Another Me

Sebuah cerita yang menarik untuk menemani waktu luang Sobat NgenetYuk!


1
1 point
Peluang jadi Local Host bersama Lokalpedia

NgenetYuk! Fiksi – Apa warna yang kamu sukai? Hitam, merah, putih, kuning, hijau. Banyak sekali warna yang tercipta di dunia ini. Bagaimanapun mereka ada dengan alasan menghiasi setiap nyawa yang tinggal di bumi. Aku tak pernah paham filosofi warna. Namun aku pernah melihat di sebuah

situs bahwa warna favorit berpengaruh pada sifat seseorang. Lalu bagaimana denganku yang seolah tak berwarna. Serupa air keruh yang tak ingin menunjukkan apa yang ada di dalamnya. Yang aku tahu setiap perasaaan yang kumiliki adalah kepalsuan. Dan jiwaku berkata bahwa tak ada emosi di sana. Mungkin y

ang terselip hanya kebencian dan keraguan. Dan apa itu bisa disebut emosi.

“Sarah, maaf ya rumah aku kan jauh. Aku gak bis

a ikut kerja kelompok?” Ujar Mitha sambil memilin-milin rambutnya. Gadis yang dipanggil Sarah itu hanya bungkam. Menatap tajam layar laptop di depanya. Sorot matanya begitu gelap dan dalam. Samudra fikirannya, hanya ia yang bisa membayangkan.

Sejurus kemudian ia mendongak dengan cepat. Menda

pati wajah cantik Mitha dengan usapan eyeliner di ujung mata. Satu kata untuk dia dikalangan para pemuda di sekolahnya ‘perfect’. Sesungging senyum khassegera diedarkan Sarah pada Mitha. Membuat Mitha tak sungkan lagi padanya.

“Akhirnya mengerjakan sendiri lagi, ya?” ujar Sarah pada dirinya se

ndiri.

“Yah,aku pun juga malas, jika harus berbagi pikiran dengan banyak orang,” ucapnya lagi membalas pertanyaanya sendiri.

“Kenapa aku selalu merasa dikhianati oleh orang lain?”

“Mungkin karena kau selalu menunjukkan sisi baik mu pada mereka. Hanya dengan hal itu seseorang tidak

akan bisa memahami dirimu.”

pixabay

“Ah, kau ini hanya bagian dar

i diriku, tapi kau jadi banyak bicara. Jika aku menunjukkan sisi buruk yang kumiliki. Mereka tidak akan menerimaku di kelas ini. Lihatlah mereka, sekarang lagi tak ada guru, tapi mereka malah sibuk main sendiri.Sedangkan aku hanya duduk di sini sendirian. Bepura-pura mengerjakan tugas,padahal aku sa

ngat iri dengan tingkah laku mereka.”

“Tak ada pilihan, selain harus menyendiri. Bukannya kau tak nyaman mengobrol dengan mereka. Satu-satunya teman mengobrolmu adalah aku. Apakah kau akan hidup seperti seorang penjilat?”

“Sarah?”

Seseorang melongok tepat dihadapannya. Membuat aktivitas dialog dengan bagian dirinya yang lain otomatis terhenti. Sarah menengadah ke atas, mencoba melihat siapa yang lancang mengganggu ritualnya itu.

“Udah ngerjain tugas IPA belum?” Randy masih berdiri dihadapanya menanti jawaban, tapi laptop yang dibawa di tangannya membuat Sarah mengerti maksud kedatangan cowok itu ke bangkunya.

“Silahkan, duduk pak ketua,” ucap Sarah seramah mungkin pada si ketua kelas.

pixabay

Randy tanpa basa basi segera memanfaatkan kesempatan yang diberikan Sarah. Ia duduk di samping Sarah, saat cewek itu bergeser dan mempersilahkannya. Setelah berada di posisi nyaman, ia segera membuka laptop dan menunjukkan layar Microsoft Word yang kelihatannya masih berisi setengah lembar.

“Sarah, aku kehabisan ide. Kelihatanya aku butuh bantuan sumbangan ide darimu,” ucap Randy hati-hati sambil melirik ekspresi Sarah.

“Lagi?” Gumam Sarah dalam hati, memalingkan pandangannya pada sesosok bayangan yang selalu ada di sampingnya.

Teman semu yang ia ciptakan sendiri. Seseorang yang ia ajak mengobrol tadi. Sarah memang menggambarkan bagian lain dari dirinya laksana manusia yang sangat mirip dengannya. Akan tetapi kembaranya ini terlahir dengan sangat sempurna di mata Sarah. Ia memiliki tinggi yang semampai, rambut panjang hitam tergerai. Alis mata yang tebal dan terawat. Bulu mata yang lentik, hidung mancung, bibir yang tipis namun tetap mendominasi wajahnya menjadi tambah manis. Sungguh paras yang menawan. Tubuhnya juga sangat proporsional, mirip model papan atas.

Ia adalah kelebihan yang sengaja disimpan Sarah untuk dirinya sendiri. Entah apa gunanya? Hanya Sarah yang tahu. Yang jelas ia juga iri dengan kembarannya itu. Dia menginginkan tubuh yang seperti itu, karena itulah ia menciptakan sendiri keinginannya. Meskipun hanya ia yang bisa melihatnya. Bayangan itu hanya mengedikkan bahu merespon pandangan Sarah.

annahera

“Tentu saja,” balas Sarah sambil tertawa, menunjukkan barisan gigi-gigi putihnya.

Bayangan Sarah hanya menilai itu sebuah seringaian tajam. Hanya bayangan itu yang mampu menilai semua gerak gerik kepalsuan yang diciptakan Sarah pada semua orang.

“Kenapa kamu menyiksa diri sendiri sih,” bayangan itu berujar saat menemani Sarah menuju gerbang sekolah.

Yah, hari ini pelajaran telah usai, hal yang sangat disukai Sarah adalah pulang Sekolah. Namun bukan untuk ke rumah. Andai saja ada yang mengajaknya keluar ataupun berani keluar sendiri untuk jalan-jalan, mungkin ia akan mampu menyingkirkan bayangan lain dirinya ini pergi menjauh.

Semakin ia menyendiri bayangan itu seolah mendapatkan energi lebih banyak. Lagipula rumah bukan seperti gambaran surga bagi orang-orang yang mencintai rumah layaknya istana.

“Aku tak bisa menolak apapun yang orang lain bebankan padaku,” Sarah menjawab sekenanya.

“Meskipun kamu sendiri gak mau melakukanya,” ucapnya lagi menyudutkan Sarah.

“Pernah muncul bayangan selain dirimu yang mengajakku melakukan kegiatan kejam bagi siapa saja yang membuatku kesal. Dengan membayangkannya saja aku merasa puas. Tapi aku tak punya kebaranian untuk melakukanya. Sudahlah, kau hanya bicara dan tak pernah bisa membantu,” tegas Sarah membuat bayangan itu terkejut dengan pernyataan Sarah.

Entah apa yang dipikirkan bayangan itu. Tentu Sarah dapat dengan mudah memahaminya kan?

“Itu hanya akan menjadi bumerang bagi dirimu sendiri Sarah, apa kamu akan membiarkan jiwa-jiwa kotor itu merusak kepribadianmu,” Sarah tak lagi menggubris perkataan bayangan itu. Matanya fokus memandang seseorang di balik gerbang. Pak Dion dan Ibu Widya yang baru saja menikah satu bulan lalu.

“Oh betapa tersiksanya mencintai suami orang,” kesal Sarah sambil menyembunyikan kepalan tanganya.

Pak Dion adalah guru paling muda diantara jajaran guru di sekolah Sarah. Apalagi ia mengajar Seni Budaya. Salah satu pelajaran favorit Sarah. Pak Dion yang memang humble dengan semua orang, memang sering mengajak bicara Sarah yang pendiam. Mungkin bagian diri Sarah yang tak pernah diajak bicara lebih personal mengnggap itu sebagai hal yang istimewa. Tak heran jika ia sering bermanja dan lebih mengekspresikan dirinya di depan Pak Dion.

Penerimaan Pak Dion pun lebih baik dari teman-teman Sarah yang lain. Tentu kita tak bisa menyalahkan siapapun jika perasaan tertarik itu muncul pada Sarah. Bayangan Sarah bilang, hanya keadaan yang membuatnya semakin rumit. Di satu sisi Sarah takpernah memaafkan Pak Dion yang tiba-tiba menikah dengan Bu Widya, di sisi yang lain Sarah membenci dirinya yang mencintai suami orang. Baginya hal itu adalah sesuatu yang paling menjijikan. Hal yang menyedihkan yang tak seharusnya dipungut.

pixabay

Ia tak mengerti sebuah perceraian dengan alasan orang ketiga. Jika memang telah benjanji mengikat janji suci, kenapa harus dengan mudah mengingkari. Apakah jatuh cinta itu hanya seperti memakan sayur sup favoritnya. Rasanya enak sebatas karena masih panas namun jika telah dingin akan terasa hambar dan dibuang begitu saja.

Serendah itukah penilaian orang-orang yang mengkhianati cinta. Jika tak mampu membina rumah tangga lebih baik tak usah menikah seumur hidup saja sekalian. Daripada memutuskan hubungan dua buah keluaraga. Daripada membuat status anak jadi tidakmemiliki keluarga yang utuh. Seperti itulah pandangan dari segi seorang anak yang tak bisa menerima kenyataan macam Sarah begitulah bayangan Sarah mencerna pemikiran kelam gadis itu.

“Oh jadi bagaimana dengan kasus laki-laki yang menduakan istrinya dan wanita perebut suami orang,” ucap Sarah mendebat bayanganya sendiri.

“Maksudku tak semua orang bercerai karena pihak ketiga, bisa jadi mereka memang memiliki masalah yang rumit dan sekirnya mereka akan semakin tersiksa jika terusbersama, Berpisah adalah jalan terbaik, namun jika mengenai wanita idaman lain,aku tak bisa bilang apapun, karena pendapatku selalu bertabrakan dengan pemikiranmu. Bicaralah sesukanya, aku dengan senang hati mendengarkan,” begitulah setiap hari bayangan itu bekerja sebagai pendengar setia Sarah.

“Aku sangat membenci wanita perebut suami orang. Aku juga mencintai suami orang tapi aku tak merebutnya. Apakah mereka berpikiran segitu piciknya, seperti binatang hyena yang selalu merebut milik orang lain. Apa mereka tak ingin memiliki cinta yang utuh untuk diri mereka sendiri. Andai aku bisa membalas perbuatan wanita jalang yang sudah merebut ayahku itu dengan keji. Mungkin dendamku akan terbalaskan. Aku haus dengan darah wanita itu,” bayangan Sarah terkadang tak mampu menilai pemikiran keji Sarah yang tiba-tiba muncul. Yang ia takutkan Sarah hanya mengedepankan emosi kejamnya saja.

Sedari kecil Sarah memang kerap mendengar banyak hal yang seharusnya tak ia dengar. Melihat beberapa hal yang kerap membuat pikiranya kacau. Tanpa tahu alam bawah sadarnya mereka semua kejadian itu dengan teliti tanpa celah sedikitpun. Pertengkaran orangtua mereka yang tak hanya adu mulut tapi juga perang fisik. Tatapan sinis orang–orang ataupun tetangganya yang suka usil menjadikan keluarga Sarah sebagai bahan gosip. Sikap Sarah yang terus terkungkung dan tak mampu berbaur dengan lingkungan luar. Membuatnya memiliki banyak kesalahpahaman yang tak kunjung diluruskan. Kebenaran dan kebohongan dunia ini tak bisa dicerna fikiranyadengan baik. Ia memandang dunia dengan sisi gelapnya sendiri. Pemahaman orang lain tak pernah meresap di hatinya sedikit pun karena jiwanya telah lama gelap menimbun dendam kesumat.

“Oh lihatlah Sarah sudah pulang,” nampak ayah dan seseorang di depan teras sedang duduk santai.

Ia tak mengenali wanita yang berada di samping ayahnya itu. Yang ia lihat hanya wajah sendu ibunya dibalik pintu. Ia hampir lupa kemarin ayahnya memaksa dia tinggal seminggu di rumah istrinya.

“Hai ayah siapa dia?” ucap Sarah dengan wajah berseri-seri.

“Dia ini ibu tirimu Sarah, istri ayah yang belum kukenalkan padamu,” Sarah hanya ber-oh ria dengan semburat senyum yang terus ia tunjukkan di wajahnya, ia bahkan mencium tangan wanita itu tanpa ragu. Membuat ibunya sedikit terkejut dengan respon Sarah. Ia tak menyangka bahwa Sarah akan mudah menerima wanita yang dulu sangat getol ingin memiliki ayah.

Hingga isu di tetangga menyebutkan ia menggunakan ilmu hitam. Oh Ayolah hal semacam itu bukankah sudah tidak terjadi satu atau dua kali lagi.

“Bagaimana Ayah aku sudah siap sekarang,” Sarah mencium tangan ibunya untuk berpamitan.

Di balik mata sang Ibu, Sarah dapat melihat kepedihan yang tersembunyi. Akan tetapi, ia berpura-pura tak melihatnya.

“Aku agak terkejut dengan sikapmu. Kupikir kamu akan mengusir wanita itu dari sini,” ujar bayangan itu seraya mengekor di belakang saat Sarah memasukkan barang ke dalam mobil Ayahnya.

“Hei, meski kamu bagian dari diriku sendiri, kamu belum tentu tahu apa yang dipikirkan gadis cerdik ini, hehehehe,” ujarnya tersenyum sendiri.

Ia tak sadar istri ayahnya itu tengah memperhatikan tingkah anehnya.

Rumah istrinya sangat besar tidak seperti kontrakannya yang kecil. Namun bayangan Sarah kembali melihat tatapan gelap Sarah saat melihat rumah megah itu. Sehari sudah ia menempati rumah itu. Namun tak sedetik pun wanita yang dipilih ayahnya itu mengajaknya berbicara. Tersenyum pun tidak, dasar nenek sihir begitu yang dipikirkan bayangan Sarah. Namun apa yang direncanakan Sarah. Tak ada yang pernah tahu.

“Ibu sedang apa, kulihat ibu sangat sibuk sekali, meski ada di rumah,” sapa Sarah di suatu sore saat ibu tirinya tengah menjahit sebuah bahan rajutan yang hampir jadi.

“Oh aku sedang menyelesaikan rajutan, ini sebagai contoh buat ibu-ibu yang bekerja sama saya. Supaya besok udah bisa dibuatin. Soalnya udah mulai banyak yang pesan,” balasnya sedikit canggung, tanpa menoleh sedkit pun pada Sarah. Sarah hanya manggut-manggut dengan wajah antusias. Bayanganya masih tak mengerti dengan jalan pikiran Sarah, mengapa ia begitu santai di hadapan wanita itu, akankah ia mencoba lebih akrab dengannya.

“Jadi ibu tiriku adalah seorang pengusaha ya, keren,” ucap Sarah yang disambut dengan tatapan tajam bayanganya sendiri.

buzzfeed

Sejak saat itu Sarah selangkah lebih dekat dengan ibu tirinya. Ia selalu bersikap ramah dan baik padanya. Wanita yang tak memiliki anak perempuan itu kemudian tak canggung lagi pada Sarah. Ia menyukai Sarah dan menerima keberadaanya.

“Bagaimana dengan baju ini apakah cocok sama ibu?” ujar Sandra yang tak lain adalah ibu tirinya itu pada Sarah. Mereka saat ini berada di sebuah pusat perbelanjaan. Sore itu Sandra mengajak Sarah jalan-jalan. Mereka sering menghabiskan waktu bersama-sama meski hanya sekedar melepas lelah. Seperti jogging dan shopping seperti yang mereka lakukan sekarang.

“Gimana Sarah kamu bahagia kan hidup sama Ibu,” Sarah tercekat, perhatianya pada es krim di tangan terhenti, ia memalingkan wajah dan tersenyum luwes, lalu mengangguk dengan ceria. Sandra membalas senyum Sarah dengan lebih lebar, dan melanjutkan kata-katanya.

“Gimana, ibu lebih baik kan daripada ibu kamu?” kali ini bukan hanya tercekik, Sarah membelalakkan matanya. Ia menunduk lalu tersenyum penuh arti menjawab pertanyaan Sandra.

“Tentu saja, aku lebih sayang sama ibu Sandra dari pada ibu kandungku sendiri. Ibu aku gak pernah membelikan baju-baju seperti ini,” bayangan Sarah terkejut dengan pernyataan itu. Ia masih tak bisa menilai apakah sikap yang ditunjukkan Sarah ini palsu atau tidak.

Sore itu, tak ada orang lain di rumah. Hanya ada Sarah dan Sandra. Sejak dari tadi Sarah selalu memperhatikan Sandra, mulai dari saat Sandra memasak di dapur, lalu menonton televisi di ruang tengah. Hingga menuju tangga di dekat kamarnya. Mungkin ia akan turun ke bawah untuk mengambil majalah favoritnya ruang tamu.

Saat itu bayangan Sarah hanya mampu melihat jiwa Sarah yang berubah menjadi hitam pekat. Entah apa yang telah meracuni fikiran Sarah, tiba-tiba ia muncul tepat di belakang Sandra, memukul dua kali kepala Sandra dengan batu besar yang permukaanya runcing dan mendorong keras tubuhnya hingga jatuh tergulung-gulung menyusuri anak tangga. Sampai mendarat ke bawah dengan tangan dan kaki yang lecet-lecet, sertakening dan dagu yang berlumuran darah, Sandra ternyata masih bisa mengumpulkan kesadaranya. Ia menatap Sarah yang perlahan menuruni anak tangga mendekatinya.

“Kau dasar iblis kecil,” umpat Sandra di sisa-sisa kekuatanya.

“Apa kau pikir, wanita hina sepertimu lebih berharga dari ibuku. Jangan bodoh, perasaanku gak bisa dibeli hanya dengan setelan baju baru. Kau sudah menhancurkan hidupku. Kau sudah menyakiti hati banyak orang. Kamu menyakiti hati seorang ibu yang selama ini bahkan tak pernah membalas perbuatan kejammu. Jadi siapa yang lebih pantas disebut iblis? Apa kau bilang tadi iblis? bukan aku yang iblis, iblis yang sebenarnya adalah bayangan pantulan mataku saat ini,” Sandra melihat bayangan pantulan dirinya di manik mata gadis itu, membuat tubuhnya bergetar hebat kemudian kehilangan kesadaran.

Samar-samar ia mendengar suaminya datang dan suara Sarah yang berteriak memaki-makinya. Ia tak akan bisa lupa pandangan mata Sarah yang sangat gelap dengan senyum dan seringai tajam mebuatnya bergidik ngeri.


Like it? Share with your friends!

1
1 point
putriwulan34

0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *