Aku Ingin Membahagiakan Ayah

Ini adalah carpen yang mudah-mudahan bisa memetik hikmahnya. Selamat membaca.


Peluang jadi Local Host bersama Lokalpedia

NgenetYuk! Fiksi – Keheningan Malam membuatku berpikir, merenungi sebuah kenyataan dalam Hidupku yang kadang sulit terpikirkan oleh akal naluriku, terkadang pula aku b

ingung dengan semua yang terjadi? Mengapa harus terjadi? Dilahirkan dari darah yang berbeda antara dua keyakinan serta darah komunis dengan pejuang. Ya, dia Ayahku adalah darah Portugis dan ibuku darah indonesia asli. Tetapi keduanya sering bertengkar karena saling egois dengan kenyataan. Ayahku sel

alu kejam selalu membawa aku pada budayanya sehingga aku membenci sosok ayahku sendiri.

Kembali bersemangat dengan kehidupan baru memulai langkah kaki dengan sebuah harapan agar aku bisa membahagiakan kedua orangtuaku menjadikan mereka salah satu penyemangat hidupku dalam menuntut ilmu dan aku ingin membanggakan negaraku.

Dua bulan setelah duduk di bangku SMA, aku harus memilih sebuah organisasi atau eskul di sekolah. Tidaklah mudah diterima menurutku karena Semasa SMP aku tinggal di Portugal tempat ayahku tinggal dan disana aku tidak bisa mengikuti kegiatan mencari bakat dan aku juga tak ingin sembarangan memilih karena dikhwatirkan tidak memadai dengan kemampuanku. Ah, tapi aku yakin aku pasti bisa mengasah bakatku meski aku sendiri tak tahu apa bakatku.

Ilustrasi pertemanan. (lucytravers)

“Eh Ina kamu mau pilih eskul apa? Aku mau ikut olahraga, kalau kamu apa? Boleh aku tahu, mungkin bisa membantumu,” tanya Resti dengan meyakinkanku dengan wajah tersenyum. Tangannya memegang formulir pendaftaran eskul olahraga.

Aku pun mengeleng-geleng kepalaku dengan wajah cemberut karena aku bingung, aku cemas, aku sedih.

“Maaf ya Resti aku pergi dulu,” dengan beberapa kata itu aku pergi meninggalkan Resti. Aku bingung dengan masa depanku. Aku bingung dengan kemampuanku aku takut gagal!

Disaat sedang menyendiri, aku memikirkan hal itu. Datanglah seorang lelaki super menyebalkan yang mengganggu kesendirianku.

Ilustrasi remaja dan skateboard. (YouTube)

“Yuhuuuu Nona kok sedih banget. Itu muka jadi ancur banget deh Gak ada cantik-cantiknya sama sekali,” ledek dia dengan membawa skateboard-nya

“Eh apaan sih lo ganggu aja! Sana pergi, gw lagi banyak masalah tau ga,” dengan perasaan geram aku pergi meninggalkan dia.

“Eh maaf yah, boleh cerita? Namaku Rio?” Menjulurkan tangannya kepadaku.

“Ina,” dengan nada cuek aku menjawab.

Entah mengapa walaupun aku baru mengenal Rio aku langsung saja bercerita tentang masalah pribadiku yaitu bingung dengan bakatku karena ayahku. Aku juga terus terang mengatakan kepada Rio bahwa aku membanci ayahku.

“Ina, janganlah kamu benci pada orangtuamu sehingga itu membuat murka Tuhan datang padamu. Ingat, mengatakan dalam hati jika sebal pada orangtua saja sudah dicap dosa apalagi kamu sampai seperti itu. Kalau kamu bingung pada masa depanmu jangan salahkan ayahmu jangan salahkan bakatmu ayolah coba menggali bakat itu sehingga kamu tau bakatmu,” nada lembut Rio menasehatiku dan memberitahu tentang dosanya membenci orangtua.

***

Ilustrasi lomba penulisan. (anneahira)

Delapan Bulan setelah di SMA, Alhamdulillah berkat Tuhan melalui Rio, aku bisa berubah. Aku bisa tahu artinya memaafakan dan mengikhlaskan apapun itu termasuk beragam perbuatan ayahku. Aku mulai mencoba sabar dengan semua yang ku alami dan aku bersyukur mulai menemukan bakatku dalam bidang menulis sehingga aku masuk dalam eskul jurnalistik. Sebenarnya ayahku belum mengetahui tentang kegiatan yang aku jalani saat ini tetapi aku ingin membuktikan bahwa aku bisa membahagiakanya

Sampai akhirnya aku akan mengikuti lomba dalam penulisan berita tingkat nasional. Setiap sujudku memohon kepada sang pencipta agar memberikanyang terbaik dan mengabulkan doaku. Dan hari perlombaan tiba.

“Terus berdoa ya,” pesan Rio mengingatkanku untuk jangan lupa berdzikir.

“Makasih rio,” ujarku singkat.

Aku bersyukur doaku dikabulkan Tuhan. Aku menang lomba penulisan jurnalistik tingkat nasional. Medali, piagam, piala dan uang yang lumayan aku raih.

“Terima kasih Tuhan,” aku langsung bersujud.

Ilustrasi ayah. (harnas)

“Ayah, ini lihat medaliku. Aku pengin buat ayah dan ibu bangga,” ujarku dengan penuh senyum dan harapan agar ayah memujiku.

Ayaku kemudian memegang medali dan piala, lalu, brak! Semua itu dibantingnya.

Aku hanya bisa ber-istighfar. Hatiku hancur berkeping-keping karena harapanku musnah bersama piala yang telah pecah.

Tidak berselang lama, aku kembali mengadu kepada Rio.

“Rio, harus bagaimana lagi cara untuk meluluhkan hati ayah?” Keluhku kepada Rio.

“Na, sabar. Enggak boleh nyerah dalam memperjuangkan. Semangat dong yakinkan dalam hati kamu bahwa kamu bisa jadi anak yang membanggakan,” ujar Rio memberikan nasihat.

Seketika mataku memandang Rio. Dengan penuh keyakinan, Rio terus menyakinkan aku dan menyemangati selalu.

Ilustrasi ayah. (YouTube)

Aku terbngun di malam hari. Air mata pun tak kuasa mengalir membasahi pipiku.

Dalam setiap doa, aku terus memohon kepada Sang Maha Pencipta. Kemudian, tak sengaja aku mendengar suara di malam hari. Seperti suara orang sedang melakukan salat. Setelah salat, aku menghampiri kamar sebelah karena suara itu semakin terdengar di telingaku.

Aku terasa mimpi. Sebab, aku melihat ayahku sedang berdoa dan bersujud dengan khusyu. Apa ini mimpi?

Selesai beribadah, aku menghampiri ayahku. Ia langsung memelukku erat.

“Anaku sayangayah bangga kepadamu sungguh kamu anak yang baik. Bidadarinya ayah yang Tuhan hadirkan untuk ayah. Maafkan ayah yang selama ini selalu menyakitimu. Ayah kini akan mencoba lebih baik. Ayah cinta kamu nak,” ujar ayah sambil memelukku.


Like it? Share with your friends!

indriyanie29

0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *