Satu Malam untuk Kembali (Bagian 3 – Habis)

Cerpen webseries bagian akhir ini mengisahkan dalam perjalanan kesuksesan Reza, ada dosa yang diperbuatnya. Bagaimana ia tersadar? Yuk, dibaca sambil mendengarkan lagu "Ayah" dari Saykoji.


Peluang jadi Local Host bersama Lokalpedia

NgenetYuk Fiksi – Cerita sebelumnya: Reza mendapatkan beasiswa di tengah keterbatasannya. Lantas apa yang membuat Reza terkejut saat pulang ke rumah?

**

Den

gan penuh haru aku berlari menuju rumahku sambil mengenggam surat kelulusan dan beasiswaku. Aku sudah tidak sabar ingin memeluk ayah dan memberinya kabar bahagia ini. Aku lulus ayah. Aku lulus ibu. Aku dapat beasiswa itu. Aku akan kuliah. Aku bisa sukses.

Tidak jauh dari rumah aku melihat bebe

rapa tetangga ada di rumahku. Aku melihat Pak Karman menangis dan sedang ditenangkan oleh tetangga yang lain. Pak Karman, petani yang pernah menolong ibu juga ikut menolong kami ketika aku akan masuk ke SMA. Kami menjual sawah ke Pak Karman untuk biaya aku sekolah. Walau Pak Karman selalu bilang padaku bahwa sawah ini tetap milikku kelak aku sudah dewasa. Hatiku mulai resah melihat mereka semua memandangku dengan sedih. Aku berjalan lambat menghampiri mereka.

“Ada apa Pak? Kok ramai-ramai disini? Jenguk Ayah ya?” tanyaku begitu memasuki halaman rumah.

“Reza, kita langsung berangkat ya,” Ujar Pak Karman. Aku sudah mengira ada sesuatu yang terjadi dengan Ayah.

Ilustrasi kematian, sumber: www.okezone.com

“Berangkat? Kemana Pak? Ayah dimana? Ayah kenapa? Aku mau bertemu Ayah. Aku bawa ini pak! Aku bawa surat kelulusanku! Surat beasiswaku! Ayah mana?!” Aku mulai kehilangan kendali karena tak satupun dari mereka yang bicara dan hanya menatapku dengan sedih.

Pak Karman menghampiriku dan memeluk aku.

“Yang sabar ya Reza.. Kita ke rumah sakit sekarang ya”.

“Ayah kenapa Pak Ayah kenapaaa??!”

“Ayahmu jatuh di kamar mandi dan tidak sadarkan diri. Pak RT yang menemukan ayahmu sudah terkapar di lantai kamar mandi dengan berlumuran darah dan langsung membawanya ke rumah sakit. Kamu berdoa ya Reza,” sambil terisak Pak Karman menjelaskan. Akhirnya aku bersedia untuk ikut ke rumah sakit. Aku ingin melihat kondisi ayah.

Aku tidak banyak bicara di dalam angkot yang disewa warga untuk kami menuju rumah sakit. Begitu pula Pak Karman dan bapak-bapak yang ikut dalam mobil hanya terdiam. Aku terus menggemggam surat kelulusan dan beasiswaku. Aku hanya menunduk memejamkan mataku, menangis dan aku ketakutan. Sungguh aku tidak bisa bayangkan jika ayah pergi. Aku semakin kuat mengepalkan tanganku menahan ini semua.

“Aku tidak bisa sendiri Ayah. Jangan pergi, jangan tinggalkan aku. Aku belum memenuhi semua harapanmu. Ayah harus lihat surat kelulusanku, surat beasiswaku. Ayah, ya Allah, lindungilah ayah aku mohon,” Aku bergumam dalam hati.

**

Ilustrasi mabuk. Sumber: www.harnas.co

“Tokk tokk tokk torok rok tokkkk! Sahuurrr! Sahuurrrr! Dung dung dung! Tok tok tokk torok rok tokkk! Sahuurrrr! Sahuurrr! Dung dung dung!” Aku terperanjat dan terbangun. Badanku berkeringat dan bau alkohol. Botol-botol minuman sisa semalam masih berserakan di kamar kosku.

“Sahuuurrrr! Sahuuurrr! Dung dung dung!” Suara anak-anak kecil yang dengan semangat berkeliling untuk membangunkan sahur para warga diiringi tabuhan gendang dan pentungan terdengar jelas melewati depan kosanku.

Aku tersadar semua ini hanya mimpi. Mimpi yang mengulang perjalananku sejak ibu masih ada sampai kejadian Ayah dan Ibu saat itu.

“Astagfirullahaladzim. Apa yang aku lakukan Ya Allah,” Aku membereskan semua botol-botol minuman di kamarku. Aku membungkusnya dalam plastik hitam dan aku buang ke tempat sampah. Aku langsung ambil air wudhu dan aku segera melaksanakan salat tobat.

Ilustrasi sujud. Sumber: www.selasar.com

Di atas sajadah aku berdoa,

“Ya Allah Ya Tuhanku. Maha Suci Allah. Maha Besar Allah. Aku memohon ampunanMu atas segala khilaf yang hamba lakukan Ya Allah. Aku melupakanMu. Aku melupakan ajaranMu. Ampuni hambaMu Ya Rabb. Aku bertobat Ya Allah. Aku khilaf.”

Setelah aku cukup tenang sehabis berdoa dan mohon ampun atas kekhilafanku selama ini. Aku membeli makan untuk sahur. Tidak lama adzan subuh terdengar aku segera mandi dan sholat subuh.

“Hai Za. Kemana pagi-pagi gini? Rapih benar. Kuliah pagi emangnya?” Anton teman sekosanku yang sering mengajakku mabuk tiba-tiba muncul saat aku sedang memakai sepatu ketku di ruang tengah kosan.

“Nggak kok,” Aku menjawab singkat.

“Ya udah makan yuk lapar nih. Biasa di warung Bu Tuti itu pasti udah buka kok jam 7 gini. Emang lu enggak lapar semalam abis minum banyak hahaha,” Rupanya Anton terbangun pagi karena lapar.

“Kamu saja ya, aku pergi dulu. Oh iya, aku puasa hari ini. Sebaiknya kamu juga. Assalaamualaikum!” Aku pergi meninggalkan Anton yang masih bengong mendengarkan jawabanku. Biar saja. Semoga dia juga sadar dan bertobat. Aku segera pergi menuju terminal.

Ilustrasi mudi. Sumber: www.tribunnews.com

“Tiket.. Tiket.. Disiapkan uangnya ya tiket..tiket..,” kernet bus yang mengantarkanku pulang menagih ongkosnya.

“Roti..roti..gorengan..tahu..,” tukang jualan itu pun terus menawari para penumpang padahal ini bulan puasa.

“Maaf pak, saya puasa,” aku tersenyum ramah agar dia tidak tersinggung ketika menawariku.

Jam 4 sore aku tiba di tanah kelahiranku. Aku masih harus naik angkot dan jalan kaki untuk bisa sampai di kampungku. Haru dan rindu mulai merasukiku. Aku sedikit gemetar menginjak desa ini lagi setelah beberapa tahun terakhir aku tidak pernah pulang. Tidak banyak yang berubah. Hanya jalanan setapak yang biasa ku lalui sedikit lebih bagus. Mungkin pembangunan sudah memasuki desaku tahun ini.

“Reza? Reza kan?” Seorang bapak tua mengenali aku. Padahal kini rambutku sedikit berwarna karena dipaksa oleh teman kerjaku. Dan tubuhku lebih kurus dari sebelumnya akibat minuman alkohol yang hampir tiap malam aku habiskan bersama teman-temanku.

www.vemale.com

“Iya Pak.. Bapak…,” belum selesai aku menghabiskan kalimatku. Ia sudah memotong.

“Saya Karman, kamu masih ingat? Ya Ampun sekarang kamu sudah banyak berubah ya. Sudah gaul seperti orang Jakarta kebanyakan,” Pak Karman, lelaki tua yang banyak menolong keluargaku. Ia memelukku dengan hangat.

“Iya Pak, saya tidak mungkin lupa sama Pak Karman. Ini rambut tuntutan pekerjaan Pak. Hehe.. Pak Karman sehat?” Aku sedikit malu dengan pernyataan Pak Karman yang mengomentari rambutku.

“Alhamdulillah Nak, sehat.. Sehat.. Cuma ya maklumlah sudah tua banyak ini itu. Kamu sudah kerja? Wah, alhamdulillah ya. Kuliahmu sudah selesai ya?” Tanya Pak Karman lagi.

“Kuliah saya sedikit lagi Pak, sudah semester akhir namun saya sudah dapat pekerjaan jadi sambil menyelesaikan kuliah sambil kerja Pak.”

“Wah hebat kamu Reza! Bapak bangga sama kamu! Enggak sia-sia perjuangan orangtuamu selama ini ya. Pantas kamu sibuk sekali ya. Rasanya sudah lama tidak pulang.”

“Ii.. ii.. Iya Pak..,” aku sedikit gugup menjawab pertanyaan itu. Aku tidak pulang bukan karena sibuk kerja dan kuliah. Namun karena aku terlalu terlena dengan semua kemudahan yang aku dapat. Kerja dengan gaji mencukupi disaat aku masih kuliah. Membuatku lupa semuanya. Lupa untuk salat bahkan hampir lupa agamaku.

“Ya Tuhan… Ampuni aku..,” aku bicara dalam hati. Sedih aku mengingat semua kelakuanku selama ini. Ayah dan Ibu pasti malu punya anak seperti aku. Sejak kecil aku diajarkan nilai-nilai agama begitu kental. Hidup di keluarga yang taat sekali pada aturan Islam. Begitu pula lingkunganku, setia ramadan bersama-sama aku pun sering berkeliling untuk membangunkan warga sahur. Dan aku salah satu anak yang tidak pernah absen salat tarawih ketika teman-teman seumurku mulai malas. Dan dalam sekejap aku tinggalkan semua karena terbawa pergaulanku.

“Ya sudah, sudah hampir magrib. Kamu masih puasa kan? Atau sudah batal tadi di jalan?” Pak Karman sedikit menggodaku.

“InsyaAllah masih Pak karman.”

“Alhamdulillah, kalau gitu mari kita segera pulang. Agar bisa buka puasa di rumah,” Pak Karman menepuk pundakku dan tersenyum. Aku mencium tanggannya dan kami pergi ke arah kami masing-masing.

Ilustrasi cium kaki ayah. Sumber: www.bangka.tribunews.com

Tibalah aku di depan pagar kayu yang sudah hampir rubuh. Aku berdiri dan menatap sekeliling rumahku. Masih terlihat sama seperti dulu. Hanya cat-cat putih yang sudah memudar itu lebih terlihat. Aku berdiam cukup lama di depan rumah. Mengingat segala yang pernah terjadi disini. Masa kecilku, ayah, ibu. Semuanya.

“Re..za…,” lelaki rentan itu memikul cangkulnya diatas pundaknya. Kaki penuh lumpur dan pakaian lusuh dikenakannya. Ia membuka topi capingnya dan menatapku. Ia sedikit lebih bungkuk dari terakhir kali aku bertemu.

“Ayah, ayaahhhh…,” aku berlutut dan memeluk kakinya.

“Maafkan aku Ayah. Maafkan aku tidak pernah pulang. Maafkan aku tidak pernah memberi kabar dan menemui Ayah. Maafkan aku Ayahhhhh. Maafkan akuu.”

Ayah menaruh cangkulnya dan mengangkat badanku untuk berdiri. Air matanya tumpah membasahi pipinya yang sudah keriput. Tatapan hangatnya masih sama seperti dulu. Terlihat jelas ia merindukan anaknya yang selalu ia banggakan. (Selesai)


Like it? Share with your friends!

hernanda

0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *