Pak ayo!” Pak Karman berlari mendekati kami yang terkejut mendengar teriakannya.

“Ayo Nak!” Dengan panik dan mulai berkaca-kaca Ayah segera menggendongku dan berlari bersama petani tadi menuju jembatan.

Bersyukur ada warga yang menemukan ibu beberapa meter dari jembatan ketika kami sampai di lokasi. Tetapi ibu sudah tidak bisa diselamatkan karena kepalanya terbentur bebatuan sungai. Aku masih belum begitu paham saat itu, Ayah menggendong ibu bersama warga menuju rumah kami dan sepanjang jalan aku hanya menangis sambil memanggil-manggil ibu berharap ibu membuka matanya. (Bersambung)


Like it? Share with your friends!

hernanda

0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *