“Unpredictable Happiness” di Kota Kembang (Bagian 2)

Ini lanjutan cerpen web series tentang kisah Kirana. Orangtuanya yang telah bercerai bisa kembali berkumpul. Apakah kondisi tersebut membuat adik Kirana senang? Yuk, dibaca ceritanya sambil mendengarkan lagu Justin Bieber terbaru, 'Love Yourself'.


Peluang jadi Local Host bersama Lokalpedia

NgenetYuk! Fiksi – Cerita cerpen web series pekan lalu: Dalam perjalanan Kirana menuju Bandung, kereta yang ditumpanginya bermasalah. Namun hal tersebut tidak be

rlangsung lama dan ia bisa bertemu dengan mami dan adiknya.

***

Sontak Kirana terbangun mendengar pengumuman yang samar-samar di telinganya. Kirana melihat keluar jendela dan dia sangat mengenali bangunan-bangunan yang ada di sekitar rel yang ia lewati itu.

“Bandung”. Gumam Kirana sambil tersenyum. Kereta pun berhenti dan Kirana segera menuju pintu keluar. Kirana berjalan dengan penuh senyuman. Menghirup udara kota Bandung yang khas walaupun cuaca cukup terik siang itu. Tetapi hawa sejuk Bandung tetap tidak pernah hilang dibalik panasnya matahari. Bahkan Bandung lebih sejuk dibanding kereta yang dinaikinya tadi karena insiden AC kereta rusak.

Kirana mengeluarkan handphonenya dan langsung menghubungi Maminya.

“Mam, aku udah di bandung nih. Jadi kita ketemu dimana?” Tanya Kirana ketika terdengar suara maminya mengangkat telponya.

“Mami masih di hotel sih ini tapi kayanya mau ke tempat makan nih Keysha lapar katanya,” ujar mami.

“Makanya dimana?” Tanya Kirana.

“Mami enggak tahu, katanya sih enggak jauh dari sini kok. Nanti Keysha yang kasih tau nama tempatnya ya,” jelas maminya.

“Oke, kalau gitu aku menuju kesana. Tepatnya dimana nanti chat aja ya mamm, bye,” ujar Kirana.

Kirana langsung menaiki angkutan umum jurusan Dipatiukur (DU) setelah mendapatkan alamat dan nama tempat dari adiknya. Kirana sengaja duduk di samping sopir angkutan umum itu agar bisa menikmati langsung jalanan kota bandung yang ia rindukan itu. Banyak yang berubah dari kota ini. Beberapa bangunan, patung, taman dan beberapa hal kecil yang ia perhatikan selama perjalanan singkat menuju DU. Sekagum itu Kirana akan kota yang dipimpin oleh Kang Emil ini. Walau tidak persis seperti Bandung yang ia ingat tiga tahun lalu, Kirana tetap merasa sangat bersyukur ia dilahirkan di kota kembang ini karena Bandung kota yang sangat indah untuk Kirana.

Setengah jam kemudian Kirana sampai di salah satu tempat makan di daerah DU. Bukan restoran mewah. Tempat makan sederhana yang biasa digandrungi mahasiswa-mahasiswi UNPAD, mungkin karena terjangkau tempatnya. Kirana sudah dapat mengenali mami dan Keysha dari luar dan langsung berlari kecil menghampiri.

“Hai mammm. Hai jelek,” Sapa Kirana girang.

Kirana terlihat sekali sangat merindukan mami dan adiknya. Memang Kirana sangat dekat dengan mereka. Apalagi sejak orangtua mereka bercerai, mereka bertiga sudah seperti adik kakak dan sahabat saja. Tidak seperti orangtua umumnya, mami Kirana sangatlah tegar dengan kesendiriannya sebagai single parent. Dia mampu menghidupi anak-anaknya sampai mereka sudah sebesar ini. Memang papi Kirana sesekali turut memberikan perhatian dalam bentuk materi. Tapi Kirana, maminya dan Keysha sudah tidak terlalu berharap lagi. Karena mereka sangat tau persis karakter papi.

“Tambah kece aja lu Kak! Duitnya banyak ya, bagi dong,” rayu Keysha yang sedang menyelesaikan skripsinya itu kepada kakaknya.

“Berisik lu ah. Beresin tuh skripsi biar kerja banyak duit haha,” Jawab Kirana

“Gimana sayang?” Mami membuat Kirana bingung.

“Apanya mam?” Tanya Kirana.

“Gimana perutnya? Lapar?” Lanjut mami sambil tertawa disusul dengan tawa Keysha. Mami dan Keysha hafal betul perut anak perempuan pertamanya ini.

Mereka langsung berpindah tempat makan karena Kirana ingin sekali makan di tempat favoritnya dulu ketika masih kuliah. Tidak jauh dari tempat pertama mereka turun dari angkutan umum tepat di depan restoran WS alias Warung Steak. Tempat ini sering sekali dikunjungi Kirana dengan teman-temannya. Bahkan jika lapar sudah memanggil, Kirana pergi ke tempat ini sendirian hanya untuk menikmati menu andalannya. Cordon Blue.

Sambil melahap makan siang mereka, Kirana dan Keysha berebutan bercerita tentang hari-hari yang mereka alami. Mereka memang punya kebiasaan bercerita apa yang dilalui seharian itu ketika jam makan malam tiba semasa Kirana dan Keysha masih bersekolah di Garut. Jam makan adalah quality time untuk mereka. Dan meja makan adalah saksi bisu kebersamaan mereka.

“Ok, dari sini kita mau kemana nih?” Kirana sudah tidak sabar ingin jalan-jalan menikmati bandung miliknya.

“Ciwalk!” seru Keysha

“Mami terserah kalian saja yang penting ada tempat Mami buat shopping,” jawab mami melegakan Kirana dan Keysha.

Sesampai di Ciwalk, singkatan dari Cihampelas Walk. Mereka langsung menyisir berbagai toko. Mulai dari toko sepatu sampai pakaian dalam. Tanpa terasa nyaris semua toko sudah mereka kunjungi. Barang bawaan pun sudah ditangan masing-masing. Tapi ini masih sore, mereka masih belum ingin segera kembali ke hotel. Mereka beristirahat sementara di salah satu coffee shop Ciwalk. Kirana membuka handphonenya. Ada whatsapp yang masuk ternyata.

“Dimana Na?” Kirana kaget dan menatap maminya membaca isi whatsapp tersebut.

“Kenapa sih lu? Siapa yang chat lu sampe melongo begitu,” tanya Keysha penasaran melihat reaksi Kakanya

“Papi,” sambil menatap ragu kepada mami.

Kirana khawatir mami dan Keysha jadi badmood karena ini. Karena seringkali mereka bertiga sedang asik menikmati waktu tiba-tiba papi ingin bergabung dan mami juga Kesyha merasa terganggu tapi tidak enak untuk menolak. Kirana agak bingung harus menjawab apa karena jika Kirana menjawab jujur, khawatir kedua orang yang ia sayang ini akan merasa terganggu dengan kehadiran papi.

“Papi pasti nyusul nih kalau nanyanya begini. Duh, Mami sama Keysha bete enggak ya. Nanti malah kayak yang udah-udah. Jalannya jadi enggak asik. Masing-masing dan parahnya mami sama papi bisa debat hal-hal enggak penting. Gimana ya duh,” Kirana berpikir dan bicara dalam hatinya sendiri sambil menunggu reaksi mami dan Keysha.

Kirana teringat terakhir kali mereka berkumpul dengan Papinya di hari ulang tahunnya tahun lalu. Kebetulan saat itu bertepatan dengan pentas Keysha di kampusnya. Keysha mengikuti kegiatan seni dan malam itu Keysha akan tampil membawakan tarian tradisional jaipong. Bisa berkumpul lengkap berempat di hari ulang tahunya ialah impian Kirana sejak dulu. Maklum, orangtuanya sudah berpisah sejak Kirana kecil dan jarang sekali Kirana dan Keysha dapat menikmati keceriaan bersama keluarga yang utuh. Mereka memang keluarga broken home. Tetapi Kirana dan Keysha tidak pernah merasa ini buruk. Mereka selalu diajarkan bersyukur dengan segala situasi oleh maminya. Selama menonton pentas seni budaya tersebut, mami dan papinya tidak terlalu banyak bicara. Mereka saling diam dan hanya bicara seperlunya. Terlebih mami, yang cukup dingin memperlakukan papi saat itu. Padahal malam itu adalah malam terindah untuk Kirana karena mendapatkan kado spesial dengan keutuhan keluarganya berkumpul. Situasi ini yang Kirana hindari dan tidak ingin mengulang lagi. Tidak enak rasanya berada di tengah-tengah kedua orangtuanya yang bersikap seperti itu. Dan kejadian itu bukan kali pertama terjadi ketika mereka ada kesempatan untuk bersama.

Tiba- tiba maminya menjawab, membangunkan Kirana dari lamunannya.

“Ya sudah, bilang saja kita disini. Palingan nyusul kan dia. Enggak apa-apa mungkin pengin ketemu kalian kan udah lama juga kalian enggak ketemu. Terakhir Juni tahun lalu pas ulangtahun kamu kan Kirana?” Kirana langsung melirik Keysha yang bibirnya terlihat memanjang. Keysha tak berkata apapun. Kirana tahu Keysha tidak ingin menyanggah jawaban maminya. Kedekatan keduanya membuat mereka saling mengerti meski mereka tak saling bicara. Keysha melirik ke arah Kirana yang masih memperhatikannya dan memberi isyarat untuk Kirana menuruti jawaban maminya tadi. Akhirnya Kirana segera membalas whatsapp dari papinya dan memberitahu dimana mereka berada.

Satu jam kemudian papi Kirana sudah berada di Ciwalk. Kali ini papi mengajak Kirana, Keysha dan mami untuk menunggu malam semakin larut dengan berkaraoke. Ya, Keysha memang sangat suka menyanyi. Suaranya paling indah di antara kami berempat. Kirana tidak bisa menyanyi sebaik Keysha, tapi Kirana mahir memainkan alat musik favoritnya yaitu Gitar. Kirana dan Keysha memiliki jiwa seni yang merupakan bawaan dari papinya. Papi Kirana adalah seorang pemusik dan sangat mahir memainkan beberapa alat musik. Bahkan saat masih muda, papinya memiliki band musik sendiri dengan kawan-kawannya. Dan karena darah seninya ini mami Kirana dulu terpikat pada keahlian Papinya ini. Mami pernah bercerita, awal mula mereka berkenalan adalah pertemuan sederhana di cafe. Papi Kirana malam itu mengisi acara cafe dengan bermain gitar mengiringi sang penyanyi melantunkan lagunya. Setiap kali papinya berhenti memainkan gitar, maminya mendekat dan memohon untuk papi melanjutkan bermain gitar. Tetapi papinya selalu menolak, namun ketika mami Kirana kembali ke tempat duduknya Papi memainkan Mami sebuah lagu dan hadirlah Kirana dan Keysha. Bukan pertemuan bagai putri dan pangeran namun ini selalu dikenang mereka berdua walaupun sudah tak bersama.

Lagu demi lagu mereka kompak nyanyikan, sampai-sampai lagu ‘Tenda Biru’ jaman dulu itu mereka nyanyikan. Keysha yang semula sempat bete karena kehadiran papinya dan sempat menolak juga untuk diajak berkaraoke malah terlena dengan lagu-lagu yang ia lantunkan sendiri. Sampai lupa bahwa diruangan itu ada Kirana, mami dan papi yang juga menunggu giliran lagu pilihannya dinyanyikan.

“Key, ini lagu gue yang pilih, gue yang nyanyi dong!” Rebut Kirana diiringi tawa mami dan papi melihat kelakuan anak-anaknya. Sesekali mami juga berebut untuk menyanyikan lagu di zamannya, dan tanpa menghindar mami berduet dengan papi menyanyikan lagu yang sepertinya kenangan mereka berdua.

Ditengah alunan-alunan musik yang mengiringi quality time yang sangat langka mereka miliki ini, Kirana tiba-tiba berbisik kepada maminya. Kirana berinisiatif untuk mengajak mereka semua ke daerah Ciater Subang.

“Mam, kita ke Ciater yuk habis ini, berendam. Kayanya enak nih mam jarang-jarang kan mam,” ajak Kirana.

“Ya sudah kalau gitu, mami bilang papi ya,” lagi-lagi Kirana kaget dengan reaksi maminya yang menjawab bahwa maminya yang akan mengajak papi pergi ke Ciater. Padahal biasanya, sebisa mungkin waktu yang dihabiskan tidak terlalu berlarut dan pembicaraan cukup dibatasi oleh mami. Kirana hanya mengangguk girang.

(Bersambung)


Like it? Share with your friends!

hernanda

0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *