Kisah Yusra Mardini: Dari Suriah, Turki, Jerman hingga Olimpiade 2016 di Rio de Janiero

Olimpiade Rio de Janiero, Brazil menghadirkan kisah haru sekaligus inspiratif. Bukan soal medali emas yang berhasil diraih oleh atlet berlaga, namun kisah seorah gadis belia berusia 18 tahun, Yusra Mardini.


Peluang jadi Local Host bersama Lokalpedia
Yusra Mardini Dari Suriah hingga Rio de Janiero,Brazil (simomot.wordpress.com)[/capti

on]

NgenetYuk! Olahraga Olimpiade Rio de Janiero, Brazil menghadirkan kisah haru sekaligus inspiratif. Bukan soal medali emas yang berhasil diraih oleh atlet berlaga, namun kisah seorah gadis belia berusia 18 tahun, Yusra Mardini.

Yusra Mardini adalah satu dari ribuan atle

t yang berjuang meraih emas dia ajang olahraga multievent empat tahunan tersebut. Tidak seperti atlet lainnya yang berjuang dibawah bendera negara asalnya, ia dan 42 atlet lainnya justru berjuang dibawah bendera olimpiade. Ia tidak mewakili negaranya, Suriah. Anak kedua dari tiga bersaudara ini termasuk atlet pengungsi.

Berlaga di olimpiade merupakan impian atlet manapun di dunia ini. Termasuk gadis cantik asal Suriah ini. Sejak kecil, ia sangat menyukai berenang. Ayahnya yang memang seorang pelatih renang di Suriah membuat Mardini kecil rutin berlatih renang.

Sayangnya, perang sipil yang terus berkelanjutan di Suriah membuat ia beserta keluarganya berpindah dari satu tempat ke tempat lain.

Hingga akhirnya, ia membuat sebuah keputusan untuk ‘kabur’ meninggalkan tanah airnya. Pada tanggal 12 Agustus 2015, ia dan Sarah saudara perempuannya meninggalkan Suriah dengan menumpang sebuah kapal. Nahas, baru 30 menit perahu berjalan tiba-tiba mesin mati.

Mardini dan Sarah mengetahui, jika tidak ada yang nekat untuk meloncat ke laut, maka dipastikan mereka semua akan tenggelam. Berbekal keberanian dan kemampuan renangnya, mereka berdua melompat masuk ke laut. Bukan hanya untuk menyelamatkan nyawanya sendiri, namun mereka juga menyelamatkan lebih kurang 20 orang nyawa yang ada di perahu tersebut. Hampir empat jam mereka berenang,sampai juga mereka didaratan.

Sumber foto: liputan6.com

“Saat itu di hadapan saya semua tampak abu-abu. Rasanya seperti seluruh hidup saya lewat di mata saya,” katanya yang mengaku berenang menggunakan gaya dada sambil menarik perahu. Perjalanan panjang tersebut membawa Mardini ke Jerman, sebagai tempat kamp pengungsi sementaranya. Salah satu pertanyaan pertama yang diajukan Mardini di kota asing tersebut adalah dimana kolam renang terdekat.

Penerjemah bahasa Mesir menunjukkan sebuah kolam renang tertua di kota Berlin. Setelah empat pekan pelatihan, pelatih Mardini, Sven Spnnerkrebs, mulai membuat rencana untuk Olimpiade Tokyo pada 2020. Namun Maret tahun ini, International Olympic Committee (IOC) mengumumkan bahwa akan ada tim dari para pengungsi di Olimpiade 2016 musim panas di Rio, Brasil. Nama Mardini masuk dalam 43 pengungsi yang dicatat IOC akan bermain dalam Olimpiade 2016.

Hingga akhirnya, impiannya berlaga di pentas olimpiade terwujud. Ia akan bersaing dengan atlet dari berbagai negara di cabang renang nomor 100 meter gaya kupu-kupu. Namun ada kesedihan yang melanda Mardini. Apalagi jika bukan karena ia tidak bisa berlaga dibawah bendera negaranya, Suriah.

0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may also like

More From: Inspirasi

DON'T MISS