“Unpredictable Happiness” di Kota Kembang (Bagian 3 – Habis)

Ini kisah terakhir dari cerpen web series tentang Kirana. Ia tampak terkejut melihat keakraban orangtuanya pasca bercerai. Yuk, dibaca sambil menikmati lagu Pharrell Williams berjudul 'Happy'.


Peluang jadi Local Host bersama Lokalpedia

NgenetYuk! Fiksi – Cerita sebelumnya: Papi yang sudah bercerai dengan mami Kirana akhirnya bergabung dalam kehangatan. Kemudian acara liburan direncanakan berlan

jut ke Ciater.

***

“Kayanya kita lewat jalan lain deh Pap, ini bakalan macet sampai lembang. Kita bisa berapa jam nyampe di Ciater nih, gimana pap?” tanya Kirana pada Papinya yang sedang fokus sekali memperhatikan celah untuk maju sedikit demi sedikit akibat macet.

“Lewat mana ma

ksud kamu?” Nada suara papi Kirana penuh pengharapan untuk keluar dari macet yang tak kunjung lancar.

“Lewat Dago aja pap, Kirana tau jalan kok. Tapi siap-siap untuk sepi, jalan kecil dan menanjak ya pap,” tantang Kirana pada papinya yang memang hobi bepergian jauh dengan mobil.

“Siapa takut!” Papinya langsung memutar arah mobil keluar dari jalan Setiabudi Bandung menuju arah Dago. Sesuai dengan yang disebutkan Kirana, jalannya cukup kecil hanya pas untuk dua mobil dan cukup menanjak sampai papi Kirana harus memainkan kopling, gas dan rem bergantian agar mobil Terios yang mereka naiki tidak mundur.

“Ini bener jalanya? enggak nyasar kan kita nanti? Seram begini Kirana aduh ada-ada saja sih kamu cari jalan,” mami Kirana mulai panik melihat hanya ada tiga mobil termasuk mereka beriringan dan tidak bertemu dengan mobil lain.

“Bener kok mam, ini aku juga sambil buka maps jaga-jaga aku lupa jalannya hehe,” jawab Kirana santai sambil terus perhatikan jalan dan maps dalam handphonenya.

“Key kamu kok diem saja sih, bantuin kakak tuh nanti salah lihat jalan bahaya ini gelap begini mami takut ahh,” ujar mami.

“Ah dia mah ahli sama jalan beginian. Sudah tidur saja kita mam nanti tau-tau sampai,” jawab Keysha sambil tetap terpejam sedari tadi.

“Sudah mami tenang saja, bentar lagi juga sampai mam,” Kirana berusaha menenangkan maminya yang sudah terlihat pucat melihat jalan sekeliling. Sedangkan Papi tetap asik memainkan kopling gas dan rem mobil.

——————-

“Mam bangunn. Key, bangun sudah sampai nih, ayo,” Kirana membangunkan mami dan Keysha yang ternyata tertidur di jok belakang. Sedangkan papi sudah tidak tahan untuk merokok di luar mobil selepas menghadapi jalanan curam yang Kirana tunjukkan.

Kirana dan Keysha langsung berganti baju untuk berendam dan mereka meninggalkan mami dan papi berdua di pinggir kolam air panas itu. Keysha asik menikmati derasnya air terjun kecil yang menghujam tubuhnya. Merelaksasikan otot-ototnya yang dia gunakan untuk bernyanyi tanpa henti selama dua jam berkaraoke tadi.

Kirana memperhatikan kedua orangtuanya sedang bercengkrama. Pemandangan yang Kirana akan rindukan esok hari pastinya. Semenjak orangtuanya bercerai, terhitung jari dapat melihat keakraban mereka berdua. Bertahun-tahun Kirana berharap kedua orangtuanya itu dapat kembali bersatu sebagai orangtua yang utuh. Sampai Kirana pun akhirnya menyerah untuk berrharap memiliki keluarga yang lengkap lagi.

Terkadang Kirana menangis sendiri jika mengingat kondisi orangtuanya yang berpisah sejak ia kecil. Apalagi Kirana sudah harus segera mencari calon pasangan hidupnya, mengingat usianya menginjak 26 tahun. Ia sering memikirkan apakah kehidupannya nanti akan bisa ia pertahankan utuh ataukah anaknya kelak akan merasakan hal yang sama yang pernah ia alami ketika harus menghadapi kenyataan pahit akan perpisahan kedua orangtuanya itu. Keresahan ini selalu Kirana simpan sendiri, tidak ingin membuat maminya sedih bahwa ia sedikit trauma akan perpisahan orangtuanya.

“Woy, bengong saja. Tadi loe yang heboh pengin berendam sekarang malah diam saja disitu. Sini enak nih di bawah air terjun,” Keysha membuyarkan lamunan Kirana. Dan Kirana hanya membalas dengan cipratan air pada Keysha.

————————

Sesampainya di hotel, Kirana dan Keysha yang sudah sangat lelah dan mengantuk lebih dulu menuju kamar. Sedangkan mami dan papi berjalan lambat di belakang. Kirana sempat menengok ke belakang menyadari mami dan papinya masih tertinggal di belakang mereka. Entah apa yang dibicarakan mereka tetapi Kirana sadar bahwa raut wajah mereka terlihat serius. Tapi apadaya, Kirana sudah tidak sanggup untuk mencari tahu apa yang mereka bicarakan.

Papi Kirana terlihat sangat sedih dan berkata berat meninggalkan mereka di hotel begitu sampai di kamar. Ingin menemani sampai esok pagi dan mengantar Kirana ke stasiun untuk kembali ke Jakarta juga ingin mengantar mami Kirana ke terminal untuk kembali ke kota Garut. Tapi papi Kirana tidak bisa tinggal di hotel untuk bersama sampai besok pagi karena katanya ada pekerjaan yang mengharuskan papi segera meninggalkan mereka dan akhirnya papi Kirana pamit untuk pulang. Keysha hanya mengangguk dan langsung memejamkan matanya karena sudah benar-benar mengantuk. Kirana sempat mencium tangan papinya dan mami saat mengantar sampai depan kamar.

Pukul 3 pagi saat itu dan Kirana masih harus merapikan barang-barangnya untuk besok kembali ke Jakarta. Karena Kirana akan berangkat dengan kereta pagi menuju Jakarta. Kirana melihat maminya sempat melamun.

“Kenapa mam? Kok ngelamun bukan istirahat?” tanya Kirana mengagetkan lamunan maminya.

“Kamu nih ngagetin aja. Enggak apa-apa. Tidur sana besok pagi kan,” jawab mami segera mengubah raut wajahnya untuk menutupi lamunannya.

“Ya sudah mami juga tidur ya, nanti besok aku pulang mami enggak bangun lagi,” goda Kirana. Maminya hanya tersenyum kecil dan segera bersiap untuk tidur juga.

——————–

“Kirana! Bangunn! Mandi sana nanti telat loh, ayo cepat bangun Kirana aduh kebiasaan deh,” mami Kirana mengoncang-goncangkan tubuh Kirana yang masih dibalut selimut tipis hotel. Sambil berusaha membuka matanya Kirana berjalan ke kamar mandi. Tetapi Kirana sadar bahwa maminya sudah kembali ke sikap aslinya.

“Jadi nanti mami pulang jam berapa? Kabarin ya. Hati-hati di jalan. Mami yang sehat-sehat ya. Maaf aku belum bisa pulang ke rumah. Tapi nanti lebaran aku pasti ambil libur panjang mam,” Kirana berpamitan sambil memeluk maminya.

“Paling habis makan siang mami pulang kok. Kamu juga sehat ya. Lancar kerjanya. Biar bisa pulang ke rumah,” mami menyemangati Kirana.

Kirana kemudian menghampiri Keysha yang masih bersembunyi di balik selimut. Entah sisi mana yang kepala dan kaki bentuknya sudah tidak jelas. Seperti biasa Kirana akan mengganggu Keysha sampai dia merasa kesal untuk terbangun.

“Key, kepala loe mana Key,” sambil meraba-raba seluruh tubuh Keysha dibalik selimut.

“Ah, apaan sih. Ngantuk tau,” Keysha muncul dari balik selimut sambil masih memejamkan matanya.

“Heh! Tidur masih aja kaya kebo. Balik ya. Cepat beres skripsi. Bye,” Pamit Kirana sambil memencet hidung Keysha dan selalu Keysha benar-benar terbangun setelah kakaknya seperti itu.

“Huh, kebiasaan banget sih hidung gue. Ya sudah tiati yaa,” sahut Keysha sambil mengelus-elus hidungnya kemudian kembali merobohkan tubuhnya di atas tempat tidur.

Mami Kirana mengantar Kirana ke depan hotel sampai Kirana mendapatkan angkutan umum untuk menuju stasiun.

Jalanan bandung lenggang pagi itu. Kirana kembali menikmati napas sejuk kota Bandung. Selama di perjalanan menuju stasiun Kirana mengenang apa yang baru saja ia alami seharian kemarin. Sabtu yang sangat luar biasa bagi Kirana. Kirana tersenyum penuh suka cita. Sesampainya di stasiun, Kirana langsung menuju tempat pengecekan tiket dan segera check-in. Sambil menuju gerbong kereta yang akan mengantarnya ke Jakarta, Kirana tiba-tiba teringat momen semalam ketika mereka semua sampai di hotel. Rasa penasaran Kirana yang memang tinggi begitu mendorong dirinya untuk mencari tahu apa yang sebenarnya orangtuanya tutupi. Apa yang dibicarakan mami dan papinya semalam sampai raut wajat mereka sebegitu seriusnya? Kenapa mami tidak cerita padanya seperti biasanya? Ada apa?

(Selesai)


Like it? Share with your friends!

hernanda

0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *