Satu Malam untuk Kembali (Bagian 2)

Di episode kedua cerpen webseries ini diceritakan tentang sakitnya ayah Reza yang semakin parah. Lantas, apakah berpengaruh terhadap kelulusan Reza? Dibaca ya sambil dengerin lagunya Peterpan "Ayah".


Peluang jadi Local Host bersama Lokalpedia

NgenetYuk Fiksi – Cerita cerpen webseries sebelumnya: Ayah Reza sedang sakit, sementara Reza menggantikan tugas sang ayah mengantar surat dengan tetap tidak meninggal

kan belajar. Lantas, bagaimana nasib ujian nasional Reza?

**

“Reza, uhuk,” tiba-tiba ayah memanggilku yang masih mengingat ibu diatas sajadah di ruang tengah.

“Iya Ayah, sebentar,” aku menghapus air mataku dan segera membereskan sajadahku.

“Kenapa Yah? Ayah mau ke k

amar mandi? Atau mau minum?”

“Uhukk. Tolong ambilkan air Nak.”

Ternyata air yang biasa ku sediakan dalam teko di kamar ayah sudah habis. Aku segera ke dapur dan mengambilkan air untuk ayah.

“Ini yah, minum dulu,” aku membantu Ayah bangun.

“Kalau ibumu masih ada, pasti kamu tidak serepot ini ya Nak.. uhukk,” kata-kata ayah mengagetkanku, seolah ia tahu bahwa aku sedang memikirkan ibu.

“Ayah, aku enggak repot kok. Jangan bilang begitu ya, ini minum lagi,” aku berusaha menyembunyikan kesedihanku.

Memang benar, jika ibu masih ada pasti ayah akan lebih cepat sembuh. Dulu waktu ibu masih ada dan ayah sakit, ibu pasti selalu merawat ayah dengan baik. Membuatkan bubur kesukaan ayah, dan ayah jadi banyak makan walaupun sedang sakit. Ayah tidak pernah sakit berminggu-minggu seperti ini. Bahkan ini sudah hampir satu bulan ayah terbaring karena batuknya. Obat yang diberikan dokter Puskesmas pun sudah hampir habis tapi ayah masih belum sembuh juga. Wajahnya semakin pucat dan tubuhnya semakin kurus.

“Tok..tok..tok,” aku segera membukakan pintu.

“Assalamualaikum Reza. Gimana kabarnya?”

“Waalaikumsalam Pak RT. Alhamdulillah baik pak, mari silahkan masuk.”

“Ini ada sedikit makanan untuk kamu dan Pak Salim. Juga sedikit tambahan untuk membeli obat. Diterima ya Za. Gimana kabarnya ayahmu?”

Para tetangga memang cukup sering menjenguk dan membawa makanan atau tambahan uang. Pak RT salah satu yang paling rajin mengunjungi kami.

“Alhamdulillah. Terimakasih banyak Pak RT. Ayah masih begitu saja pak. Mari silahkan Pak,” aku mengantar Pak RT ke kamar ayah.

***

alodokter.com

“Reza, uhuk,” tiba-tiba ayah memanggilku yang masih mengingat ibu diatas sajadah di ruang tengah.

“Iya Ayah, sebentar,” aku menghapus air mataku dan segera membereskan sajadahku.

“Kenapa Yah? Ayah mau ke kamar mandi? Atau mau minum?”

“Uhukk. Tolong ambilkan air Nak.”

Ternyata air yang biasa ku sediakan dalam teko di kamar ayah sudah habis. Aku segera ke dapur dan mengambilkan air untuk ayah.

“Ini yah, minum dulu,” aku membantu Ayah bangun.

“Kalau ibumu masih ada, pasti kamu tidak serepot ini ya Nak.. uhukk,” kata-kata ayah mengagetkanku, seolah ia tahu bahwa aku sedang memikirkan ibu.

“Ayah, aku enggak repot kok. Jangan bilang begitu ya, ini minum lagi,” aku berusaha menyembunyikan kesedihanku.

Memang benar, jika ibu masih ada pasti ayah akan lebih cepat sembuh. Dulu waktu ibu masih ada dan ayah sakit, ibu pasti selalu merawat ayah dengan baik. Membuatkan bubur kesukaan ayah, dan ayah jadi banyak makan walaupun sedang sakit. Ayah tidak pernah sakit berminggu-minggu seperti ini. Bahkan ini sudah hampir satu bulan ayah terbaring karena batuknya. Obat yang diberikan dokter Puskesmas pun sudah hampir habis tapi ayah masih belum sembuh juga. Wajahnya semakin pucat dan tubuhnya semakin kurus.

“Tok..tok..tok,” aku segera membukakan pintu.

“Assalamualaikum Reza. Gimana kabarnya?”

“Waalaikumsalam Pak RT. Alhamdulillah baik pak, mari silahkan masuk.”

“Ini ada sedikit makanan untuk kamu dan Pak Salim. Juga sedikit tambahan untuk membeli obat. Diterima ya Za. Gimana kabarnya ayahmu?”

Para tetangga memang cukup sering menjenguk dan membawa makanan atau tambahan uang. Pak RT salah satu yang paling rajin mengunjungi kami.

“Alhamdulillah. Terimakasih banyak Pak RT. Ayah masih begitu saja pak. Mari silahkan Pak,” aku mengantar Pak RT ke kamar ayah.

***

simomot.com

Hari ini hari pengumuman kelulusan. Aku bersemangat untuk berpamitan dan minta restu ayah.

“Ayah, mohon doanya. Semoga aku lulus dan bisa dapatkan beasiswa itu sesuai harapan ayah dan Ibu sejak dulu,” aku mencium tangannya.

“Nak, uhukk.. Ayah yakin kamu lulus uhukk.. Uhukk, dan dapat beasiswa.. uhukk.. Kamu..uhukk.. kamu anak ayah satu-satunya. Kamu selalu..uhukk.. membuat bangga ayah dan ibu dari kecil. Berbakti pada orangtua dan menuruti ajaran-ajaran agama. Uhukk..uhukk,” batuk ayah semakin kencang karena terlalu banyak yang ingin ia sampaikan padaku.

“Sudah, nanti ayah tambah parah batuknya,” Aku tak kuasa menahan rasa sedihku melihat kondisi ayah yang tak kunjung membaik. Ia berjuang untuk sampaikan ini padaku. Aku segera memberinya segelas air hangat dan obatnya.

“Terimakasih nak,” selesai ayah meminum obatnya.

“Iya Ayah,” aku menaruh gelasnya di meja samping tempat tidur Ayah.

“Terimakasih kamu dengan sabar merawat Ayah ya Reza. Kamu harus jadi anak yang sukses ya Reza. Awalilah sesuatu dengan bismillah dan jangan pernah lupa salat dan doa.”

“Iya Ayah.. Aku tidak akan pernah lupakan semua yang Ayah ajarkan padaku. Reza berangkat ya Ayah,” aku segera menghapus air mataku dan pamit berangkat ke sekolah.

Sesampainya di sekolah, seluruh guru dan murid-murid sudah ramai sekali. Bahkan terlihat beberapa siswa yang orangtuanya ikut ke sekolah. Mungkin mereka ingin segera mengetahui hasilnya langsung di sekolah. Aku langsung menuju lapangan. Lapangan yang menjadi tempat sejarah kelulusanku hari ini.

“Reza! Reza!” Toni berteriak sambil melambaikan tangannya. Aku menghampirinya.

“Hai Ton, jam berapa kelulusannya?” Tanyaku.

“Sebentar lagi Za. Aku sudah tidak sabar. Kita pasti lulus kan Za?” Toni sahabatku terlihat gugup.

“Haha, tenang saja. Insya Allah kita lulus. Kita kan sudah belajar Ton. Bismillah saja ya,” aku menepuk pundaknya berusaha menenangkannya.

“Duh, kamu kan rangking 1 terus pasti lulus. Lah aku? 10 besar saja enggak pernah. Ngimpi Za,” jawab Toni.

“Tenang semua! Berbaris yang rapih sesuai kelas masing-masing ya. Ketua kelasnya tolong bantu rapihkan ya!” Pak Kepsek sudah berdiri di podium dengan memegang map merah yang menjadi perhatian seluruh siswa.

Aku merapihkan kelasku untuk berbaris. Dan memimpin mereka di barisan terdepan sejajar dengan ketua kelas yang lain.

“Baik anak-anak, para orangtua siswa yang hadir, Assalamualaikum dan selamat pagi!” Pak Kepsek segera membuka upacara pagi ini.

“Waalaikumsalam,” Kami menjawab serempak. Semua hening seketika menunggu Pak Kepsek bicara lagi.

“Hari ini adalah hari yang kita tunggu-tunggu. Seperti kita ketahui kalian sudah melewati Ujian Nasional selama tiga hari kemarin. Dan dengan bangga saya mengumumkan kelas 3 SMA Negeri 1 Desa Cimanggis lulus!”

“Alhamdulillaaaahhhhhh,” aku dan seluruh kelas 3 yang berada di lapangan bersorak kegirangan.

“Dan saya akan bacakan nama-nama beberapa siswa yang mendapatkan beasiswa di perguruan tinggi ya. Desi dari kelas 3A, Ramdan kelas 3C, Intan kelas 3A,” Pak Kepsek menyebutkan nama satu persatu. Aku menunduk dan mendengarkan sambil terus berdoa.

“…….Reza dari kelas 3B……,” aku menegakkan kepalaku sambil masih terkejut tidak percaya.

“Za! Nama kamu Za! Tadi nama kamu Za!” Toni heboh ikut kegirangan mendengar namaku. Meyakinkan aku jika memang namaku yang disebut Pak Kepsek.

“Alhamdulillah Ya Allah…!” Aku langsung bersujud di lapangan itu diiringi sorak Toni dan teman-teman lain.


Like it? Share with your friends!

hernanda

0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *