Tiga Fakta Isu Nutrisi Pada Makanan yang Terlalu Dibesar-besarkan

R3F edisi pertama! Ada lho makanan dengan sekelumit isu tentang nutrisinya yang terlalu dibesar-besarkan. Apa sajakah makanan yang dimaksud? Mari kita intip yuk!


Peluang jadi Local Host bersama Lokalpedia

Susu, Baik Untuk Kesehatan Tulang dan Mampu Mencegah Osteoporosis?

Susu, Baik Untuk Kesehatan Tulang dan Mampu Mencegah Osteoporosis?
foto: feelgrafix.com, teks: Alice L. Kelly

NgenetYuk! Sehat - Dibesar-besarkan? Ya, bisa dikatakan seperti itu. Sebab, apa yang akan kamu temukan disini adalah fakta tentang 3 nutrisi makanan yang

sudah dianggap benar oleh masyarakat luas. Fakta yang dirangkum bukan ngawur, walaupun masih ada proses perdebatan oleh para ahlinya. Okay, daripada penasaran, mari kita simak yuk!

Tidak ada yang dapat dijadikan sebagai bukti, paling akurat, jika jumlah susu yang dikonsumsi berdampak pada pertumbuhan, penguatan,  dan pecegahan kerapuhan tulang. –   Walter C. Willet, Chairman bidang Nutrisi Kesehatan Umum-Harvard School. 

Yup! Susu di Negeri tercinta ini masuk dalam semboyan 4 Sehat 5 Sempurna. Sebuah semboyan fantastis yang membuat semua kalangan usia, bersemangat untuk menyempurnakan kesehatan dengan minum susu hewani. Faktanya?  

“Tidak ada yang dapat disangkut-pautkan sebagai bukti, jika jumlah susu yang dikonsumsi berdampak pada pertumbuhan, penguatan,  dan pecegahan kerapuhan tulang”, begitulah kira-kira menurut pakar, Walter C. Willet, seorang Chairman pada bidang Nutrisi Kesehatan Umum-Harvard School. 

Lalu, kita beralih ke observasi yang dilakukan oleh T. C. Campbell seorang Profesor Emeritus-Cornell University yang bergelut dalam bidang Biokimia-Nutrisi.  Ia mengemukakan jika justru masyarakat yang tinggal di zona maju/berkembang, adalah yang paling tinggi persentasenya untuk menderita tulang rapuh atau Osteoporosis. Dan kita tahu, konsumen susu hewani  terbesar disumbang oleh masyarakat perkotaan. Sedangkan penduduk pedesaan pada umumnya memiliki  struktur tulang yang lebih kuat serta padat, yang dikarenakan oleh aktifitas berat. Selain itu, kalsium nabati dari sayur-sayuran yang dikonsumsi oleh masyarakat pedesaan dapat menjadi faktor penentu dalam memenuhi kebutuhan kalsium untuk tulang tanpa berlebih-lebihan dosisnya. Hasil observasi T. C. Campbell tersebut dituang kedalam buku “The China Study”. 

Dapat disimpulkan, ingin memiliki tulang kuat dan ingin mengurangi persentase datangnya Osteoporosis? Olahraga! Jalan Santai atau Lari Sehat,  serta Renang mungkin pilihan yang baik.

Jus Buah dan Jus Sayuran, Baik Dikonsumsi Secara Rutin?

Jus Buah dan Jus Sayuran, Baik Dikonsumsi Secara Rutin?
foto: lovemarylu.com, teks: Sarah Jacoby

[Tapi] Mari kita lihat, jus adalah sebuah trend dan beberapa public figure-lah yang mempopulerkannya. Sayangnya, keuntungan bagi kesehatan tidaklah sesuai dengan yang digembar-gemborkan. Kim Larson RD (Ahli Makanan yang terdaftar secara resmi), Pembicara Akademi Nutrisi Makanan.

Beralih ke jus! Ya,  siapa yang tak kenal jus. Menu yang satu ini sangat digemari karena-sesuai yang dipublikasikan-kita dapat mencampur buah-buahan serta sayur-mayur kedalam mesin penghalus,  dan tring! Jadilah panganan dengan rasa yang kita inginkan, lembek, dan lemah serat. Melawan kodrat bagaimana mereka seharusnya dibutuhkan oleh pencernaan. Bukankah gigi sudah dipersiapkan untuk menghaluskan makanan berserat? Tapi,  lebih baik kita simak point penting menurut salah satu pakar nutrisi, Kim Larson dalam email-nya ke situs R29. 

Menurut Larson, jus dipublikasikan dan menjadi trend untuk dikonsumsi secara rutin,  bahkan artis juga banyak berperan dalam melambungkan teori tersebut.  Faktanya bagi kesehatan, jus malah memberikan keuntungan lebih sedikit bagi kesehatan daripada dikonsumsi secara normal (tanpa dihaluskan).  Karena jus memiliki wujud yang halus dimana itu berasal dari “makanan hijau” yang kaya serat. Tubuh kita, terutama bagian proses pencernaan  membutuhkan serat tersebut. Selain itu,  kontur yang halus malah memberikan rasa kenyang  yang lebih singkat, membuat kita ingin makan lagi (apalagi kalau sehabis konsumsi jus,  lapar lagi,  kita pilih panganan berlemak yang mengenyangkan). Bukannya diet, yang ada malah kita bisa kegemukan. 

Lalu, mengkunsumsi jus secara rutin dapat menyebabkan kandungan gula dalam darah malah sulit untuk terkontrol.  Katakanlah kita tak suka rasa bayam, maka kita jadikan jus, campur madu, campur susu,  campur buah, agar rasanya enak. Salah, jika itu dikonsumsi rutin! Bukan hanya itu, sekalipun kita tak mencampurnya dengan bahan lain, jus yang super lunak menyebabkan penyerapan lebih akan zat-zat yang terkandung, termasuk gula. 

Menurut Larson lagi, jus sebenarnya dianjurkan untuk dikonsumsi dalam kondisi tertentu. Misal, bagi yang punya penyakit pencernaan akut atau seorang atlet olahraga  yang diharuskan untuk mengkonsumsi jus. Namun jika kita terlanjur ketagihan jus, mulailah untuk mengontrol campurannya,  agar gizinya seimbang. 

Tips dari Larson, Jus yang baik hanya terdiri dari satu jenis makanan saja,  dan yang paling baik adalah jenis sayuran.

Telur, Tidak Baik Dikonsumsi Secara Rutin?

Telur, Tidak Baik Dikonsumsi Secara Rutin?
foto: authoritynutrition, teks: Kris Gunnars, BSc)

Jantung memproduksi kolesterol dalam jumlah yang sangat besar. Ketika kita memakan telur untuk asupan kolesterol, jantung malah akan mengurangi produksi kolesterolnya- Situs Nutrition Authority.

Jika 2 diatas adalah tentang makanan yang dibesar-besarkan kebaikannya,  yang satu ini malah sebaliknya. Momok cerita yang beredar tentang telur begitu buruk. Mungkin telur adalah satu-satunya makanan yang mendapatkan isu terburuk   dalam sejarah nutrisi. Faktanya? 

Telur, adalah si makanan unik yang justru menjadi padat jika dipanaskan sampai suhu tertentu. Justru itu merupakan  bukti jika telur bukan cairan biasa, namun kaya akan gizi dan protein. Menurut artikel Nutrition Authority,  telur masuk dalam jajaran makanan paling bernutrisi di planet ini. Telur kaya akan zat yang menutrisi otak,  serta berbagai antioksidan yang sangat kuat. 

“Jangan makan kuning telur berlebihan, kamu akan menderita kolesterol.” kata isu yang beredar. 

Pada kenyataannya  bukan seperti itu cara kerja tentang telur dan kolesterol dalam tubuh. Karena kolesterol yang dibutuhkan tubuh juga disuplai dari jantung. Maka, jika kita makan dengan asupan kolesterol yang cukup, jantung otomatis tidak memproduksi kolesterol secara besar-besaran. Beberapa riset menghasilkan kesimpulan,  2-3 butir telur masih aman dikonsumsi perhari! Walau yang terbaik adalah 20-25 butir telur per bulan. Faktor yang menentukan dosis konsumsi adalah dari berat tubuh, dan aktifitas harian kita. 

Selain itu, telur mengandung protein tinggi untuk pertumbuhan dan pembentukan otot. Mengandung Choline, yaitu merupakan zat yang dibutuhkan oleh sel otak,  dimana 90% orang justru kekurangan Choline! Belum cukup,  masih ada zat-zat anti oksidan yang sangat baik untuk pencegahan penyakit mata, katarak misalnya. Dan yang paling mencengangkan, telur dapat membantu proses pengurangan berat badan! Wow! 

Demikian R3F edisi pertama On NgenetYuk! Semoga bermanfaat. Ikuti terus artikel menarik dari R3F selanjutnya ya! 


Like it? Share with your friends!

kata

0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *