Cerpen: Honest With U

Kisah sederhana ini tentang sepasang remaja yang saling menyukai, namun terjebak dalam konflik yang mereka ciptakan sendiri.


Peluang jadi Local Host bersama Lokalpedia

NgenetYuk! Fiksi – “Itu dia! Cowok yang selama ini selalu menjadi pusat perhatianku. Cowok yang bagaikan bumerang yang meluncurtepat dihatiku setiap kali meli

hatnya. Selalu seperti itu, hingga sekarang akumemutuskan untuk mengungkapkan segalanya,” Batin Ailee. Dia tetap setia menunggu kehadiran Dion sejak pagi tadi. Dan waktu yang dia tunggupun tiba.

            “Dion!” panggil Ailee saat Dionberjalan melintasinya kemudian membuat Dion menoleh ke arahnya dengan wajahcuek.

            “Aku suka sama kamu,” ucap Ailee dengan satu tarikan nafas. Hatinya merasa lega seakan seluruh bebannya telah terangkat pergi. Ia memberanikan diri menatap Dion yang ternyata sedang memperhatikannya. Lalu tanpa berkata apa-apa dia berbalik hendak meninggalkan Ailee, namun gagal karena baju yang dia pakai langsung saja ditarik oleh Ailee.

            “Kenapa kamu langsung pergi setelah kamu melihat penampilanku? Setidaknya berikan sepatah kata kalau kamu memang menolakku. Huh, apa semua cowok sama? Kenapa cowok selalu melihat cewek hanya dari penampilannya?” Ailee berkata dengan nada pelan. Dion kembali menghadapkan badannya ke Ailee sembari memasang wajah bingung.

            “Kata siapa aku nolak kamu karena penampilanmu?” tanya Dion, sementara gantian Ailee yang menatapnya bingung bercampur sedikit harapan.

            “Jangan kamu pikir aku mau pacaransama cewek yang nilai ulangan fisikanya tiga kali berturut-turut paling rendahseangkatan.” Perkataann Dion menohok Ailee. “Mana mungkin aku pacaran samaorang yang lemah terhadap hal yang aku sukai,” lanjutnya.

             “Jadi kalau nilai fisika aku beres, kamu mau jadi pacar aku?” tanya Ailee yang merasa paham letak permasalahan dirinya. Dion hanya mengedikkan bahu, lalu tampak berpikir sejenak.

            “Gini, kalau nilai ujian fisika kamubisa mencapai 80 aja. Oke, kita jadian,” tawar Dion yang langsung disetujuioleh Ailee.

Ilustrasi. (Kabarnias)

Hening menyelimuti kelas Ailee yang sedang mengerjakan soal ulangan harian fisika. Seluruh siswa di kelas tersebut sibuk mengerjakan soal masing-masing. Terkecuali Ailee. Dia sudah menyerah mengerjakan soalnya sejak menit kesepuluh pertama ujian dimulai. Entah kenapa soal-soal tersebut terlalu rumit untuk dia kerjakan, walaupun dia sudah begadang hingga larut malam untuk belajar. Kini Ailee hanya bisa duduk gelisah, meraba segala hal yang ada di dekatnya dantanpa sadar menemukan selembar kertas di dalam laci bangkunya. Dia menghela napas.

            “Ini pasti kunci jawaban ujian fisika lagi, deh. Siapa sih kurang kerjaan banget pake ngasih kunci jawaban segala,” tebak Ailee. Dia sudah capek mencari pelaku yang selalu memberikannya kunci jawaban untuk ujian fisika. Anehnya, kunci jawaban itu hanya ada pada saat dia ujian fisika, tidak dengan ujian lainnya. Namun menurut Ailee, ini hanyalah perbuatan sia-sia karena dia tidak akan pernah mau menggunakan kunci jawaban tersebut. Dia memiliki prinsip nilai rendah tapi hasil kerja sendiri tidak lebih buruk daripada nilai tinggi yang hasil contekan ditambah contekan tersebut tak jelas asalnya. Akhirnya kertas yang berisi kunci jawaban tersebut tetap kembali berada di dalam laci bangku Ailee tanpa diusik lagi.

Ilustrasi. (Fresh)

  “Hei, tumben melamun! Kenapa?” tanya Andien yang hanya dijawab dengan gelengan kepala oleh Ailee.

            “Tau nih, ya kali kamu galau gara-gara mikirin ujian fisika tadi. Biasanya juga kamu masa bodoh, yang pentingkan ujiannya udah lewat,” timpal Nanda.

            “Beda, Nan. Ujian fisika buat dia tuh bukan sekadar ujian. Tapi pertarungan untuk mendapatkan hati dari seorang Dion. Hahaha,” ledek Kina. Mereka bertiga pun menertawakan Ailee.

            “Ish, apaan sih. Gak lucu! Aku tuh lagi mikirin pelaku yang selalu ngasih aku kunci jawaban fisika,” ucap Ailee dengan nada jutek.

            “Lho, kamu dapat lagi? Wah, gak bener nih. Kenapa dia ngasihnya ke kamu sih? Kan sia-sia jadinya. Coba ngasih ke kita, lebih bermanfaat ya gak?” ceplos Andien yang disambut anggukan dari Nanda dan Kina.

            “Huh, masalahnya orang yang ngasih aku itu siapa? Soalnya kunci jawaban yang dia kasih pasti jawabannya benar semua. Aku udah pernah buktiin sama soal-soal ujian yang lalu,” keluh Ailee.

            “Satu-satunya kemungkinan terbesar orang yang ngasih kamu kunci jawaban ini adalah anak-anak seangkatan kita dari kelas unggulan. Soalnya pelajaran dia pasti selalu lebih duluan dari kita yang kelas reguler,” ucap Kina memaparkan hipotesisnya.

            “Tapi masa iya, salah satu dari mereka pelakunya. Nih ya, kita ngomong sama mereka aja ngeri saking songongnya mereka. Mana mungkinlah mereka mau repot-repot kasih kunci jawaban ke Aileeyang notabene gak ada untungnya juga.” Nanda membantah hipotesis dari Kina.

            “Iya juga sih. Tapi bisa jadi kan, ada yang kasian liat namanya Ailee terpajang tiga kali berturut-turut di madingsebagai siswa yang nilai ujian fisikanya paling rendah seangkatan.” Oke,kalimat yang keluar dari mulut Andien kali ini membuat Ailee merasa tersinggung. Kemudian tanpa berkata apa-apa, Ailee segera meninggalkan mereka bertiga yang masih duduk di bangku kantin.

Ilustrasi. (Kabar24)

Ailee berjalan menuju kelas dengan muka kusutnya. Dalam hatinnya terus terucap kata-kata untuk menyabarkan dirinya. Namun, saat Ailee masuk ke dalam kelasnya tak ada seorang pun di sana kecuali Diana yang sedang berada di bangkunya sambil mengutak-atik isi lacinya.

            “Diana!” mendengar namanya disebut, lantas membuat Diana melonjak kaget. Ditambah sosok yang menegurnya ialah sangpemilik bangku yang dia tempati sekarang.

            “Kamu ngapain disini? Ngapain kamu ngutak-atik isi laci aku?” Diana hanya bisa terdiam gugup. Tak satu pun pertanyaan yang diberikan Ailee dia jawab. Mata Ailee tertuju pada sesuatu yang digenggam Diana.

            “Itu apa?” tanya Ailee lagi yang membuat Diana segera menyembunyikan kertas yang dipegangnya. Tapi percuma, Ailee lebih cepat mengambil kertas itu dari tangan Diana. Ailee melihat isi kertas itu yang ternyata adalah kunci jawaban ujian fisika tadi.

            “Ini.. kunci jawaban ujian fisika tadi kan? Kenapa kamu mau ngambil ini? Darimana kamu tahu kalau kunci jawaban ini ada di laci aku? Atau jangan-jangan–”

            “Iya, aku yang ngasih kamu kunci jawaban itu,” ucap Diana yang memotong perkataan Ailee.

            “Apa?! Maksud kamu apa? Ngapain kamu melakukan hal yang gak berguna seperti ini?” Emosi Ailee benar-benar ambruk.

            “Kamu pikir aku mau dengan suka rela memberikan kamu kunci jawaban ini? Asal kamu tahu, aku hanya sebagai perantara dalam memberikannya. Andai saja bukan karena kakak aku yang nyuruh, mana mau aku melakukan hal ini. Lebih baik kunci jawaban itu untuk aku sendiri. Hh, aku saja adiknya sedikit pun tak diizinkan membuka kunci jawaban itu,” jelas Diana yang juga mulai emosi.

            “Dion…” setelah sadar bahwa orang yang menjadi pemberi kunci jawaban ini adalah kembaran Diana, Ailee segera keluar mencari orang tersebut.

Ilustrasi. (Okezone)

BRAKKK!!

Suara gebrakan meja menggema di seluruh sudut kelas X unggulan. Ailee tampak berapi-api memandang sosok Dion yang tengah balik menatapnya. Masih dengan perasaan kesal, Ailee melemparkan kertas yang berisi kunci jawaban itu kepada Dion.

            “Maksud kamu apa ngasih aku beginian?” tanya Ailee. Dion yang masih kaget mulai sadar dengan maksud kedatangan Ailee. Rupanya Ailee sudah mengetahui kalau Dialah orang yang selamaini selalu memberikannya kunci jawaban ujian fisika.

            “Hmm.. aku cuman mau bantu kamu. Itu aja,” jawab Dion yang membuat emosi Ailee semakin memuncak.

             “Aku gak butuh bantuan kamu dengan cara seperti ini. Ingat, aku emang bego di fisika tapi bukan berarti aku maumelakukan hal yang tidak pantas cuman buat dapat nilai tinggi pas ulangan. AKUPUNYA HARGA DIRI!” ucap Ailee dengan sekuat tenaga. “Lihat nanti, aku bakalan buktiin kalau aku gak seburuk yang kamu kira,” lanjutnya, kemudian segera pergi dengan memendam kesal.

Ilustrasi. (Esq)

Setelah kejadian lalu, Dion dan Ailee menjalani hari-hari mereka seperti biasa. Meskipun ada beberapa hal yang bisa dibilang berubah. Mereka seolah tak saling mengenal jika sedang berpapasan. Ailee yang sekarang berubah menjadi sangat rajin untuk belajar bersama Angga yang dimintanya untuk mengajarinya, dan juga Dion yang lebih sering menyendiri lalu melamun. Tak ada yang menyadari perubahan itu, kecuali Angga dan Diana. Gemas melihat tingkah Dion dan Ailee yang lebih mementingkan ego masing-masing, Angga berencana untuk menyatukan mereka dengan bantuan Diana.

Ilustrasi. (Istimewa)

Ailee menjelajahi deretan rak buku perpustakaan. Ujian tengah semester telah berlalu. Nilai-nilai dia pun semuanya memuaskan, termasuk fisika. Sungguh hal yang takpernah dia bayangkan bisa mendapat nilai 89 pada ujian fisikanya tersebut. Dulu, mendapat nilai 60 saja sangat tidak mungkin baginya. Akan tetapi, disaat semua orang sudah bersantai dari kegiatan belajar, dia masih tetap ke perpustakan untuk melakukan kegiatan itu.

            “Ini apaan?” tanya Ailee kepadadirinya sendiri saat melihat ada setangkai bunga tulip putih tergeletak dilantai dekatnya. Dia pun mengambil bunga itu dan menemukan sebuah kartu ucapanyang tergantung pada bunga itu.

            Congratsya atas nilai uts fisika kamu! Oh iya kalau kamu masih marah sama aku biarin bunga itu tetap tergeletak di lantai.Tapi, kalau kamu ambil bunga itu artinya kamu udah siap maafin aku, apa punalasannya.

DION’

Ailee terkejut membaca pesan yang ada di dalam kartu ucapan itu. Pandangannyamenyusuri sekeliling ruangan mencari si pengirim bunga, namun dia sama sekalitak menemukan batang hidungnya.

            “Eitsss.. kamu gak boleh naruh bunga itu kembali. Kamu curang namanya!” seru Dion saat Ailee berniat menaruh bungaitu kembali ke lantai.

            “Lho suka-suka aku dong. Lagian kamu yang licik, asal bikin peraturan sendiri,” ucap Ailee kemudian bergegas mencari tempat duduk yang kosong diikuti oleh Dion.

             “Oke, aku minta maaf atas apa yang aku lakuinke kamu kemarin. Jujur, awalnya aku memang cuman berniat buat mainin kamudengan memberikan kunci jawaban itu. Ya lucu aja gitu, seorang cewek bisa punyanilai serendah yang kamu punya, di satu angkatan pula.” Pernyataan Dion sontakmembuat mata Ailee membulat seolah ingin menerkamnya. Sementara Dion hanya terkekeh geli.

            “Tapi tunggu dulu, kamu jangan salah paham. Setelah Diana bilang kalau kamu tidak menggunakan kunci jawaban itubahkan tak mengacuhkannya sedikit pun, aku mulai penasaran sebenarnya kamu itutipe cewek yang bagaimana. Belum lagi saat kamu nembak aku. Mungkin dengan akumemberikan kamu tantangan seperti itu, kamu akhirnya mau menggunakan kuncijawaban yang aku kasih. Tapi aku salah besar. Kamu malah marah-marah danmenjauhi aku setelah itu,” jelas Dion yang tak mendapatkan respon apa-apa dariAilee.

            “Kamu tahu tidak?” Ailee menggelengmendengar perkataan Dion yang belum selesai. “Ya, aku belum selesai ngomong. Ahso sweetnya jadi berkurang kan.Pokoknya secara gak langsung, sifat jujur dan berani kamu yang membuat aku jaditertarik bahkan menyukai kamu.” Ailee tampak terkejut mendengar ucapan Dion,namun raut wajahnya berhasil dia kendalikan.

            “Kamu… suka sama aku?” tanya Aileeuntuk memastikan. Dion hanya mengangguk sebagai jawaban.

            “Lagipula kalau seandainya aku gak suka sama kamu, aku juga tetap harus jadian sama kamu kan sesuai perjanjiankita.” Ucapan Dion kali ini membuat Ailee cemberut.

            “Udah, gak usah cemberut gitu kali.Itu kan seandainya, toh kenyataannya aku juga suka kan sama kamu. Dan.. akupunya satu permintaan buat kamu. Please, selamaaku masih bisa ngajarin kamu, gak usah minta bantuan orang lain ya buat ngajarin kamu. Apalagi kalau yang ngajar itu cowok. Minta tolong ke aku aja,” ucap Dion yang membuat Ailee menatapnya jahil.

            “Kenapa? Kamu cemburu ya,” tebak Ailee. Dion hanya terdiam tanpa pembelaan yang bisa dia lontarkan. Ailee punmengerti apa yang harus dia lakukan.

            “Ya udah, mulai sekarang kamu yang bertanggung jawab sebagai tentor aku. Gimana?” tawar Ailee yang langsung sajadisetujui oleh Dion.

            “Sipp! Kita mulai dari sekarang. Ayo, buka buku kamu. Kita bakalan ngebahas dua bab pelajaran hari ini.” Aileehanya bisa melongo mendengar kata-kata Dion.

            “Hah.. kamu serius?” tanya Aileeberharap Dion sedang bercanda.

            “Iya, aku serius. Aku itu tipe guru yang keras lo, siap-siap aja kamu,” jawab Dion. Mereka pun memulai hubungan mereka dengan memperakrab diri melalui proses belajar-mengajar. Tanpa mereka sadari dua pasang mata sedang memperhatikan mereka dengan perasaan gembira. Anggadan Diana telah melakukan misi mereka dengan baik. Dion harus berterima kasih kepada mereka berdua karena telah lebih dulu menyadarkannya tentang betapa penting menyelamatkan diri dari suatu penyesalan yang akan terjadi. Kini, dua insan yang awalnya saling mengedepankan gengsi dan ego masing-masing itu bersatu dalam satu lingkup perasaan nyaman bersama pahatan kejujuran.

 by : Muflihatul Awalyah


Like it? Share with your friends!

mufliha

0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *